Logo
>

IHSG Sesi I Ambruk di Awal Pekan, Cek Saham yang Masih Bertahan

IHSG ditutup melemah 1,14 persen pada sesi I perdagangan Senin saat tekanan jual menghantam saham perbankan jumbo dan emiten konglomerasi menjelang pengumuman MSCI.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Sesi I Ambruk di Awal Pekan, Cek Saham yang Masih Bertahan
IHSG masih diintai tekanan tinggi, terutama dari isu tentang MSCI. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Tekanan besar langsung menyergap pasar saham Indonesia sejak bel pembukaan perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu mempertahankan area psikologis 6.900 setelah gelombang jual deras menghantam saham-saham kapitalisasi jumbo, terutama sektor perbankan dan kelompok emiten konglomerasi berbasis energi serta petrokimia.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia hingga penutupan sesi I, IHSG terkoreksi 79,12 poin atau 1,14 persen ke level 6.890,27. Pelemahan ini menunjukkan tekanan pasar yang cukup merata. 

Sebanyak 439 saham parkir di zona merah, sementara hanya 236 saham menguat dan 138 lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp11,45 triliun dengan volume perdagangan 24,18 miliar saham dalam 1,7 juta kali transaksi, menandakan aksi jual berlangsung agresif sejak awal sesi.

Dari sisi teknikal, kondisi pasar memang terlihat rapuh. Indikator teknikal di platform perdagangan menunjukkan mayoritas sinyal berada dalam posisi “sangat jual”. RSI bergerak di area 35, menandakan momentum pelemahan masih dominan meski mulai mendekati area oversold. 

Sementara indikator MACD, ROC hingga Bull/Bear Power masih memperlihatkan tekanan bearish yang belum mereda. Seluruh moving average utama, mulai MA5 hingga MA200, juga memancarkan sinyal jual, memperlihatkan tren jangka pendek hingga panjang masih berada dalam tekanan turun.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi aktor utama yang menyeret IHSG jatuh lebih dalam. Emiten berkode BMRI itu menjadi pemberat terbesar indeks dengan kontribusi negatif mencapai 28,95 poin. Tekanan di BMRI tidak lepas dari momentum ex date dividen yang biasanya memicu aksi ambil untung investor setelah periode cum date berakhir.

Namun tekanan pasar tidak berhenti di sektor perbankan. Saham-saham grup konglomerasi yang sebelumnya menjadi motor reli IHSG justru berbalik menjadi sumber tekanan utama. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyumbang pelemahan 9,26 poin indeks, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 7,75 poin dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar 5,69 poin.

Pasar tampaknya mulai mengantisipasi potensi perubahan komposisi indeks MSCI yang akan diumumkan pada 12 Mei 2026. Kekhawatiran bahwa DSSA dan BREN berpotensi terdepak dari indeks global tersebut membuat investor memilih mengurangi eksposur lebih awal. Sentimen ini memicu tekanan jual berlapis di saham-saham yang sebelumnya menjadi pusat perhatian pasar.

Tekanan juga merembet ke saham-saham berbasis sumber daya alam dan energi. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) ikut masuk dalam daftar penekan utama indeks. Ini menunjukkan investor sedang melakukan reposisi portofolio dari saham-saham high beta dan berbasis sentimen global.

Di sisi lain, sektor perbankan memang menjadi pusat tekanan terbesar hari ini. Selain BMRI, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga ikut melemah dan menyumbang tekanan sebesar 7,84 poin terhadap IHSG. Pelemahan bank-bank besar memperlihatkan investor asing cenderung melakukan profit taking di saham yang sebelumnya menjadi penopang utama reli pasar domestik.

Saham yang Masih Bertahan

Meski begitu, tidak semua saham tumbang. Di tengah derasnya tekanan jual, masih ada sejumlah emiten yang mampu bertahan di zona hijau dan menjadi penahan koreksi IHSG. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi penyelamat terbesar indeks dengan kontribusi positif mencapai 26,90 poin. Pergerakan MORA menunjukkan masih adanya rotasi dana ke saham-saham defensif dan berbasis infrastruktur digital.

Selain MORA, saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Permata Tbk (BNLI), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga berhasil menopang indeks meski kontribusinya relatif terbatas. Kenaikan saham-saham tersebut mengindikasikan investor mulai memburu emiten berbasis konsumsi domestik dan ritel yang dinilai lebih tahan terhadap tekanan eksternal.

Volatilitas Tinggi Masih Mengintip

Melihat pola perdagangan sesi pertama, arah IHSG pada sesi berikutnya masih cenderung dibayangi volatilitas tinggi. Area 6.850 kini menjadi support penting yang sedang diuji pasar. Jika tekanan jual asing berlanjut, IHSG berpotensi bergerak menuju area support lanjutan di kisaran 6.820 hingga 6.780.

Namun apabila aksi jual mulai mereda setelah pasar mencerna sentimen MSCI dan ex date dividen BMRI, peluang technical rebound masih terbuka. Apalagi beberapa indikator osilator mulai mendekati area jenuh jual yang biasanya membuka ruang pantulan jangka pendek.

Untuk sementara, pasar terlihat sedang memasuki fase wait and see. Investor memilih menunggu kepastian arah arus modal asing, hasil evaluasi MSCI, serta stabilitas harga komoditas global sebelum kembali masuk agresif ke pasar saham domestik.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79