Logo
>

Wall Street Pekan Depan Belum Aman, Minyak USD110 Uji Arah Pasar

S&P 500 sempat pulih, namun lonjakan minyak dan ancaman inflasi membuat pasar kembali menguji arah di tengah bayang-bayang perang Timur Tengah.

Ditulis oleh Yunila Wati
Wall Street Pekan Depan Belum Aman, Minyak USD110 Uji Arah Pasar
Kenaikan harga minyak masih menentukan pergerakan Wall Street pada pekan depan. (Foto: The Wall Street Experience)

KABARBURSA.COM – Wall Street diperkirakan akan memasuki pekan baru dengan langkah yang tidak benar-benar lega. Pasar saham Amerika Serikat memang sempat memantul pada pekan ini, tapia rah pergerakannya belum sepenuhnya lahir dari keyakinan baru.

Selama sepekan terakhir, Wall Street bergerak dari jeda sesaat di tengah pasar yang masih terpaku pada perang Timur Tengah. Lonjakan minyak dan ancaman inflasi kembali menyala. Memang di permukaan ada sinyal yang terlihat menenangkan, yaitu naiknya Indeks S&P 500 secara mingguan, memutus rentetan lima pekan pelemahan.

Namun, pemulihan itu datang setelah indeks acuan tersebut menutup kuartal terburuknya sejak 2022. Hal ini menjadi sebuah gambaran bahwa tekanan yang menumpuk sejak akhir Februari belum benar-benar pergi dari meja perdagangan.

Pusat perhatian pasar kini bergerak ke dua titik yang sama-sama sensitif, yakni inflasi dan laba perusahaan. Keduanya menjadi semacam ujian awal untuk melihat seberapa jauh perang di Timur Tengah mulai merembes ke ekonomi Amerika Serikat dan ke ruang laporan keuangan korporasi. 

Pasar tidak lagi hanya menakar arah konflik, tetapi juga mulai menghitung jejaknya di pompa bensin, di imbal hasil obligasi, dan pada akhirnya di valuasi saham.

Harga Minyak Tembus USD110

Selama lebih dari sebulan terakhir, pasar bergerak nyaris sepenuhnya mengikuti irama minyak. Ketika ancaman terhadap pasokan energi membesar, terutama terkait lalu lintas di Selat Hormuz yang sempat tersendat, harga minyak mentah AS melonjak tajam. 

Minyak bahkan sempat menembus USD110 per barel pada Kamis, setelah lebih dulu ditutup di atas USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

Kenaikan itu bukan sekadar lonjakan harga komoditas. Di Wall Street, minyak kini menjadi poros pembentuk ekspektasi yang menentukan arah inflasi, mempengaruhi pasar obligasi, dan menggeser ulang kalkulasi investor terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. 

Ketika harga energi terus naik, pasar langsung membaca satu pesan sederhana bahwa ruang bagi penurunan suku bunga semakin sempit.

Efek pertama yang paling mudah terbaca ada pada harga bensin. Rata-rata harga bensin di Amerika Serikat sudah menembus USD4 per galon, level yang belum terlihat lagi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. 

Itu sebabnya laporan indeks harga konsumen atau CPI yang dijadwalkan rilis 10 April menjadi salah satu agenda paling menentukan pekan depan.

Menanti Rilis CPI AS

Berdasarkan jajak pendapat Reuters yang dikutip dalam data pengguna, CPI Maret diperkirakan naik 0,9 persen secara bulanan. Sementara inflasi inti atau core CPI, yang mengecualikan energi dan pangan, diproyeksikan naik 0,3 persen. 

Perbedaan dua angka ini penting karena memperlihatkan bahwa guncangan utama diduga datang dari energi, terutama bahan bakar kendaraan. Sementara, tekanan yang lebih luas ke barang dan jasa lain kemungkinan baru akan terbaca bertahap.

Di titik inilah pasar mulai masuk ke fase yang lebih rumit. Jika CPI naik tinggi tetapi masih didominasi energi, pasar akan membaca bahwa perang sudah mulai mengirimkan tagihannya. 

