KABARBURSA.COM – Arus dana asing pada perdagangan sesi siang, Selasa, 31 Maret 2026, kembali menunjukkan tekanan yang tidak sepenuhnya terlihat di permukaan. Di saat IHSG bergerak fluktuatif dan cenderung melemah, aliran dana asing justru mencatatkan posisi keluar bersih dalam jumlah besar dan membentuk pola distribusi yang menyebar di berbagai saham utama.
Data foreign-domestic activity menunjukkan bahwa nilai pembelian asing tercatat sebesar Rp2,44 triliun, sementara penjualan mencapai Rp3,31 triliun. Selisih tersebut menghasilkan net foreign sell sebesar Rp878,53 miliar di seluruh pasar.
Pada sesi ini, tekanan jual dari investor asing masih dominan. Meski demikian, porsi transaksi tetap didominasi oleh investor domestik dengan kontribusi sebesar 61,47 persen. Sementara kontribusi asing berada di level 38,53 persen.
Distribusi asing terlihat cukup terkonsentrasi pada saham-saham tertentu, terutama di sektor energi dan komoditas. Saham BUMI mencatatkan net foreign sell terbesar dengan volume mencapai 311,8 juta saham, diikuti GOTO sebesar 138,6 juta saham dan BRMS sebanyak 134,6 juta saham.
Tekanan serupa juga terlihat pada BIPI, DEWA, hingga BWPT yang seluruhnya mencatatkan pelepasan dalam jumlah signifikan.
Di luar itu, saham-saham lapis besar juga tidak luput dari tekanan. BBRI tercatat mengalami net foreign sell sebesar 41,6 juta saham, sementara ESSA mencatatkan pelepasan sekitar 19 juta saham.
Nama-nama lain seperti MEDC, PGAS, hingga MBMA turut masuk dalam daftar distribusi asing, di mana hal ini semakin mempertegas bahwa tekanan tidak hanya terfokus pada satu sektor, melainkan menyebar ke berbagai kelompok saham.
Namun di sisi berlawanan, arus masuk asing tetap muncul dan terkonsentrasi pada saham-saham tertentu. BMRI menjadi saham dengan net foreign buy terbesar, mencapai 12,87 juta saham. Diikuti ASPR sebesar 12,19 juta saham dan SCMA sebanyak 11,23 juta saham.
Aliran dana juga masuk ke saham-saham seperti INDF, KLBF, hingga ACES dan MAPI, yang mencatatkan pembelian bersih dalam kisaran jutaan saham.
Menariknya, sejumlah saham perbankan besar juga tetap mencatatkan akumulasi asing, seperti BBCA dengan net buy sekitar 3,2 juta saham dan TLKM sebesar 4,45 juta saham. Pola ini menunjukkan bahwa meskipun secara agregat asing berada dalam posisi jual bersih, tetap terdapat selektivitas dalam penempatan dana pada saham-saham tertentu.
Ketika data distribusi dan akumulasi tersebut disandingkan, terlihat bahwa tekanan jual lebih besar secara nilai, namun tidak sepenuhnya menghilangkan aliran masuk yang masih terjadi secara terarah.
Kondisi ini lantas menciptakan struktur pasar yang tidak sepenuhnya satu arah, di mana distribusi berjalan beriringan dengan akumulasi pada saham-saham pilihan.
Dominasi domestik dalam aktivitas transaksi turut memperkuat dinamika ini. Dengan porsi lebih dari 60 persen, investor domestik menjadi penopang utama likuiditas pasar di tengah keluarnya dana asing.
Namun dalam konteks nilai, pergerakan tetap sensitif terhadap arah aliran asing, terutama ketika tekanan jual terjadi dalam skala besar seperti yang terlihat pada sesi tengah hari ini.
Kombinasi antara distribusi asing di saham berbasis komoditas, akumulasi selektif di sektor perbankan dan konsumer, serta dominasi transaksi domestik membentuk lanskap perdagangan yang terfragmentasi.
Pasar tidak bergerak dalam satu arah yang seragam, melainkan terbagi dalam beberapa arus yang berjalan bersamaan, mencerminkan fase penyesuaian yang masih berlangsung di tengah perubahan sentimen global dan domestik.(*)