KABARBURSA.COM — Perusahaan semikonduktor China mencatat lonjakan pendapatan pada 2025. Angkanya bahkan tembus rekor. Dorongannya datang dari satu sumber yang sama, yakni kecerdasan buatan atau AI.
Permintaan chip untuk infrastruktur AI melonjak tajam. Di saat yang sama, pasokan chip memori global justru seret. Kombinasi ini membuat pemain chip China panen permintaan di pasar domestik.
Di balik itu, ada faktor lain yang tak kalah besar. Pembatasan ekspor teknologi dari Amerika Serikat justru mempercepat langkah Beijing membangun industri chip sendiri.
Analis dari Albright Stonebridge Group, Paul Triolo, menyebut situasi ini seperti tambahan bahan bakar bagi industri chip China.
“Pembatasan ekspor Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir menambah bahan bakar roket pada permintaan chip, memperkuat pertumbuhan dari sektor lain seperti kendaraan listrik dan pusat data AI,” kata Triolo, dikutip dari Consumer News and Business Channel, Sabtu, 4 April 2026.
Perusahaan chip terbesar China, Semiconductor Manufacturing International Corp atau SMIC mencatat pendapatan 2025 naik 16 persen menjadi USD9,3 miliar (Rp157,17 triliun). Angka ini jadi rekor baru bagi perusahaan tersebut.
Ke depan, lajunya diperkirakan belum berhenti. Pendapatan bahkan diproyeksi bisa menembus USD11 miliar (Rp185,9 triliun) pada 2026.
Di sisi lain, Hua Hong juga mencatat performa serupa. Pendapatan kuartal keempat mencapai USD659,9 juta (Rp11,15 triliun), tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Perusahaan lain, Moore Threads yang mencoba menantang dominasi Nvidia, mematok target pertumbuhan agresif. Pendapatan 2025 diperkirakan berada di kisaran 1,45 miliar hingga 1,52 miliar yuan atau setara USD209,8 juta (Rp3,54 triliun) hingga USD220 juta (Rp3,72 triliun). Angka ini melonjak 231 persen hingga 247 persen dibanding tahun sebelumnya.
Ledakan ini tidak datang dari satu sektor saja. Kendaraan listrik ikut menyumbang permintaan chip, terutama untuk jenis chip yang lebih sederhana. Namun untuk chip canggih, lonjakannya jauh lebih tinggi. “Permintaan untuk chip canggih benar-benar sangat tinggi karena AI,” ujar Triolo.
Tekanan dari Amerika Serikat juga ikut membentuk arah pasar. Pembatasan akses ke chip Nvidia membuat pemerintah China mendorong perusahaan lokal beralih ke produk dalam negeri.
Di sinilah peran perusahaan seperti Huawei mulai muncul. Meski teknologinya belum sekelas Amerika, produk mereka mulai mengisi kekosongan di pasar domestik.
Analis Counterpoint Research, Parv Sharma, melihat fenomena ini sebagai penutup celah komputasi di dalam negeri. “Meskipun China belum memimpin dalam performa GPU tertinggi, solusi dalam negeri ini mengisi celah komputasi domestik dan mendorong pendapatan ke level rekor,” katanya.
Lonjakan juga terjadi di sektor chip memori. Permintaan global tinggi, sementara pasokan terbatas. Akibatnya harga naik tajam.
ChangXin Memory Technologies mencatat pendapatan melonjak 130 persen menjadi lebih dari 55 miliar yuan atau sekitar USD8 miliar (Rp135,2 triliun).
Di segmen memori canggih seperti high-bandwidth memory, China masih tertinggal. Pasar global masih dikuasai oleh Samsung, SK Hynix, dan Micron.
Namun pembatasan ekspor ke China membuka peluang baru. CXMT mulai masuk sebagai alternatif lokal, meski teknologinya masih di bawah pesaing global.
“Setelah HBM dibatasi masuk ke China, CXMT muncul sebagai satu-satunya alternatif dalam negeri, sehingga bahkan teknologi yang lebih rendah tetap disambut antusias,” ujar analis Morningstar, Phelix Lee.
Pengembangan chip memori ini juga memberi efek lanjutan. Teknologi yang dibangun bisa jadi fondasi untuk pengembangan chip lain, termasuk GPU. Triolo bahkan menyebut pabrik chip memori di China kini berubah fungsi.
“Semua pabrik memori di China sekarang menjadi inkubator bagi teknologi proses canggih dengan cara yang sebelumnya tidak terpikirkan sebelum pembatasan ekspor Amerika Serikat pada Oktober 2022,” katanya.
Meski pendapatan melonjak, tantangan besar masih membayangi. Dari sisi teknologi, China masih tertinggal dibanding Amerika Serikat, Korea Selatan, Eropa, dan Taiwan.
Perusahaan seperti SMIC dan Hua Hong belum mampu memproduksi chip paling canggih dalam skala besar seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company.
Hambatannya jelas, yakni akses terhadap mesin produksi paling mutakhir dari Belanda masih tertutup akibat pembatasan ekspor. Upaya membangun teknologi sendiri terus berjalan, tetapi jalannya tidak mudah.
“China sedang mencoba membangun kembali sebagian besar rantai pasok semikonduktor secara mandiri, dan ini jelas sangat menantang serta membutuhkan waktu lebih lama untuk mengatasi pembatasan Amerika Serikat di sektor kunci,” kata Triolo.
Di sisi lain, pertumbuhan yang didorong oleh substitusi impor juga menyimpan risiko. Kapasitas produksi chip sederhana berpotensi berlebih jika permintaan tidak seimbang. Sharma mengingatkan, keberlanjutan pertumbuhan industri ini bergantung pada kemampuan China naik kelas.
“Keberlanjutan pertumbuhan ini akan bergantung pada apakah China mampu naik ke rantai nilai yang lebih tinggi, termasuk memori HBM canggih dan teknologi chip generasi berikutnya,” kata dia.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.