KABARBURSA.COM — Nilai tukar Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif dan pidato ekonomi Presiden Prabowo Subianto mendapat respons positif pasar, tekanan eksternal dari konflik Iran hingga lonjakan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat dinilai masih membayangi.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan Rupiah akan bergerak di rentang Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS.
“Untuk perdagangan besok (Kamis), mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.650-Rp17.700,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya, kemarin, 20 Mei 2026.
Proyeksi tersebut muncul setelah Rupiah ditutup menguat 52 poin ke level Rp17.653 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.703. Namun penguatan harian itu belum cukup menghapus tekanan besar dari faktor global.
Ibrahim melihat pasar internasional masih menempatkan konflik Timur Tengah sebagai sumber ketidakpastian terbesar. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali mengklaim perang dengan Iran akan berakhir “sangat cepat” belum sepenuhnya dipercaya investor. Pasalnya, dalam waktu berdekatan Trump juga menyebut kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran.
Kontradiksi tersebut membuat pasar tetap berhitung terhadap risiko inflasi global baru. Perang AS-Israel melawan Iran disebut telah memicu gangguan besar pasokan energi setelah Selat Hormuz—jalur distribusi hampir seperlima minyak dunia—mengalami penutupan efektif.
Akibatnya, harga minyak bertahan tinggi dan menambah tekanan inflasi global. Pasar kini mulai menghitung kemungkinan bank sentral utama mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Menurut data CME FedWatch Tool yang dikutip Ibrahim, pelaku pasar memperkirakan hampir 50 persen peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin hingga akhir tahun, meningkat dibanding peluang 35 persen sepekan sebelumnya.
Jika ekspektasi itu bertahan, dolar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
BI Naikkan Suku Bunga usai 8 Bulan Bertahan
Dari dalam negeri, salah satu sentimen terbesar datang dari keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kenaikan tersebut mengakhiri periode delapan bulan ketika bank sentral mempertahankan suku bunga di level yang sama.
Selain BI Rate, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25 persen, sementara Lending Facility berada di 6,25 persen. BI menyebut langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan meredam tekanan global akibat perang di Timur Tengah.
Keputusan tersebut juga diarahkan menjaga inflasi 2026–2027 tetap berada di target 2,5 ±1 persen. Kenaikan suku bunga biasanya dipandang positif bagi kurs karena meningkatkan daya tarik aset domestik. Namun pasar tampaknya masih menunggu apakah langkah tersebut cukup kuat menghadapi tekanan eksternal.
Ibrahim menilai pasar sempat merespons positif pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI yang memaparkan arah ekonomi 2027. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8–6,5 persen, inflasi 1,5–3,5 persen, serta menjaga defisit APBN di kisaran 1,8–2,4 persen terhadap PDB.
Prabowo juga menetapkan target kurs Rupiah tahun depan berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan komitmen menjaga disiplin fiskal.
“Kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit,” kata Prabowo.
Namun target kurs tersebut juga menunjukkan pemerintah belum sepenuhnya memperkirakan penguatan signifikan Rupiah dalam jangka pendek. Untuk saat ini, arah Rupiah tampak berada di persimpangan.
Di satu sisi, BI sudah memperketat kebijakan moneter dan pemerintah mulai menekankan disiplin fiskal. Di sisi lain, pasar global masih dibayangi perang Iran, harga minyak tinggi, potensi kenaikan suku bunga AS, serta arus modal yang cenderung mencari aset aman berbasis dolar.
Kondisi tersebut membuat penguatan Rupiah berpotensi berlangsung terbatas. Dengan proyeksi perdagangan Kamis di kisaran Rp17.650–Rp17.700 per dolar AS, pasar tampaknya masih menunggu satu pertanyaan besar: apakah langkah BI cukup kuat menahan tekanan eksternal, atau Rupiah akan kembali menguji level psikologis yang lebih lemah dalam beberapa pekan ke depan. (*)