KABARBURSA.COM — Setelah lebih sering terdengar lewat rencana investasi strategis dan penerbitan obligasi, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mulai diarahkan untuk menyentuh wilayah yang lebih familiar bagi investor ritel. Tahun ini, lembaga pengelola aset negara itu disebut-sebut bersiap masuk ke ekosistem pasar modal Indonesia.
Sinyal tersebut disampaikan oleh Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy. Ia mengungkapkan Danantara telah menyampaikan niatnya untuk terlibat langsung di pasar modal, meski belum sampai pada tahap penentuan waktu yang pasti.
“Belum dibicarakan kapan pastinya, tapi kata mereka tahun ini,” ujar Irvan saat dikonfirmasi KabarBursa.com, Selasa 27 Januari 2026.
Irvan mengatakan komunikasi antara Bursa Efek Indonesia dan Danantara sudah berjalan. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai skema keterlibatan Danantara di bursa, mulai dari pengelolaan portofolio hingga potensi transaksi saham.
Bagi BEI, kehadiran Danantara bukan sekadar tambahan pemain besar. Bursa berharap lembaga ini bisa masuk lebih dalam, bukan hanya sebagai penerbit obligasi, tetapi juga melalui instrumen saham. “Kita berharap transaksi Danantara tidak hanya obligasi, tapi juga saham,” kata Irvan.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Danantara dinilai memiliki struktur dan aset yang memungkinkan untuk berperan sebagai manajer portofolio aktif di pasar modal domestik. Irvan menyebut Danantara memiliki unit pengelolaan aset yang dapat dimanfaatkan untuk mengelola dana dan bertransaksi langsung di bursa.
“Danantara juga punya asset management. Kita berharap mereka mengelola portofolio, mengelola dana itu dan bisa bertransaksi di bursa kita. Jadi, tidak hanya bonds, tapi juga saham,” lanjutnya.
Masuknya Danantara ke pasar modal juga dinilai relevan dengan kondisi bursa saat ini. Dalam dua tahun terakhir, tidak ada satu pun badan usaha milik negara yang melakukan pencatatan saham perdana di BEI. Kekosongan ini sempat menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan karena IPO BUMN selama ini berperan penting dalam menjaga likuiditas dan memperluas pilihan instrumen investasi bagi publik.
BEI sendiri telah lebih dulu menyodorkan sejumlah opsi kerja sama kepada Danantara. Salah satunya adalah pembentukan Indeks Danantara serta Exchange Traded Fund berbasis saham-saham BUMN yang telah tercatat di pasar modal. Produk tersebut diharapkan bisa menjadi jembatan antara aset negara dan investor pasar modal.
Tawaran itu disampaikan langsung kepada Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani dalam pertemuan beberapa waktu lalu. Namun hingga kini, pembahasan tersebut masih berada pada tahap kajian internal.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan Danantara belum mengambil keputusan final atas tawaran tersebut. “Kita tawarkan beberapa produk ke Danantara, salah satunya Indeks dan ETF. Sampai sekarang masih didiskusikan oleh Danantara,” ujar Iman Rachman di Gedung BEI Jakarta, Senin 1 Desember 2025.
Jika rencana ini terealisasi, langkah Danantara masuk ke pasar modal akan menjadi babak baru hubungan antara pengelolaan aset negara dan bursa domestik. Bagi pasar, kehadiran pemain dengan skala aset raksasa ini berpotensi menjadi katalis likuiditas. Bagi Danantara, pasar modal bisa menjadi ruang baru untuk mengoptimalkan portofolio sekaligus memperluas basis pendanaan jangka panjang.
Menakar Bobot Danantara di Pasar Modal
Danantara tidak lahir sebagai lembaga biasa. Sejak resmi berdiri pada 24 Februari 2025, entitas ini diposisikan sebagai sovereign wealth fund Indonesia, sebuah dana kekayaan negara yang bertugas mengelola aset strategis untuk tujuan jangka panjang, berbeda dari cadangan devisa yang berada di bawah otoritas bank sentral.
