Logo
>

Saham KIJA Ambrol Sejak Awal Tahun, Investor Terus Menyusut

Tekanan harga berlanjut sejak awal tahun seiring berkurangnya jumlah investor dari KIJA

Ditulis oleh Syahrianto
Saham KIJA Ambrol Sejak Awal Tahun, Investor Terus Menyusut
Pergerakan saham KIJA menunjukkan tren melemah di tengah penurunan jumlah investor sejak awal 2026. (Foto: Dok. Kawasan Industri Jababeka)

KABARBURSA.COM – Harga saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) turun sejak awal tahun 2026 atau year to date (ytd). Jumlah investor juga berkurang dalam tiga bulan terakhir.

Data perdagangan yang dihimpun Kabarbursa.com, menunjukkan saham KIJA berada di level 186 hingga akhir perdagangan sesi I, Rabu, 29 April 2026 per 12.20 WIB. Saham sempat mencapai level tertinggi 190 dan terendah 184 dalam rentang perdagangan hari ini.

Volume transaksi tercatat 26,68 juta saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata volume 126,91 juta saham. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp5 miliar dengan frekuensi 1.695 kali dan harga rata-rata di level 187.

Secara tahun berjalan, saham KIJA sudah turun 24 poin atau melemah 11,43 persen. 

Data historis pergerakan harga menunjukkan saham sempat berada di level lebih tinggi pada awal Januari 2026. Pergerakan kemudian turun hingga Maret sebelum berada di kisaran yang lebih sempit pada April. Pola ini terlihat dari grafik harga dalam periode tiga bulan terakhir.

Pemegang Saham KIJA Menyusut

Di saat yang sama, jumlah pemegang saham KIJA tercatat menurun sejak awal tahun. 

Per 31 Januari 2026, jumlah investor mencapai 36.070. Angka tersebut turun menjadi 33.330 pada Februari dan kembali menyusut menjadi 32.736 pada Maret 2026.

Penurunan ini terjadi setelah sempat terjadi lonjakan pada akhir 2025. Pada 31 Desember 2025, jumlah pemegang saham tercatat 22.588, naik dari 17.506 pada November 2025. 

Kenaikan berlanjut hingga Januari 2026 sebelum akhirnya mengalami penurunan bertahap.

Dari sisi kepemilikan, mayoritas saham KIJA dimiliki masyarakat non-warkat sebesar 59,23 persen atau setara 12,33 miliar saham. Pemegang saham individu terbesar adalah Mu Min Ali Gunawan dengan kepemilikan 21,09 persen atau sekitar 4,39 miliar saham.

Investor institusi asing juga tercatat dalam struktur kepemilikan. Islamic Development Bank memiliki 11,53 persen saham, UBS AG Singapore Branch sebesar 3,84 persen, serta Government of Norway sebesar 1,24 persen.

Selain itu, Intellitop Finance Limited memiliki 3,78 persen saham, Aida Garnida sebesar 2,79 persen, dan PT KMI Cloud Indonesia sebesar 2,32 persen. Reksa Dana Pratama Dana Dinamis Saham tercatat memiliki 2,27 persen saham.

Ultimate beneficial owner KIJA tercatat Setyono Djuandi Darmono dan Aida Garnida. Setyono juga menjabat sebagai Presiden Direktur bersama jajaran direksi lainnya.

Adapun Kawasan Industri Jababeka bergerak di sektor properti dan kawasan industri. Kegiatan usaha mencakup pengembangan kawasan industri, perumahan, apartemen, gedung perkantoran, serta fasilitas pendukung seperti pengolahan air dan infrastruktur utilitas.

Perusahaan beroperasi di sejumlah wilayah seperti Bekasi, Pandeglang, Jakarta, hingga Kendal. Operasional komersial telah berjalan sejak tahun 1990.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.