KABARBURSA.COM — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG belum menunjukkan tanda benar-benar pulih. Setelah reli cukup panjang pada awal tahun, indeks justru kembali terseret arus jual yang cukup dalam.
Pada perdagangan kemarin, IHSG tercatat terkoreksi 4,57 persen ke level 7.577. Tekanan jual masih mendominasi hampir seluruh sektor, meski pelemahan tersebut sempat tertahan di area teknikal yang dianggap krusial oleh analis.
Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan penurunan indeks saat ini masih berada dalam fase koreksi lanjutan dalam struktur gelombang teknikal.
“IHSG melanjutkan koreksinya sebesar 4,57 persen ke 7.577 dan masih didominasi oleh tekanan jual, namun koreksinya tertahan area support krusial di 7.481,” tulis Herditya dalam riset MNCS Daily Scope Wave, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurut dia, secara teknikal posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase koreksi lanjutan yang perlu dicermati oleh pelaku pasar. “Kami memperkirakan, posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave [y] dari wave 4 atau dari wave (2) pada label merah,” ujar Herditya.
Dalam analisis gelombang Elliott yang digunakan, fase tersebut biasanya menjadi bagian dari proses konsolidasi sebelum indeks menemukan titik keseimbangan baru.
Area Koreksi Berikutnya
Dengan struktur teknikal tersebut, analis menilai IHSG masih berpotensi bergerak lebih rendah dalam jangka pendek. Herditya menyebut investor perlu mencermati area 7.140 hingga 7.391 sebagai zona koreksi lanjutan yang mungkin terjadi apabila tekanan jual belum mereda.
“Hal tersebut berarti, perlu dicermati area 7.140-7.391 sebagai area koreksi berikutnya,” tulisnya dalam laporan riset tersebut.
Dalam peta teknikal yang disusun MNC Sekuritas, level 7.311 dan 7.391 menjadi area penopang indeks dalam jangka pendek. Jika level ini ditembus, ruang pelemahan indeks dapat terbuka lebih dalam. Sementara di sisi atas, IHSG masih menghadapi sejumlah level penghalang yang harus dilewati untuk memulihkan tren penguatan. Area resistensi berada di kisaran 7.934 hingga 8.154.
Level tersebut menjadi zona penting untuk mengukur apakah indeks mampu kembali membangun momentum naik setelah fase koreksi.
Saham-saham yang Menarik Dipantau
Dalam laporan teknikal yang sama, MNC Sekuritas menyoroti beberapa saham yang pergerakannya menarik untuk dipantau oleh investor di tengah volatilitas pasar.
Saham PT Astra International Tbk atau ASII tercatat terkoreksi 1,99 persen ke level 6.150 dan masih berada dalam tekanan jual. Dalam analisis teknikalnya, posisi saham ini diperkirakan berada pada fase wave 2 dari wave lima dalam struktur gelombang yang sedang berjalan.
Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BRIS juga mengalami koreksi sekitar 1,39 persen ke level 2.130. Herditya menilai posisi saham tersebut kemungkinan sedang berada pada bagian wave b atau wave dua dalam struktur koreksi yang lebih besar.
Sementara itu saham PT Merdeka Gold Resources Tbl atau EMAS juga terkoreksi sekitar 4,14 persen ke level 8.100. Koreksi tersebut disertai peningkatan volume transaksi, yang dalam analisis teknikal diinterpretasikan sebagai bagian dari fase wave empat dalam tren naik sebelumnya.
Tekanan jual juga terlihat pada saham PT Timah Tbk atau TINS yang turun sekitar 8,47 persen ke level 3.890. Dalam pemetaan teknikal MNC Sekuritas, posisi saham tersebut diperkirakan berada pada bagian wave dua dari wave lima dalam struktur pergerakan harga.
Meski demikian, dinamika teknikal tersebut tidak serta-merta menjamin arah pergerakan saham dalam jangka pendek. Dalam situasi pasar yang volatil, arah indeks sering kali dipengaruhi oleh sentimen makro, arus dana asing, serta kondisi likuiditas pasar.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.