Logo
>

BBRI Dikepung Asing, Harga Masih Tertahan, Siap Naik?

Akumulasi investor global dan dividen jumbo dorong optimisme, saat saham BBRI bergerak di fase konsolidasi dengan potensi kenaikan terbuka.

Ditulis oleh Yunila Wati
BBRI Dikepung Asing, Harga Masih Tertahan, Siap Naik?
BBRI sedang dikepung asing, rekomendasi buy on weakness disematkan pada saham ini. (Foto: Bank Rakyat Indonesia)

KABARBURSA.COM - Pergerakan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dalam beberapa sesi terakhir menunjukkan kombinasi antara dorongan akumulasi dan fase konsolidasi jangka pendek. Pada penutupan terakhir, Jumat, 17 April 2026, harga berada di level Rp3.430 atau menguat 0,59 persen, dengan dominasi volume pembelian meski mulai menunjukkan penurunan intensitas. 

Dalam rentang teknikal yang disampaikan, posisi harga saat ini berada dalam fase wave (b) dari wave [b], dengan area buy on weakness di kisaran 3.280–3.400, target harga 3.510 hingga 3.610, serta batas risiko di bawah 3.260.

Di balik pergerakan tersebut, arus dana institusi menjadi salah satu faktor yang terlihat jelas dalam struktur transaksi. Sejumlah investor global tercatat menambah kepemilikan pada April 2026. 

BlackRock Inc. menambah sekitar 19 juta saham, sehingga total kepemilikannya mencapai 2,63 miliar saham. Pada periode yang sama, JP Morgan Chase & Co. menambah 680.800 saham, sementara Manulife Financial Corp mengakumulasi 802.000 saham. 

Aktivitas ini berlangsung di tengah kondisi harga yang berada pada level lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, serta beriringan dengan momentum pembagian dividen.

Konsensus Analis

Dari sisi ekspektasi pasar, konsensus analis menunjukkan tingkat optimisme yang relatif tinggi. Data Bloomberg yang menghimpun 36 analis mencatat target harga rata-rata 12 bulan ke depan sebesar Rp4.422 per saham. Dengan posisi harga saat ini, terdapat potensi kenaikan sekitar 31,2 persen. 

Distribusi rekomendasi juga memperlihatkan dominasi pandangan positif, dengan 30 analis atau 83,3 persen merekomendasikan buy, empat analis hold, dan dua analis sell.

Rentang target harga yang lebih tinggi juga muncul dari sejumlah institusi. UBS, Maybank, dan CGS International menempatkan target di kisaran Rp4.900 per saham. Sementara itu, Mandiri Sekuritas memberikan target Rp4.100, BNI Sekuritas Rp4.500, dan Sucor Sekuritas Rp5.200. 

Target yang disusun UBS menggunakan pendekatan gordon growth model dengan asumsi tingkat bebas risiko 6,75 persen, beta 1,25, return on equity berkelanjutan 18,9 persen, serta pertumbuhan berkelanjutan 8 persen. 

Valuasi tersebut mencerminkan kisaran 2,2 kali price to book value dan 11 kali price to earnings untuk estimasi 2027.

Dividen Yield 6,16 Persen

Selain faktor valuasi dan arus dana, komponen dividen menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari daya tarik saham ini. BBRI menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp52,1 triliun atau Rp346 per saham, dengan rasio pembayaran mencapai 92 persen dari laba bersih 2025 sebesar Rp57,13 triliun. 

Dari total tersebut, dividen final diperkirakan sekitar Rp209 per saham, yang setara dengan dividend yield 6,16 persen berdasarkan harga intraday. Rasio pembayaran ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 86 persen.

Struktur tersebut menempatkan BBRI dalam posisi yang menggabungkan tiga komponen utama: akumulasi investor institusi, ekspektasi kenaikan harga berdasarkan konsensus analis, serta distribusi dividen dalam skala besar. 

Di sisi teknikal, harga masih bergerak dalam rentang terbatas dengan indikasi tekanan jual yang belum sepenuhnya hilang, meski didukung oleh volume beli yang tetap dominan.

Pergerakan ke depan akan berada dalam interaksi antara faktor-faktor tersebut. Aktivitas akumulasi institusi dan ekspektasi pasar memberikan dasar bagi potensi kenaikan, sementara posisi teknikal jangka pendek menunjukkan fase pengujian terhadap level harga saat ini. 

Kombinasi ini membuat pergerakan BBRI berada dalam kondisi di mana respons pasar terhadap data fundamental dan aliran dana akan menjadi penentu arah berikutnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79