KABARBURSA.COM – Perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 13 Mei 2026, menjadi arena tekanan jual besar-besaran. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 124 poin atau turun 1,81 persen ke level 6.734 setelah sejak awal sesi dan terus bergerak di zona merah.
Pasar sempat mencoba bertahan ketika indeks membuka perdagangan di area 6.787. Namun tekanan jual yang datang bertubi-tubi membuat IHSG perlahan tergelincir hingga menyentuh level terendah 6.726, sebelum akhirnya parkir di area bawah pada jeda siang.
Tekanan paling besar datang dari saham-saham yang baru saja dikeluarkan dari indeks MSCI, terutama PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kedua saham ini langsung menjadi pusat distribusi besar di pasar dan menyeret arah pergerakan IHSG sepanjang sesi pertama.
AMMN menjadi salah satu saham dengan koreksi terdalam setelah ambles 11,30 persen ke level 3.610. Tekanan jual terlihat agresif sejak awal perdagangan, seiring pasar merespons keluarnya saham ini dari indeks MSCI yang selama ini menjadi acuan banyak investor institusi global.
Situasi serupa juga terjadi pada TPIA. Saham petrokimia milik Grup Barito itu merosot 14,26 persen ke level 4.330 dan menjadi top losers utama di indeks Kompas100. Pelemahan dua saham berkapitalisasi besar tersebut langsung memberi beban signifikan terhadap laju IHSG karena bobotnya yang besar di pasar.
Aksi jual tidak hanya terjadi di AMMN dan TPIA. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) ikut terseret turun 11,11 persen ke level 840. Koreksi tajam saham-saham grup konglomerasi ini membuat tekanan pasar terasa menyeluruh, terutama di sektor bahan baku dan infrastruktur.
Data perdagangan menunjukkan sektor bahan baku menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah jatuh 3,86 persen ke level 1.976. Infrastruktur juga terkoreksi 3,05 persen ke level 2.054. Kali ini, tekanan terbesar terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi motor penguatan indeks.
RAJA, BULL, dan DEWA Mampu Bertahan
Di tengah tekanan tersebut, sebagian saham justru masih mampu bertahan dan bergerak melawan arus pasar. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menjadi saham dengan penguatan terbesar di indeks Kompas100 setelah naik 6,95 persen ke level 4.460.
Pergerakan RAJA disusul PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) yang menguat 5,86 persen ke level 470 dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang naik 4,64 persen menjadi 496. Ketiga saham ini menjadi penahan tekanan ketika mayoritas saham lain justru bergerak turun.
Satu-satunya sektor yang masih mampu bertahan hijau adalah transportasi yang naik 3,36 persen ke level 2.111. Sektor industri juga masih mencatat kenaikan 1,84 persen menjadi 1.927, ketika mayoritas sektor lain bergerak melemah.
Sementara itu, sektor konsumer primer turun 2,04 persen menjadi 1.029, teknologi melemah 1,01 persen ke level 7.373, sektor keuangan turun 0,75 persen menjadi 1.355, dan energi terkoreksi 0,73 persen ke level 3.443.
411 Saham Anjlok
Tekanan jual yang terjadi pada sesi pertama juga membuat breadth market memburuk. Sebanyak 411 saham bergerak turun, jauh lebih banyak dibanding 280 saham yang menguat, sementara 268 saham lainnya stagnan.
Aktivitas transaksi tetap ramai di tengah koreksi pasar. Frekuensi perdagangan mencapai 1,46 juta kali dengan nilai transaksi Rp10,26 triliun. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat berada di level Rp11,84 kuadriliun.
Pasar kini menunggu apakah tekanan jual pasca rebalancing MSCI masih akan berlanjut pada sesi kedua atau mulai mereda setelah aksi distribusi besar di saham-saham tertentu mulai terserap pasar.
Sesi II, Waspadai Area Support 6.755-6.730
Tekanan terhadap IHSG terlihat belum benar-benar mereda memasuki sesi berikutnya. Dari sisi teknikal harian, mayoritas indikator masih menunjukkan dominasi bearish yang cukup kuat, bahkan beberapa indikator mulai masuk area oversold akibat tekanan jual yang sangat agresif dalam dua hari terakhir.
Indikator teknikal memperlihatkan rangkuman “Sangat Jual” dengan tidak ada sinyal beli sama sekali. RSI berada di level 30,5 yang sudah mendekati area jenuh jual, sementara Stochastic RSI bahkan menyentuh level 0 yang menandakan tekanan jual sudah sangat ekstrem dalam jangka pendek.
Kondisi ini biasanya menggambarkan pasar sedang berada dalam fase panic selling atau distribusi besar.
Namun tekanan belum sepenuhnya selesai. MACD masih berada di area negatif cukup dalam di level minus 148,63 dengan arah momentum yang masih menurun. ADX di level 42,47 juga menunjukkan tren turun yang sedang berlangsung masih kuat, bukan sekadar koreksi ringan.
Artinya, peluang terjadinya rebound teknikal memang mulai terbuka karena indikator sudah terlalu jenuh jual, tetapi arah tren utama IHSG sejauh ini masih berada dalam tekanan turun. Rebound yang muncul berpotensi lebih bersifat technical rebound jangka pendek jika belum ada perubahan arus dana besar di pasar.
Dari sisi moving average, situasi IHSG juga belum nyaman. Posisi indeks saat ini berada di bawah seluruh rata-rata pergerakan penting mulai dari MA5, MA10, MA20 hingga MA200. Bahkan MA20 berada di area 7.204 sementara IHSG kini bergerak di kisaran 6.700-an.
Jarak yang cukup lebar ini menunjukkan tren pelemahan sedang dominan dan pasar belum berhasil membangun struktur pemulihan.
Area yang paling perlu diwaspadai kini berada di sekitar support 6.755 hingga 6.730. Pada sesi pertama tadi, IHSG sempat turun ke 6.726 dan itu membuat area bawah mulai diuji cukup serius.
Jika tekanan jual kembali membesar dan level 6.726 pecah, ruang penurunan berikutnya mulai mengarah ke area 6.650 bahkan 6.540 yang terlihat pada support pivot S2 hingga S3.
Sebaliknya, jika IHSG mampu bertahan di atas area 6.730–6.755 dan mulai terjadi penyerapan jual, indeks berpeluang mencoba rebound menuju resistance terdekat di area 6.868 hingga 6.970. Namun selama IHSG masih bergerak di bawah area pivot 6.866, tekanan pasar secara umum masih cenderung berat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.