KABARBURSA.COM - Pergerakan mata uang global mencatat dinamika mencolok pada perdagangan Kamis. Euro dan yen Jepang menguat terhadap dolar Amerika Serikat, seiring keputusan sejumlah bank sentral utama yang memilih menahan suku bunga, di tengah bayang-bayang inflasi akibat lonjakan harga minyak yang dipicu konflik di Timur Tengah.
European Central Bank mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pasar, namun menegaskan kewaspadaan tinggi terhadap risiko perlambatan pertumbuhan dan tekanan inflasi yang bersumber dari mahalnya energi. Euro pun melesat 1,18 persen terhadap dolar AS ke level USD1,1585, sebagaimana dilaporkan Reuters dari New York.
Langkah serupa ditempuh Bank of Japan. Otoritas moneter tersebut menahan suku bunga, sembari menjaga kecenderungan kebijakan yang lebih ketat. Yen Jepang menguat 1,4 persen ke posisi 157,61 per dolar AS.
Di Inggris, Bank of England secara bulat mempertahankan suku bunga, mencerminkan kehati-hatian di tengah ancaman inflasi yang dipicu konflik di kawasan Teluk. Poundsterling meroket 1,4 persen ke USD1,34360.
Steve Englander menilai, bank-bank sentral global saat ini berada dalam fase mencermati dampak inflasi terhadap output ekonomi, sekaligus menguji kredibilitas masing-masing dalam meredam risiko tersebut.
Sementara itu, Federal Reserve juga memilih untuk tidak mengubah suku bunga dalam pertemuan Rabu. Proyeksinya mengindikasikan inflasi yang lebih tinggi, tingkat pengangguran relatif stabil, dan hanya satu peluang penurunan suku bunga sepanjang tahun ini.
Indeks Dolar AS (DXY), yang merefleksikan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, terperosok 1 persen ke level 99,20. Meski demikian, posisinya masih dekat dengan puncak tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir yang sempat tercapai pada akhir pekan lalu, ketika investor memburu aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan mahalnya energi.
Englander menggambarkan sikap The Fed yang cenderung percaya diri, dengan Ketua Jerome Powell mengambil posisi netral—memilih menunggu dan mengamati dampak riil konflik. Di sisi lain, bank sentral lain menunjukkan variasi sikap: Kanada relatif netral, sementara Bank of England condong hawkish. Pasar, katanya, melihat risiko inflasi lebih besar di Inggris dibandingkan Amerika Serikat, mengingat ketergantungan energi impor dan fleksibilitas ekonomi yang lebih terbatas.
Lonjakan harga minyak turut menjadi katalis utama. Minyak Brent naik 1,18 persen ke USD108,65 per barel setelah Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah, sebagai respons atas agresi Israel terhadap ladang gas South Pars.
Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia menguat 0,83 persen ke USD0,70810. Data Februari menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,3 persen, sedikit melampaui ekspektasi pasar. Reserve Bank of Australia menilai konflik Timur Tengah sebagai risiko nyata bagi perekonomian domestik, bahkan menjadi satu-satunya bank sentral yang telah menaikkan suku bunga dalam dua bulan berturut-turut.
Sebaliknya, franc Swiss justru melemah setelah Swiss National Bank mempertahankan suku bunga dan menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi guna menahan penguatan mata uang. Euro terakhir tercatat naik 0,50 persen ke 0,91285 franc, sementara dolar AS turun 0,63 persen menjadi 0,78830 franc.
Di Amerika Utara, Bank of Canada juga mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi. Dolar Kanada melemah tipis 0,07 persen terhadap dolar AS ke level 1,374.
Analis Goldman Sachs menilai, dari tujuh pertemuan bank sentral G10 dalam dua hari terakhir, tidak terdapat kejutan berarti. Mayoritas otoritas moneter memilih menahan suku bunga sesuai ekspektasi, dengan pengecualian Reserve Bank of Australia yang telah lebih dahulu menaikkan suku bunga. Fokus utama kini tertuju pada potensi guncangan energi dari Timur Tengah yang besar, namun sarat ketidakpastian.
Lebih jauh, mereka menekankan bahwa komunikasi bank sentral kini lebih menyoroti risiko inflasi ketimbang ancaman perlambatan pertumbuhan, meskipun pendekatan kebijakan antarnegara tetap menunjukkan disparitas yang cukup tajam.(*)