KABARBURSA.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak otomatis meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Kondisi global saat ini justru berpotensi menekan permintaan komoditas ekspor nasional meski produk Indonesia menjadi relatif lebih murah di pasar internasional.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang dipicu ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia.
“Secara teori, pelemahan mata uang domestik bisa membuat produk ekspor Indonesia terlihat 'lebih murah' dan kompetitif di pasar global. Namun, dalam situasi global saat ini, penguatan DXY dipicu oleh kecemasan geopolitik dan prospek suku bunga tinggi, yang biasanya diikuti oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama (seperti China, AS, dan Eropa),” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Kamis, 28 Mei 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi mengurangi permintaan terhadap sejumlah komoditas unggulan Indonesia.
“Akibatnya, volume permintaan terhadap komoditas ekspor andalan Indonesia (seperti batu bara dan CPO) justru berisiko melandai, sehingga potensi keuntungan dari pelemahan kurs tidak dapat terkapitalisasi secara optimal,” katanya.
Tekanan Datang dari Jalur Perdagangan
Wahyu menjelaskan dampak penguatan dolar terhadap Indonesia tidak hanya terjadi melalui arus modal, tetapi juga melalui jalur perdagangan internasional.
Menurut dia, sebagian besar transaksi perdagangan global masih menggunakan dolar AS sebagai mata uang acuan sehingga perubahan nilai tukar langsung mempengaruhi biaya transaksi lintas negara.
Salah satu dampak yang muncul adalah meningkatnya biaya impor energi. Indonesia yang berstatus sebagai negara importir neto minyak dinilai menghadapi tekanan ketika harga minyak dunia naik bersamaan dengan penguatan dolar AS.
“Indonesia saat ini berstatus sebagai negara importir neto minyak (net oil importer). Ketika harga minyak Brent dan WTI melonjak lebih dari 3 persen di saat dolar AS sedang kuat-kuatnya, Indonesia terkena pukulan ganda (double whammy),” ujarnya.
Menurut Wahyu, kenaikan biaya impor minyak mentah dan bahan bakar minyak berpotensi menguras devisa perdagangan sekaligus memperlebar defisit neraca migas.
Biaya Industri Berpotensi Meningkat
Selain sektor energi, pelemahan rupiah juga dinilai dapat meningkatkan biaya produksi industri dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Wahyu mengatakan lebih dari 70 persen impor nonmigas Indonesia terdiri atas bahan baku, bahan penolong, dan barang modal yang digunakan untuk kebutuhan industri domestik.
“Ketika DXY mendekati level 100, nilai tukar rupiah melemah secara mekanis. Akibatnya, biaya perolehan komponen manufaktur, zat kimia, hingga mesin-mesin industri yang dibeli dari luar negeri menjadi jauh lebih mahal,” katanya.
Menurut dia, kenaikan biaya tersebut berpotensi memicu tekanan inflasi dari sisi penawaran atau cost-push inflation karena pelaku usaha pada akhirnya akan menyesuaikan harga produk.
Dengan kondisi tersebut, pelemahan rupiah tidak serta-merta menjadi keuntungan bagi sektor ekspor. Di saat yang sama, dunia usaha juga menghadapi kenaikan biaya impor bahan baku dan energi yang dapat menekan margin usaha.(*)