Logo
>

Analis Sebut Penurunan Harga Energi Perburuk Oversupply Nikel

Penurunan harga energi menekan biaya produksi logam, namun berpotensi memperpanjang oversupply terutama di pasar nikel global.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Analis Sebut Penurunan Harga Energi Perburuk Oversupply Nikel
Ilustrasi oversupply nikel akibat penurunan harga energi. Foto: Freepix

KABARBURSA.COM — Penurunan harga energi global berpotensi menekan biaya produksi logam seperti nikel dan tembaga. Namun, kondisi tersebut justru dapat memperpanjang kelebihan pasokan (oversupply), terutama di pasar nikel.

Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan energi merupakan komponen krusial dalam industri ekstraktif, khususnya pada proses pemurnian logam.

“Energi menyumbang sekitar 30-40 persen dari total biaya produksi smelter. Jika harga minyak dan gas turun, biaya produksi nikel dan tembaga global juga akan ikut turun,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Kamis, 26 Maret 2026.

Menurut dia, penurunan biaya ini memiliki efek lanjutan terhadap struktur pasokan global. Smelter yang sebelumnya berada di ambang batas keekonomian dapat tetap beroperasi, sehingga menghambat penyesuaian pasokan saat harga logam melemah.

“Biaya produksi yang lebih rendah memungkinkan smelter berbiaya tinggi untuk tetap hidup. Ini bisa mencegah penurunan produksi yang seharusnya terjadi, sehingga kondisi oversupply bisa bertahan lebih lama,” katanya.

Kondisi tersebut paling terlihat pada pasar nikel global. Reuters mencatat kelebihan pasokan nikel diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, terutama akibat ekspansi produksi dari Indonesia yang kini menyumbang sekitar 65 persen pasokan global.

Di Indonesia sendiri, sensitivitas terhadap biaya energi sudah terlihat jelas. Laporan industri menunjukkan sejumlah smelter sempat menghentikan operasi pada 2025 akibat kombinasi harga batu bara kokas yang tinggi dan harga nikel yang melemah.

Dengan demikian, penurunan harga energi berpotensi memberikan ruang bagi smelter untuk kembali beroperasi atau mempertahankan produksi, sehingga tekanan oversupply semakin bertahan.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada pasar tembaga. Meski biaya energi tetap menjadi komponen penting dalam produksi, faktor utama yang membatasi pasar saat ini justru berasal dari sisi bahan baku.

Reuters melaporkan industri tembaga global menghadapi kelangkaan konsentrat, yang membuat margin smelter tertekan dan bahkan menyebabkan sejumlah fasilitas mempertimbangkan penghentian operasi.

Analis CRU, Peter Harrison, mengatakan struktur keuntungan dalam industri tembaga saat ini menjadi tidak normal.

“Asam seharusnya hanya produk sampingan, bukan pusat laba utama. Itu menciptakan risiko,” ujarnya dikutip dari Reuters, 16 Februari 2026.

Selain itu, kapasitas smelting global yang terus bertambah di China, tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan baku, sehingga tekanan utama pada tembaga bukan berasal dari biaya energi, melainkan dari ketidakseimbangan antara kapasitas pengolahan dan pasokan tambang.

Dengan demikian, dampak penurunan harga energi terhadap pasar logam tidak seragam. Pada nikel, energi murah berpotensi memperpanjang kelebihan pasokan global. Sementara pada tembaga, pengaruh tersebut relatif terbatas karena pasar lebih dibatasi oleh ketersediaan konsentrat dibandingkan biaya produksi. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.