KABARBURSA.COM — Peta pelaksanaan program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto mulai mengerucut. Hasil survei Adidaya Institute menempatkan tiga agenda sebagai penggerak utama ekonomi riil, sekaligus menjadi ukuran awal efektivitas eksekusi kebijakan di tingkat kementerian.
Program Kampung Nelayan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dan pembangunan 3 juta rumah dinilai memiliki daya ungkit paling besar terhadap produksi dan penciptaan lapangan kerja. Ketiganya memperoleh bobot penilaian 43 persen dalam riset yang melibatkan 72 responden ahli dari berbagai latar belakang.
“Hasil riset ahli Adidaya Institute menunjukkan klaster Kampung Nelayan, KDKMP, dan program 3 juta rumah merupakan mesin utama dengan bobot penilaian 43 persen,” ungkap Ekonom Adidaya Institute Bramastyo B. Prastowo dalam rilis yang diterima KabarBursa.com, Jumat, 27 Februari 2026.
Survei tersebut memetakan delapan program unggulan ke dalam tiga peran, yakni jangkar, mesin pertumbuhan, dan stabilisator. Pemetaan itu dimaksudkan untuk membantu pemerintah menentukan prioritas jika ingin mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan.
“Tujuannya memang menentukan prioritas utama bagi Presiden Prabowo dalam melaksanakan 8 program unggulan (Big Bang dan Big Push). Supaya masyarakat juga paham mana yang masuk dalam kelompok “jangkar” untuk memperkuat legitimasi, mana yang masuk kelompok “engine” untuk mendorong pertumbuhan, dan mana yang masuk kelompok “stabilitator” untuk membangun keseimbangan di dalam masyarakat,” kata dia.
Efek Berantai ke Sektor Riil
Menurut Bram, tiga program yang masuk kategori mesin pertumbuhan akan menciptakan efek berantai ke berbagai sektor. Program 3 juta rumah, misalnya, dinilai mampu menggerakkan industri konstruksi, bahan bangunan, logistik, hingga pelaku usaha mikro kecil dan menengah.
Sementara itu, penguatan Kampung Nelayan dan KDKMP disebut akan mendorong produksi dari desa sekaligus memperluas aktivitas distribusi. “Ketika permintaan dari sektor perumahan meningkat dan suplai dari desa diperkuat secara bersamaan, maka terciptalah efek berantai yang kuat. Inilah esensi Big Push: dorongan besar dan serentak pada sektor-sektor kunci agar ekonomi tidak berjalan lambat tetapi mengalami lonjakan signifikan,” ujarnya.
Meski demikian, pelaksanaan program 3 juta rumah dinilai belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Isu yang muncul justru lebih banyak terkait dinamika kelembagaan dibandingkan perkembangan fisik program di lapangan. “Namun terkait program 3 juta rumah, para ahli mempertanyakan capaian pelaksanaan yang belum terlihat signifikan. Alih-alih menunjukan progressnya, malah isu dinamika kelembagaan yang lebih mengemuka,” ujarnya.
Adidaya Institute menilai keberhasilan agenda pertumbuhan tidak hanya bergantung pada desain program, tetapi juga kemampuan kementerian dalam mengeksekusinya. Karena itu, pemerintah diminta berani melakukan evaluasi jika pelaksanaan tidak menghasilkan dampak nyata.
“Big Bang dan Big Push hanya berhasil jika kabinet diisi delivery leaders dan bukan sekedar Menteri komunikator,” tegas dia.
Bagi lembaga tersebut, fokus pada program yang memiliki daya ungkit tinggi menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tidak berjalan lambat. Tanpa prioritas yang jelas, program unggulan berisiko hanya menjadi agenda administratif tanpa efek signifikan terhadap sektor riil.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.