KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan bergerak mendekati rekor terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
Seperti dikutip Kabarbursa.com, kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia mendorong proyeksi pelemahan lanjutan mata uang Garuda dalam beberapa bulan ke depan.
Sejumlah lembaga keuangan global memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah. MUFG Bank memproyeksikan rupiah dapat menembus level Rp17.000 per dolar AS pada kuartal pertama tahun ini.
Sementara itu, analis Barclays melihat risiko pelemahan hingga Rp17.300 per dolar sepanjang tahun berjalan.
Rupiah telah melemah dua pekan berturut-turut dan kini hanya berjarak sekitar 0,4 persen dari rekor terendah yang tercatat pada April lalu.
Sepanjang bulan ini saja, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 1 persen, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk kedua di Asia setelah won Korea Selatan.
Tekanan Fiskal Picu Kekhawatiran Investor
Kecemasan investor meningkat setelah pengumuman pada 8 Januari yang menunjukkan defisit anggaran tahun lalu hampir melampaui batas legal 3 persen terhadap produk domestik bruto.
Kondisi tersebut diperparah oleh kinerja penerimaan negara yang dinilai masih lemah. “Investor masih sangat mencermati prospek fiskal tahun ini,” ujar Lloyd Chan, analis mata uang di MUFG.
Ia menambahkan bahwa meskipun Bank Indonesia telah melakukan intervensi, ruang kebijakan yang tersedia dinilai semakin terbatas.
Upaya Bank Indonesia Menahan Pelemahan
Bank Indonesia kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing pada Rabu lalu sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas rupiah.
Namun, pelaku pasar menilai langkah tersebut menghadapi tantangan, terutama karena otoritas moneter diperkirakan masih mentoleransi depresiasi moderat nilai tukar.
BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat kebijakan pekan ini. Selain itu, bank sentral juga telah mengerahkan sejumlah instrumen stabilisasi, termasuk penyesuaian penerbitan surat berharga BI, intervensi langsung di pasar valuta asing, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Risiko Kebijakan Jangka Menengah
Ke depan, tekanan terhadap rupiah dinilai masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan fiskal. Sejumlah analis memperkirakan defisit anggaran tahun ini berpotensi kembali melebar dan mendekati, bahkan melampaui, ambang batas 3 persen seiring rencana peningkatan belanja negara di tengah pertumbuhan penerimaan pajak yang terbatas.
Analis Convera menilai rencana pemerintah memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dapat menjadi penyangga sementara bagi rupiah. Namun, ketidakpastian kebijakan tetap membayangi.
Agenda pertumbuhan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga menjadi perhatian pasar. Dorongan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berpotensi mendorong Bank Indonesia menurunkan suku bunga lebih lanjut tahun ini, yang secara historis dapat menambah tekanan pada nilai tukar.
Dalam catatan terbarunya, analis Barclays yang dipimpin Themistoklis Fiotakis menyoroti risiko kebijakan jangka menengah tersebut.
“Kami melihat adanya risiko meningkat bahwa pemerintah akan menempuh kebijakan yang relatif tidak konvensional, yang dapat memperburuk sentimen negatif terhadap rupiah,” tulis mereka, merujuk pada batas defisit fiskal 3 persen. (*)