Logo
>

Venezuela dan Iran: Faktor Penentu Pergerakan Minyak Global Minggu ini

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi acuan global, menguat tipis 5 sen atau 0,08 persen ke posisi USD64,18 per barel

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Venezuela dan Iran: Faktor Penentu Pergerakan Minyak Global Minggu ini
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Harga minyak bergerak nyaris datar pada perdagangan Senin, setelah mencatat penguatan pada sesi sebelumnya. Pasar merespons meredanya tensi politik di Iran, perkembangan yang mereduksi risiko terganggunya pasokan dari salah satu pemain kunci energi di Timur Tengah.

    Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi acuan global, menguat tipis 5 sen atau 0,08 persen ke posisi USD64,18 per barel pada pukul 08.58 WIB. Laporan Reuters dari Singapura menyebutkan, pergerakan tersebut mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar di awal pekan, Senin 19 Januari 2026.

    Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Februari naik 8 sen atau 0,13 persen menjadi USD59,52 per barel. Kontrak ini akan berakhir pada Selasa. Sementara itu, kontrak Maret yang lebih aktif diperdagangkan berada di level USD59,36 per barel, menguat 2 sen.

    Stabilitas harga minyak muncul setelah otoritas Iran melakukan penindakan keras terhadap gelombang unjuk rasa yang dipicu tekanan ekonomi berkepanjangan. Pejabat setempat mengklaim sekitar 5.000 orang tewas dalam rangkaian aksi tersebut, sebuah langkah yang pada akhirnya menekan eskalasi keresahan sipil di dalam negeri.

    Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menunjukkan nada yang lebih lunak dibandingkan pernyataan-pernyataan sebelumnya. Melalui media sosial, Trump menyebut Iran telah membatalkan rencana eksekusi massal terhadap para demonstran, meskipun otoritas Teheran tidak pernah secara resmi mengumumkan agenda tersebut.

    Rangkaian perkembangan ini dipandang menurunkan probabilitas aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Skenario konflik terbuka dinilai berisiko mengganggu pasokan minyak dari produsen terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

    Pelemahan harga belakangan ini juga merefleksikan koreksi dari level tertinggi beberapa bulan terakhir yang tercapai pada pekan lalu, meski minyak masih ditutup menguat pada perdagangan Jumat. Namun demikian, pergerakan aset militer AS menuju kawasan Teluk terus berlangsung, mengisyaratkan bahwa kekhawatiran geopolitik belum sepenuhnya sirna.

    Penurunan harga dipicu oleh pelepasan cepat apa yang disebut sebagai “premi Iran”, faktor yang sebelumnya mendorong harga ke puncak tertinggi dalam 12 pekan. Situasi tersebut diperkuat oleh sinyal meredanya penindakan di Iran, ditambah data persediaan minyak AS yang melonjak dan menambah tekanan dari sisi pasokan, ujar analis IG, Tony Sycamore.

    Badan Informasi Energi (EIA) Amerika Serikat pekan lalu melaporkan lonjakan persediaan minyak mentah sebesar 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari. Angka ini berlawanan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang sebelumnya memperkirakan penurunan sekitar 1,7 juta barel.

    Selain Iran, perhatian pasar turut tertuju ke Venezuela. Hal ini menyusul pernyataan Trump bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih pengelolaan industri minyak negara tersebut setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

    Menteri Energi AS mengatakan kepada Reuters, Jumat, bahwa pemerintah bergerak secepat mungkin untuk menerbitkan lisensi produksi yang lebih luas bagi Chevron di Venezuela. Meski demikian, pelaku pasar tetap skeptis terhadap peluang peningkatan produksi dalam waktu dekat.

    Semakin terang bahwa kebangkitan produksi minyak Venezuela bukan proses instan dan berpotensi memakan waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar terealisasi, tutur Sycamore.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.