KABARBURSA.COM – Kinerja PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada kuartal I-2026 terjaga dengan baik. Laba bersih berada di angka Rp5,66 triliun, naik 5,20 persen secara tahunan. Analis pun memberi target harga yang tinggi pada sahamnya.
Pada laporan keuangan yang dirilis melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dorongan utama terjaganya laba BNI datang dari naiknya pendapatan bunga. Dalam rilis tercatat, pendapatan bunga BNI saat ini ada di Rp18,99 triliun. Angka tersebut naik dari Rp16,71 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di saat yang sama, beban bunga juga meningkat menjadi Rp7,97 triliun dari Rp6,87 triliun. Dengan begitu, pendapatan bunga bersih, yang merupakan selisih dari pendapatan bunga dan beban bunga, sebesar Rp11,02 triliun. Angkanya pun naik dari Rp9,83 triliun.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa ekspansi kredit yang dilakukan bank masih mampu menghasilkan margin bunga yang lebih tinggi secara nominal.
Sementara itu, laba operasional BNI juga tercatat meningkat menjadi Rp6,90 triliun dari Rp6,55 triliun. Untuk laba sebelum pajak ikut terkerek menjadi Rp6,88 triliun dari Rp6,51 triliun.
Penyaluran Kredit BNI
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BBNI mencapai Rp919,31 triliun per Maret 2026. Angka ini juga meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar Rp899,53 triliun.
Pada saat yang sama, dana pihak ketiga ikut bertumbuh menjadi Rp1.100,58 triliun dari Rp1.040,83 triliun. Angka-angka ini menunjukkan likuiditas yang tetap terjaga di tengah kebutuhan pembiayaan yang meningkat.
Pertumbuhan kredit dan dana ini berjalan beriringan dengan ekspansi ukuran neraca. Pertama, total aset. Angkanya meningkat menjadi Rp1.426,75 triliun dari Rp1.362,05 triliun. Kedua, liabilitas yang juga naik menjadi Rp1.260,84 triliun dari Rp1.185,71 triliun.
Di sisi lain, ekuitas tercatat mengalami penurunan menjadi Rp165,91 triliun dari Rp176,33 triliun.
Konsensus Analis dan Target Harga
Pada level profitabilitas per saham, laba per saham dasar dan dilusian terdongkrak menjadi Rp152 dari Rp144 pada kuartal I-2025. Kenaikan ini menjaga konsistensi pertumbuhan yang terjadi di level laba bersih, sekaligus memperlihatkan distribusi keuntungan yang lebih besar terhadap pemegang saham.
Jika ditarik lebih jauh, data konsensus analis menunjukkan ekspektasi pertumbuhan yang masih berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Untuk tahun 2026, laba bersih diproyeksikan mencapai Rp21,59 triliun. Angkanya meningkat dari estimasi 2025 sebesar Rp20,04 triliun. Dan, tren ini sepertinya berlanjut ke 2027, dengan proyeksi laba bersih di angka Rp23,60 triliun.
Di sisi pendapatan, konsensus memperkirakan revenue BBNI akan relatif stabil di kisaran Rp69,54 triliun pada 2026, sebelum kemudian meningkat ke Rp75,04 triliun pada 2027. Laba operasional juga diproyeksikan naik dari Rp24,39 triliun pada 2025 menjadi Rp26,65 triliun pada 2026 dan Rp29,37 triliun pada 2027.
Rekomendasi: Buy
Pandangan analis terhadap saham ini juga tercermin dari komposisi rekomendasi. Dari total 35 analis, sebanyak 30 memberikan rekomendasi beli, empat menahan, dan satu menjual.
Konsensus harga target berada di Rp5.003, dengan batas bawah Rp3.500 dan batas atas Rp5.700. Sementara harga saat ini berada di Rp3.790.
Selisih antara harga pasar dan target rata-rata tersebut menunjukkan ruang pergerakan yang masih terbuka berdasarkan proyeksi analis. Dengan data tersebut, kinerja kuartal I-2026 menjadi fondasi awal yang memperlihatkan kesinambungan pertumbuhan, yang didorong oleh ekspansi kredit, peningkatan pendapatan bunga, serta dukungan likuiditas dari pertumbuhan dana pihak ketiga.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.