Dalam fase awal, Danantara memulai kiprahnya dengan modal sekitar USD20 miliar atau setara Rp337 triliun. Dana ini menjadi landasan awal untuk membiayai proyek strategis dan investasi perdana. Namun angka tersebut belum mencerminkan skala sesungguhnya.
Berbagai proyeksi kebijakan menyebut nilai aset negara yang berpotensi dikonsolidasikan ke Danantara dapat mencapai sekitar USD900 miliar atau setara Rp15.165 triliun, jika seluruh saham negara di BUMN besar masuk dalam pengelolaannya.
Skala itu menempatkan Danantara dalam kelas yang berbeda. Dengan potensi aset ratusan miliar dolar, Danantara berpeluang menjadi salah satu sovereign wealth fund terbesar di dunia, sejajar dengan dana kekayaan negara di Asia dan Timur Tengah, sekaligus kerap disandingkan sebagai versi Indonesia dari Temasek Singapura.
Struktur pengelolaannya dibangun dari kepemilikan saham negara di perusahaan-perusahaan strategis, mulai dari sektor perbankan, energi, telekomunikasi, hingga pertambangan.
Nama-nama besar berada di dalamnya. Saham negara di Bank Mandiri, BRI, BNI, Pertamina, PLN, Telkom Indonesia, hingga holding tambang MIND ID disebut menjadi bagian dari ekosistem yang dikelola Danantara. Dengan portofolio sebesar itu, Danantara secara inheren memiliki potensi pengaruh besar terhadap arah investasi nasional dan dinamika pasar keuangan domestik.
Kondisi inilah yang membuat keterlibatan Danantara di pasar modal menjadi perhatian. Dalam dua tahun terakhir, pasar modal Indonesia tidak kedatangan satu pun IPO BUMN baru, padahal selama ini BUMN berperan sebagai jangkar likuiditas dan penopang kapitalisasi pasar. Tanpa kehadiran emiten besar, likuiditas harian bursa relatif dangkal dibandingkan pasar negara tetangga, membuat pergerakan indeks lebih rentan terhadap arus dana jangka pendek.
Dalam konteks tersebut, Danantara dipandang bukan sekadar calon emiten, melainkan calon pemain institusional dengan peran yang lebih luas. Sovereign wealth fund di banyak negara tidak selalu masuk pasar modal lewat IPO. Mereka lebih sering hadir sebagai investor publik jangka panjang, penyedia likuiditas, atau pengelola produk investasi berbasis indeks dan dana kelolaan.
Danantara diproyeksikan memiliki ruang yang sama. Opsi yang terbuka mencakup investasi langsung di saham-saham emiten terbuka, khususnya BUMN yang telah tercatat di Bursa Efek Indonesia, pembentukan produk indeks tematik berbasis BUMN, hingga penerbitan exchange traded fund yang menyasar investor institusional dan ritel. Jalur ini memungkinkan Danantara memperkuat pasar modal tanpa harus menunggu proses pencatatan saham baru.
Langkah Danantara juga tidak berhenti di dalam negeri. Pada 2026, manajemen Danantara menyatakan rencana penempatan dana hingga USD14 miliar atau sekitar Rp235,9 triliun untuk berbagai investasi, dengan porsi signifikan diarahkan ke pasar publik, baik domestik maupun global.
Di saat yang sama, Danantara telah menjalin kemitraan internasional dengan sejumlah sovereign wealth fund lain, dengan total nilai kerja sama yang disebut mencapai sekitar USD45 miliar. Salah satu kerja sama yang telah diumumkan adalah investasi bersama senilai USD4 miliar dengan Qatar Investment Authority yang menyasar sektor industri hilir, energi terbarukan, dan layanan kesehatan.
Besarnya skala dan ambisi ini membawa implikasi langsung. Pasar akan menaruh ekspektasi tinggi pada tata kelola, transparansi, dan disiplin investasi Danantara. Pengalaman global menunjukkan sovereign wealth fund yang berhasil justru yang mampu menjaga jarak tegas antara kepentingan kebijakan dan logika pasar. (Adi Subchan)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.