KABARBURSA.COM – Akhir pekan ini ditutup Wall Street dengan percaya diri. Pasar Saham Amerika Serikat ini menemukan alasan baru untuk lebih nge-gas setelah beberapa waktu tertekan inflasi dan konflik Timur Tengah.
Di akhir pekan, Dow Jones Industrial Average resmi mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang Sejarah, usai melesat 294 poin atau 0,58 persen ke level 50.579. Sementara itu, S&P 500 naik 0,37 persen dan Nasdaq Composite menguat 0,19 persen.
Reli ini sekaligus memperpanjang napas bullish Wall Street. S&P 500 kini membukukan delapan pekan penguatan beruntun dan menjadi reli mingguan terpanjang sejak akhir 2023.
Bisa dikatakan, pasar sepertinya mulai nyaman mengambil risiko setelah muncul sinyal bahwa tensi antara Amerika Serikat dan Iran sedikit melunak. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, mengatakan pembicaraan menuju kesepakatan dengan Iran mulai menunjukkan kemajuan meski jalan menuju kompromi masih panjang.
Bagi Wall Street, kabar itu cukup untuk meredakan sebagian kecemasan yang selama ini membayangi pasar energi dan inflasi global.
Chief Investment Officer Ocean Park Asset Management James St. Aubin, mengatakan konflik Timur Tengah selama ini menjadi salah satu penghambat terbesar reli pasar saham. Namun, ketika muncul tanda-tanda diplomasi mulai bergerak, investor langsung merespons positif.
“Musim laporan keuangan terlihat sangat bagus dan data ekonomi juga cukup solid. Secara fundamental, pasar masih terlihat kuat,” ujarnya.
Nvidia Turun Dua Persen, Qualcomm Up 12 Persen
Di balik penguatan Wall Street, saham-saham teknologi masih menjadi motor utama. Meski Nvidia turun hampir 2 persen setelah reli panjang sebelumnya, sektor semikonduktor tetap melaju.
Indeks Philadelphia Semiconductor naik ditopang lonjakan Qualcomm sebesar 12 persen. Kenaikan itu muncul setelah pasar semakin agresif memburu saham artificial intelligence dan infrastruktur komputasi.
Saham produsen komputer juga mendadak terbang setelah Lenovo melaporkan lonjakan pendapatan kuartalan sebesar 27 persen, jauh di atas ekspektasi pasar.
Dell Technologies langsung melejit 17 persen hingga mencetak rekor tertinggi baru. Sementara HP Inc ikut melonjak 15 persen.
Momentum tersebut memperlihatkan bahwa belanja teknologi global masih sangat kuat, terutama di tengah ledakan permintaan perangkat dan server berbasis AI.
Tidak hanya teknologi, saham sektor kesehatan, utilitas, dan industri juga ikut menopang reli Wall Street. Dari 11 sektor utama S&P 500, sembilan di antaranya ditutup di zona hijau.
Yield Obligasi AS Turun
Di saat yang sama, pasar obligasi mulai memberi ruang bernapas bagi saham. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke level 4,558 persen setelah sebelumnya sempat melonjak tajam pekan ini.
Penurunan yield tersebut dianggap penting karena pasar sebelumnya khawatir lonjakan imbal hasil obligasi akan menekan valuasi saham dan mempersempit ruang kenaikan indeks.
“The bond market seems to be cooling off,” kata St. Aubin.
Kevin Warsh Resmi jadi Ketua The Fed
Investor juga mulai mencermati arah baru Federal Reserve setelah Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua The Fed. Ia langsung menghadapi tantangan besar karena lonjakan harga bensin akibat konflik Iran masih berpotensi memicu inflasi baru dan menekan konsumsi masyarakat AS.
Meski begitu, untuk sementara Wall Street memilih fokus pada kabar baik.
Volume transaksi di bursa AS memang sedikit lebih rendah dibanding rata-rata 20 hari perdagangan terakhir. Namun jumlah saham yang naik masih jauh lebih banyak dibanding yang turun.
Di New York Stock Exchange, saham yang menguat unggul hampir dua banding satu dibanding saham yang melemah. Nasdaq bahkan mencatatkan 131 saham mencetak posisi tertinggi baru.(*)