KABARBURSA.COM– Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan komitmennya untuk terus berdialog dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait metodologi dan kebutuhan data pasar saham Indonesia.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan BEI bahkan membuka peluang pertemuan lanjutan dengan MSCI dalam waktu dekat, baik secara langsung maupun daring, guna memperjelas kebutuhan data dan menghindari kesalahpahaman yang berlarut-larut.
“Itu kan subject ke negosiasi nanti. Ini kan kami baru (minta) ketemu. Makanya kami coba ketemu,” kata Iman di Gedung BEI Jakarta pada Rabu, 28 Januari 2026.
Iman mengklaim terjadi kebingungan MSCI sejak awal membaca data investor di Indonesia terutama dari Keterbukaan Informasi yang datanya berasal dari BEI sendiri, KSEI sendiri. Ia menepis bukan terletak pada penolakan dari otoritas Indonesia, melainkan pada persoalan ketersebaran data yang berasal dari berbagai sumber.
“Jangan sampai salah kaprah. Mereka kesulitan karena datanya scatter, tidak ada di satu tempat. Ada di KSEI, ada di bursa, ada di informasi lainnya,” ujar Iman.
Ia menegaskan, BEI bersama OJK dan KSEI justru aktif membantu MSCI agar mendapatkan data yang lebih rapi dan mudah dibaca. Menurutnya, upaya ini dilakukan agar MSCI tidak mengambil kesimpulan hanya dari satu sumber data yang berpotensi menimbulkan interpretasi keliru.
“Poinnya bukan kami tidak mengikuti mereka. Justru kami membantu mereka. Supaya mereka merasa SRO dan OJK itu support dan memudahkan,” kata Iman.
Iman mengungkapkan, diskusi dengan MSCI bukan hal yang baru dan sudah berlangsung sejak tahun lalu. Ia bahkan menyebut pertemuan langsung dengan MSCI di Amerika Serikat bersama OJK dan perwakilan BEI telah dilakukan pada 8 Desember 2025 jauh sebelum batas waktu pengumuman MSCI pada 15 Januari 2026.
“Konsultasinya sudah lama, bukan baru kemarin. Ketika mereka announce, kita sudah diskusi,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, BEI diminta menyampaikan data apa saja yang bisa diserahkan hingga batas waktu yang ditentukan. Namun, keputusan akhir mengenai kecukupan data sepenuhnya berada di tangan MSCI.
“Apakah cukup atau tidak, itu bukan kewenangan kami. Mereka yang punya kewenangan,” kata Iman.
Ia menegaskan BEI tidak berada dalam posisi bernegosiasi dengan pendekatan memaksa atau saling menuntut. Yang dilakukan BEI adalah menyampaikan apa yang secara aturan memungkinkan di Indonesia.
Terkait awal mula isu ini, Iman menjelaskan BEI baru mengetahui secara resmi setelah MSCI mengirim proposal membuka proses konsultasi kepada konstituennya. MSCI kemudian mengumumkan adanya rencana perubahan dalam perhitungan mereka, termasuk mengecualikan unsur korporasi dan pihak lain dalam penghitungan tertentu.
Meski demikian, BEI menegaskan bahwa perbaikan terkait free float bukan hal baru. Selama ini, BEI bersama OJK dan KSEI telah melakukan berbagai penyempurnaan, meskipun diakui belum sepenuhnya sejalan dengan metodologi MSCI.
“Kita melakukan sesuatu, tapi mungkin belum sesuai dengan metodologi mereka,” ujar Iman.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, mengatakan diskusi lanjutan dengan MSCI masih akan terus berjalan.
“Bisa online karena MSCI dari Swiss,” kata Irvan.
Ia menyebut pertemuan lanjutan dengan MSCI berpotensi dilakukan secara daring, mengingat kantor MSCI berada di Swiss. BEI berharap diskusi ini dapat berlangsung sebelum Mei agar ada kejelasan bagi pasar.
Sementara itu, Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan bahwa dari sisi KSEI, keterbukaan informasi free float sebenarnya sudah lama tersedia secara sistematis.
“Setiap bulan dan setiap perubahan, perusahaan wajib menyampaikan data pemegang saham, afiliasi, sampai free float-nya. Sistem di KSEI sudah otomatis menghitung,” ujarnya.
Menurut Nyoman, data kepemilikan saham, termasuk afiliasi, sudah dapat diakses dan diverifikasi secara rutin. Informasi tersebut juga tersedia di bursa dan KSEI, meski memang belum disatukan dalam satu format sesuai kebutuhan MSCI.
Dengan rencana pertemuan lanjutan ini, BEI berharap MSCI dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai struktur data pasar modal Indonesia. Iman menegaskan BEI akan bersikap terbuka dan selama proses tersebut bertujuan meningkatkan transparansi dan kredibilitas pasar.
Timeline isu MSCI ini
Sepanjang 2025
November 2025
MSCI menyampaikan proposal perubahan metodologi perhitungan freefloat khusus untuk Indonesia. Rencananya menggunakan data KSEI. membuka konsultasi publik kepada konstituennya terkait rencana penyesuaian metodologi penghitungan free float, termasuk penggunaan data korporasi dan kepemilikan saham. Informasi ini diketahui BEI setelah MSCI menyampaikan pengumuman konsultasi tersebut.
8 Desember 2025
BEI bersama OJK melakukan pertemuan langsung dengan MSCI di Amerika Serikat. Dalam pertemuan ini, MSCI meminta data pendukung yang dapat disampaikan oleh bursa menjelang proses pengambilan keputusan. Selain itu, BEI juga sempat menyampaikan keberatannya karena metode itu hanya diterapkan di pasar Indonesia.
Desember 2025 – awal Januari 2026
BEI, OJK, dan KSEI melakukan konsolidasi dan penyiapan data dari berbagai sumber, termasuk KSEI, Bursa Efek Indonesia, serta sistem keterbukaan informasi, sesuai dengan ketentuan hukum dan regulasi di Indonesia.
15 Januari 2026
BEI, OJK, dan KSEI kembali melakukan pertemuan dengan MSCI. Dalam pertemuan ini, BEI menyampaikan data yang telah disiapkan serta menjelaskan keterbatasan kewenangan dan perbedaan struktur data di Indonesia. MSCI kemudian menggunakan pertemuan ini sebagai bagian dari proses finalisasi evaluasi.
27 Januari 2026
Malamnya, MSCI mengumumkan keputusan hasil evaluasi metodologi tersebut kepada publik. Mereka memutuskan menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia. Membekukan Foreight Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shakespeare (NOS) serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Indexes(IMI).
MSCI juga menyebut jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi. Market Indonesia akan diturunkan dari emerging market ke frontier market.
28 Januari 2026
BEI memberikan penjelasan dan klarifikasi kepada publik serta menyatakan akan untuk melanjutkan dialog dan mengupayakan pertemuan lanjutan dengan MSCI sebelum Mei 2026.(*)