KABARBURSA.COM — Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih atau net foreign sell sekitar Rp1,24 triliun di seluruh pasar saham Indonesia hingga Selasa siang, 10 Maret 2026. Meski dana asing keluar dari pasar, mayoritas sektor saham di Bursa Efek Indonesia justru masih bergerak di zona hijau.
Berdasarkan pantauan data perdagangan di platform Stockbit, nilai pembelian saham oleh investor asing mencapai sekitar Rp2,62 triliun. Sementara nilai penjualan tercatat lebih besar yakni sekitar Rp3,86 triliun. Selisih transaksi tersebut membuat investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp1,24 triliun di seluruh pasar.
Sementara itu, komposisi aktivitas perdagangan masih didominasi investor domestik. Porsi transaksi domestik tercatat sekitar 69,40 persen, sedangkan investor asing berkontribusi sekitar 30,60 persen dari total aktivitas perdagangan.
Tekanan jual dari investor asing terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas pasokan energi dunia, terutama jika jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz terganggu.
Namun di tengah sentimen eksternal tersebut, sejumlah sektor saham di Bursa Efek Indonesia justru masih mencatatkan penguatan.
Sektor Basic Industry Pimpin Penguatan
Data sektor perdagangan saham menunjukkan mayoritas indeks sektoral bergerak naik hingga perdagangan siang hari. Sektor bahan baku atau basic industry menjadi yang mencatatkan penguatan terbesar dengan kenaikan sekitar 4,18 persen.
Di posisi berikutnya, sektor industri menguat sekitar 2,68 persen, disusul sektor barang konsumsi siklikal atau cyclical yang naik sekitar 1,81 persen. Sektor properti juga tercatat menguat sekitar 1,45 persen. Sementara sektor transportasi dan logistik naik sekitar 1,26 persen.
Penguatan juga terjadi pada sektor energi yang naik sekitar 0,82 persen serta sektor infrastruktur yang bertambah sekitar 0,75 persen. Sektor kesehatan turut mencatatkan kenaikan sekitar 0,72 persen. Sementara sektor keuangan dan barang konsumsi non-siklikal masing-masing menguat sekitar 0,39 persen dan 0,40 persen.
Adapun sektor teknologi bergerak relatif datar dengan kenaikan tipis sekitar 0,01 persen. Pergerakan sektoral yang mayoritas positif menunjukkan pasar domestik masih relatif resilien di tengah sentimen geopolitik global.
Penguatan sektor energi misalnya berpotensi mendapat sentimen dari kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan di Timur Tengah. Konflik di kawasan tersebut seringkali memicu lonjakan harga energi karena kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
Di sisi lain, sektor berbasis domestik seperti industri, konsumsi, dan properti juga masih mencatatkan penguatan yang mengindikasikan aktivitas ekonomi dalam negeri tetap menjadi penopang utama pasar saham.
Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya potensi dampaknya terhadap harga komoditas energi, stabilitas pasar global, serta arus modal asing di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.