KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia melanjutkan kenaikan pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026, dengan Brent mencatat kenaikan bulanan tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini dipicu setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan pertama mereka terhadap Israel, memperluas perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka melonjak sebesar USD3,20, atau 2,8 persen menjadi USD115,77 per barel setelah ditutup 4,2 persen lebih tinggi pada hari Jumat.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS naik USD1,87, atau 1,9 persen, menjadi USD101,51 usai kenaikan 5,5 persen pada sesi sebelumnya.
Vandana Hari, dari penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights mengatakan pasar hampir sepenuhnya mengabaikan prospek penyelesaian perang melalui negosiasi.
"Terlepas dari klaim Trump tentang pembicaraan 'langsung dan tidak langsung' yang sedang berlangsung dengan Iran, dan bersiap menghadapi peningkatan tajam dalam permusuhan militer," ujar dia.
Kenaikan harga minyak hanya diredam sementara oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump bahwa ia akan menghentikan sementara serangan terhadap jaringan energi Iran hingga 6 April 2026.
SEB Research dalam sebuah catatan menyebut perpanjangan tenggat waktu Trump hingga 6 April 2026 ketika AS berpotensi melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran tidak memberikan efek yang meyakinkan.
"Pasar sekarang menuntut tanda-tanda konkret de-eskalasi, bukan hanya retorika," katanya.
Diketahui, harga Brent telah melonjak sekitar 60 persen bulan ini, lonjakan bulanan paling tajam dalam data LSEG sejak tahun 1988, melampaui kenaikan yang terjadi selama Perang Teluk 1990. Sementara itu, harga minyak mentah AS telah naik 52 persen untuk kenaikan bulanan terbesar sejak Mei 2020.
Keuntungan besar tersebut didorong oleh penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Konflik yang dilancarkan pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, menimbulkan kekhawatiran tentang jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah.
"Konflik tersebut tidak lagi terkonsentrasi di Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz, tetapi sekarang meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb — salah satu titik rawan terpenting di dunia untuk aliran minyak mentah dan produk olahan," kata analis JP Morgan yang dipimpin oleh Natasha Kaneva dalam sebuah catatan.
Ekspor minyak mentah Saudi yang dialihkan dari Selat Hormuz ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah mencapai 4,658 juta barel per hari pekan lalu, menurut data dari perusahaan analisis Kpler.
Jika ekspor dari Yanbu terganggu, minyak Saudi perlu beralih ke jalur pipa Suez-Mediterranean (SUMED) Mesir menuju Mediterania, kata analis JP Morgan.
Serangan di wilayah tersebut meningkat selama akhir pekan dan merusak terminal Salalah di Oman meskipun ada upaya untuk memulai pembicaraan gencatan senjata. (*)