Namun, jika lonjakan itu merembet lebih jauh ke komponen lain, maka kekhawatiran tidak lagi berhenti pada minyak. Kekhawatiran ini akan mulai masuk ke inti inflasi yang lebih lengket dan lebih sulit dijinakkan.

Risikonya langsung terhubung ke kebijakan moneter. Sebelumnya, harapan penurunan suku bunga menjadi salah satu pilar utama optimisme pasar saham Amerika. Kini, dengan inflasi yang berpotensi memanas lagi, pasar disebut telah banyak mencoret peluang pemangkasan suku bunga tahun ini. 

Artinya, fondasi yang selama ini menopang narasi bullish mulai goyah, dan digantikan oleh kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama.

Risalah Rapat The Fed

Selain CPI, pasar juga akan mencermati risalah rapat The Fed bulan Maret. Dokumen ini penting bukan karena memberikan keputusan baru, tetapi karena dapat memperlihatkan seberapa serius bank sentral memandang ancaman inflasi ketika konflik baru saja mulai meningkat. 

Pasar juga akan menerima data pertumbuhan ekonomi kuartal IV yang diperbarui, meski fokus utamanya tetap tertuju pada arah harga dan respons kebijakan moneter.

Di saat yang sama, musim laporan keuangan mulai mengetuk pintu Wall Street. Pekan depan memang baru menjadi pembuka, dengan beberapa nama seperti Delta Air Lines dan Constellation Brands dijadwalkan merilis kinerja. 

Namun pasar akan membaca laporan-laporan awal ini bukan hanya dari sisi laba, melainkan dari komentar manajemen soal biaya energi, permintaan konsumen, margin, dan panduan bisnis ke depan.

Berharap pada Indeks S&P 500

Untuk saat ini, ekspektasi pasar terhadap laba kuartal I masih cukup tinggi. Perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan membukukan pertumbuhan laba 14,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menurut LSEG IBES dalam data yang disampaikan pengguna. 

Proyeksi ini menjadi bantalan penting karena memberi harapan bahwa fundamental korporasi masih cukup kuat untuk menahan tekanan geopolitik dan inflasi.

Tetapi di balik proyeksi yang tampak cerah itu, pasar tetap menghadapi lapisan ketidakpastian lain. Tahun ini, saham AS sudah lebih dulu dibebani kecemasan terhadap disrupsi kecerdasan buatan dan pelemahan di pasar kredit privat. 

Ketika faktor-faktor itu bertemu dengan perang dan lonjakan minyak, Wall Street tidak lagi menghadapi satu sumber guncangan, melainkan beberapa tekanan yang datang bersamaan.

Itu terlihat dari posisi S&P 500 yang masih turun hampir 6 persen dari rekor tertingginya pada akhir Januari. Penurunan ini menunjukkan bahwa reli besar yang sempat mendorong pasar ke puncak telah kehilangan tenaga.

Kini investor membutuhkan alasan baru untuk kembali membeli dengan agresif, sementara alasan yang muncul justru lebih banyak berupa risiko tambahan.

Prediksi Wall Street Pekan Depan

Dengan begitu, perdagangan Wall Street pekan depan kemungkinan tidak akan ditentukan oleh satu kabar tunggal. Pasar akan bergerak di antara angka inflasi, arah minyak, notulen The Fed, dan kalimat-kalimat dalam laporan laba perdana. 

Jika CPI terlalu panas, tekanan bisa kembali menghantam saham. Jika laporan awal emiten mulai memperlihatkan beban biaya yang naik, kekhawatiran pasar bisa meluas dari geopolitik ke fundamental perusahaan.

Pada akhirnya, Wall Street sedang berdiri di fase ketika pasar tidak lagi hanya bertanya apakah perang akan mereda, tetapi juga seberapa dalam bekasnya sudah masuk ke ekonomi riil. Dari harga bensin hingga proyeksi laba, dari minyak hingga obligasi, seluruh jalur sentimen kini saling terhubung. 

Itulah sebabnya pemantulan pasar pekan lalu belum cukup untuk disebut sebagai titik balik, karena yang sedang diuji sekarang bukan sekadar daya tahan indeks, melainkan daya tahan seluruh narasi optimisme pasar Amerika.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79