KABARBURSA.COM – Laju pertumbuhan ekonomi China pada 2025 diperkirakan melambat ke level terendah dalam tiga tahun pada kuartal IV, seiring melemahnya permintaan domestik.
Kondisi ini memperlihatkan retakan struktural yang masih membayangi perekonomian Negeri Tirai Bambu, meskipun kinerja setahun penuh tetap berada di sekitar target resmi pemerintah.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters, produk domestik bruto (PDB) China pada kuartal IV 2025 diperkirakan tumbuh 4,4 persen secara tahunan, melambat dari 4,8 persen pada kuartal III. Jika terealisasi, ini akan menjadi laju pertumbuhan terlemah sejak kuartal IV 2022.
Meski demikian, secara tahunan ekonomi China diproyeksikan tumbuh 4,9 persen sepanjang 2025. Angka tersebut relatif sejalan dengan target Beijing di kisaran “sekitar 5 persen” dan hanya sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan 5,0 persen pada 2024. Data resmi PDB kuartal IV dan setahun penuh dijadwalkan rilis pada Senin.
Ekspor Rekor Menopang Ekonomi yang Rapuh
Sepanjang 2025, sektor manufaktur menjadi penopang utama ekonomi China. Aktivitas ekspor mendorong surplus perdagangan ke rekor hampir USD1,2 triliun. Diversifikasi pasar ekspor di luar Amerika Serikat membantu meredam dampak tarif, sekaligus membuat ekonomi China lebih tahan terhadap tekanan eksternal dibanding perkiraan awal.
Namun, ketergantungan pada permintaan luar negeri justru menyoroti kerentanan mendasar di dalam negeri. Kinerja ekspor yang kuat berbanding terbalik dengan lemahnya aktivitas domestik, yang masih dibebani krisis properti berkepanjangan, konsumsi rumah tangga yang lesu, serta tekanan deflasi yang belum mereda.
Secara kuartalan, ekonomi China diperkirakan tumbuh 1,0 persen pada kuartal IV, sedikit melambat dibandingkan 1,1 persen pada periode Juli–September.
Stimulus Terbatas dan Bayang-Bayang 2026
Prospek ekonomi China pada 2026 dipandang semakin menantang. Para ekonom memperkirakan pertumbuhan akan melambat ke sekitar 4,5 persen, dipicu meningkatnya proteksionisme perdagangan global dan ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, yang sebelumnya mengancam tarif 25 persen terhadap negara-negara yang bertransaksi dengan Iran.
Tekanan tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa Beijing perlu menggelontorkan stimulus tambahan. Bank sentral China pekan lalu mengumumkan pemangkasan suku bunga secara selektif di sejumlah sektor, serta membuka peluang penurunan rasio giro wajib minimum maupun suku bunga acuan yang lebih luas.
Meski demikian, efektivitas langkah tersebut masih dipertanyakan. Analis ANZ menilai, “pertumbuhan kemungkinan tetap lemah pada kuartal I 2026 karena paket kebijakan yang ada masih memberikan dukungan ekonomi yang terbatas.”
Tantangan Inti: Menggeser Mesin Pertumbuhan
Ketidakseimbangan struktural tetap menjadi hambatan utama dalam jangka panjang. Analis ANZ memperkirakan PDB nominal China hanya tumbuh sekitar 4,0 persen pada 2025, menjadi laju terlemah sejak 1976 jika mengecualikan periode pandemi 2020.
Sementara itu, deflator PDB tercatat negatif sejak 2023, mencerminkan ketimpangan tajam antara kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan.
“China saat ini menghadapi masalah makroekonomi berupa kelebihan pasokan. Permintaan domestik tertinggal jauh dibandingkan sisi suplai,” kata Louis Kuijs, Kepala Ekonom Asia di S&P Global Ratings.
“Situasi ini menekan pertumbuhan, menurunkan harga dan laba, serta memicu friksi global karena banyak perusahaan mengandalkan ekspor untuk keluar dari kondisi ‘involution’ di dalam negeri,” ujarnya.
Dalam pertemuan ekonomi penting pada Desember lalu, para pemimpin China berkomitmen mempertahankan kebijakan fiskal yang “proaktif” serta meningkatkan porsi konsumsi rumah tangga secara signifikan dalam lima tahun ke depan.
Namun, sejumlah kendala masih harus diatasi, mulai dari perlambatan pertumbuhan pendapatan, lemahnya jaring pengaman sosial, hingga penurunan harga properti yang menggerus kekayaan rumah tangga.
Kondisi tersebut tercermin di lapangan. Fang Ying, pekerja kurir berusia 54 tahun di Beijing, mengaku pendapatan bulanannya sekitar 8.000 yuan nyaris hanya cukup untuk menutup kebutuhan keluarga. Kegagalan usaha restoran sebelumnya juga membuatnya kehilangan sekitar 100.000 yuan.
“Tidak mudah. Saya tidak bisa bersaing dengan anak muda,” ujarnya.
“Peluang di Beijing memang banyak, tapi bukan untuk orang seperti saya,” ungkapnya, menambahkan.
Data Desember Cerminkan Dua Kecepatan Ekonomi
Data ekonomi Desember yang akan dirilis bersamaan dengan angka PDB diperkirakan mempertegas jurang antara sektor industri dan konsumsi. Penjualan ritel diproyeksikan hanya tumbuh 1,2 persen secara tahunan, terlemah sejak Desember 2022. Sebaliknya, output pabrik diperkirakan meningkat 5,0 persen, lebih tinggi dibandingkan November.
Perbedaan ini menegaskan tantangan utama China saat ini: mesin industri terus berputar, sementara konsumsi domestik masih tertinggal. (*)