Logo
>

OJK dan BEI Respons MSCI: Koreksi Pasar Wajar di Tengah Reformasi Bursa

OJK dan BEI menyebut koreksi usai review MSCI sebagai dampak jangka pendek reformasi pasar modal dan transparansi free float.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
OJK dan BEI Respons MSCI: Koreksi Pasar Wajar di Tengah Reformasi Bursa
Dari kiri, Direktur Utama PT Kliring Penjamin Efek (KPEI) Iding Pardi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dan Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat saat melakukan konferensi pers merespons review indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) di Gedung BEI, Jakarta pada Rabu, 13 Mei 2026. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM – Otoritas Jasa Keuangan atau OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengklaim hasil review indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) merupakan konsekuensi jangka pendek dari reformasi besar-besaran yang tengah dilakukan untuk memperkuat transparansi dan integritas pasar modal Indonesia.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan langkah reformasi yang digulirkan sejak Februari 2026 telah diakui oleh investor global dan penyedia indeks internasional. Menurut dia, hasil review MSCI menunjukkan data dan keterbukaan informasi yang disediakan regulator kini digunakan sebagai acuan dalam menentukan komposisi indeks.

“Seluruh peningkatan transparansi dan integritas yang dihadirkan itu terbukti pada akhirnya di-acknowledge dan kemudian digunakan secara baik oleh investor dan juga indeks provider global,” kata Hasan dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Hasan menjelaskan OJK bersama Bursa Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia telah meluncurkan delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal. Program prioritas pertama difokuskan pada peningkatan transparansi struktur kepemilikan saham emiten.

Salah satu kebijakan penting adalah kenaikan ketentuan minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen. OJK juga telah membuka data kepemilikan saham hingga di atas 1 persen, menampilkan klasifikasi investor secara lebih rinci, serta menerbitkan informasi high shareholding concentration untuk menunjukkan tingkat konsentrasi kepemilikan pada saham tertentu.

Dengan data yang semakin terbuka, kata Hasan, MSCI dapat menilai porsi free float secara lebih akurat. Konsekuensinya, sejumlah saham yang sebelumnya masuk indeks dikeluarkan atau mengalami penurunan bobot karena ternyata tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan.

“Ini menjadi bagian dari konsekuensi jangka pendek dari proses reformasi integritas yang kita hadirkan,” ujarnya.

Meski demikian, Hasan menegaskan reformasi ini ditujukan untuk menciptakan fondasi baru bagi pasar modal Indonesia. Ia mengakui akan ada short term pain berupa penyesuaian harga saham dalam jangka pendek, tetapi manfaat jangka panjangnya dinilai jauh lebih besar.

Long term gain yang akan kami kejar mulai titik basis baru yang akan kita hadapi,” kata Hasan.

Menurut dia, hasil review MSCI justru memperkuat keyakinan regulator bahwa arah reformasi sudah berada di jalur yang tepat. Hal ini tercermin dari tidak adanya perubahan status Indonesia yang tetap berada dalam kategori emerging market.

“Pasar kita tetap dinilai baik, kredibel dan prospektif. Terbukti tidak ada penurunan klasifikasi pasar,” ujar Hasan.

Hasan menambahkan, OJK telah berkomunikasi intensif dengan berbagai investor global, termasuk melalui forum Investor Advisory Group yang akan digelar secara virtual setiap bulan untuk menyerap masukan dari pelaku pasar internasional.

Dari sisi perdagangan, OJK mencatat hingga pukul 10.00 WIB IHSG memang sempat melemah sekitar 1 persen hingga 1,5 persen. Namun, aktivitas transaksi dinilai masih normal. Tidak ada saham yang menyentuh auto rejection bawah dan tidak terlihat tekanan jual berlebihan.

“Ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah,” katanya.

Secara valuasi, Hasan menilai pasar saham Indonesia kini semakin menarik. Price to earnings ratio (PER) IHSG berada di kisaran 16 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata bursa regional dan jauh di bawah level saat IHSG mencapai rekor tertinggi pada pertengahan Januari 2026.

Untuk menjaga stabilitas pasar, OJK tetap memberlakukan sejumlah kebijakan seperti buyback saham tanpa persetujuan RUPS, penundaan implementasi short selling hingga September 2026, mekanisme trading halt berjenjang, dan asymmetric auto rejection dengan batas auto rejection bawah maksimum 15 persen.

Sementara itu, Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan hasil review MSCI menghilangkan salah satu faktor ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar.

“Dengan apa yang disampaikan oleh MSCI hari ini mengurangi satu unsur ketidakpastian. Tentu itu adalah sesuatu yang positif bagi pasar,” kata Jeffrey.

Ia menjelaskan pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menghadapi banyak tekanan, mulai dari gejolak geopolitik di Timur Tengah, fluktuasi harga komoditas, hingga pergerakan nilai tukar. Dengan terbitnya hasil review MSCI, pasar kini memiliki kepastian baru yang dapat menjadi titik awal pertumbuhan berikutnya.

“Ini akan menjadi basis bagi kita untuk bertumbuh ke depan,” ujar Jeffrey.

OJK dan BEI meyakini reformasi yang tengah berjalan akan menghasilkan pasar modal Indonesia yang lebih transparan, likuid, dan dipercaya investor domestik maupun global. Dengan fondasi baru tersebut, pasar modal nasional diharapkan semakin modern, tangguh, dan atraktif untuk investasi jangka panjang.

Diberitakan sebelumya, pagi tadi MSCI resmi mengumumkan hasil Semi-Annual Index Review (SAIR) Mei 2026 yang akan efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Dalam review terbaru tersebut, Indonesia kembali menjadi sorotan karena tidak memperoleh tambahan saham baru maupun kenaikan klasifikasi saham pada MSCI Global Standard Index, sementara ada 18 emiten yang dikeluarkan dari indeks.

Berdasarkan dokumen resmi MSCI Global Standard Indexes tertanggal 12 Mei 2026 di Geneva, Indonesia mencatat nol penambahan dan enam penghapusan saham pada MSCI Global Standard Index.

“Perubahan konstituen MSCI Global Standard Indexes akan berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026,” tulis MSCI dalam dokumen resminya, Rabu, 13 Mei 2026.

Enam saham Indonesia yang keluar dari MSCI Global Standard Index terdiri atas:

  1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
  2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
  3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
  4. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
  5. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
  6. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Tidak adanya tambahan saham baru sekaligus menunjukkan MSCI masih mempertahankan status freeze terhadap Indonesia. Kondisi tersebut membuat tidak ada inclusion baru maupun kenaikan klasifikasi saham Indonesia ke indeks yang lebih tinggi.

Selain pada indeks standard cap, tekanan juga terjadi di MSCI Global Small Cap Indexes. Dalam dokumen MSCI Global Small Cap Indexes, Indonesia hanya mencatat satu penambahan dan 13 penghapusan saham.

Satu-satunya saham Indonesia yang masuk ke MSCI Global Small Cap Index adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), setelah turun klasifikasi dari MSCI Global Standard Index.

Sementara itu, 13 saham Indonesia yang keluar dari MSCI Global Small Cap Index terdiri atas:

  1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
  2. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
  3. PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK)
  4. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
  5. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
  6. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)
  7. PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
  8. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
  9. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN)
  10. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
  11. PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC)
  12. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
  13. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".