Logo
>

BFIN Siapkan Ekspansi Digital dan Cicilan Emas

BFIN menargetkan pertumbuhan pembiayaan dua digit pada 2026 dengan fokus ekspansi digital, joint financing bersama Bank Jago, serta rencana peluncuran produk cicilan emas dan pembiayaan motor.

Ditulis oleh Yunila Wati
BFIN Siapkan Ekspansi Digital dan Cicilan Emas
Gedung BFI Finance. (Foto: Dok BFIN)

KABARBURSA.COM – PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mulai memetakan arah bisnisnya untuk 2026 setelah mencatat perbaikan kualitas pembiayaan pada akhir 2025. Perusahaan pembiayaan ini menargetkan pertumbuhan pembiayaan pada kisaran dua digit rendah tahun depan dengan fokus pada ekspansi digital serta peluncuran produk baru, termasuk cicilan emas.

Manajemen BFIN mengungkapkan bahwa kualitas aset perseroan menunjukkan perbaikan pada kuartal IV 2025. Cost of Credit (CoC) tercatat turun menjadi sekitar 3,5 persen pada periode tersebut, membaik dibandingkan kuartal III 2025 yang berada di kisaran 4,5 persen. 

Penurunan ini terjadi seiring membaiknya rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) menjadi 1,39 persen dari sebelumnya 1,55 persen pada kuartal III 2025. Angka tersebut juga berada di bawah rata-rata industri yang tercatat sekitar 2,9 persen pada periode yang sama.

Untuk 2026, manajemen memperkirakan CoC berada di kisaran 4,1 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang tercatat sekitar 4,3 persen. Pada awal tahun, khususnya kuartal pertama, perseroan memperkirakan CoC berpotensi sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025 karena pergeseran momentum Idulfitri. 

Namun setelah itu, kualitas pembiayaan diperkirakan kembali stabil dan berangsur membaik mulai kuartal kedua.

Beban Provisi dan Efisiensi Operasional

Selain faktor kualitas kredit, beban provisi perseroan juga dipengaruhi oleh langkah restrukturisasi bisnis pada anak usaha teknologi finansialnya, PT Finansial Integrasi Teknologi (FIT). BFIN mencatat impairment dari operasi yang dihentikan sebesar Rp19 miliar pada 2025 dan nilai yang sama diperkirakan kembali tercatat pada 2026. 

Nilai tersebut setara sekitar 2 persen dari total beban provisi perseroan pada 2025. Keputusan ini diambil setelah perusahaan memilih untuk melepas lisensi layanan peer-to-peer lending FIT. Seiring langkah tersebut, BFIN juga mencatat kerugian operasional sekitar Rp17 miliar pada 2025 terkait pelepasan aktivitas tersebut.

Di sisi efisiensi operasional, rasio biaya terhadap pendapatan atau Cost-to-Income Ratio (CIR) tetap terjaga pada level 44,2 persen sepanjang 2025, membaik dibandingkan 46,4 persen pada 2024. Untuk 2026, manajemen memperkirakan rasio ini tetap stabil di kisaran 44 persen seiring upaya perusahaan menjaga efisiensi operasional.

Dari sisi pertumbuhan pembiayaan, total managed receivables BFIN tercatat meningkat sekitar 9 persen secara tahunan dan 1 persen secara kuartalan hingga Desember 2025. Pertumbuhan tersebut salah satunya didorong oleh ekspansi joint financing yang meningkat signifikan sebesar 131 persen secara tahunan dan 11 persen secara kuartalan. 

Kontribusi joint financing terhadap total managed receivables kini mencapai sekitar 11 persen, meningkat dibandingkan 5 persen pada Desember 2024.

Saat ini, joint financing BFIN dijalankan bersama Bank Jago Tbk (ARTO). Dalam skema tersebut, ARTO menjadi pihak yang menanggung risiko Cost of Credit, sehingga memberikan fleksibilitas bagi BFIN dalam mengelola risiko kredit. 

Ke depan, perseroan berencana mempertahankan atau sedikit meningkatkan porsi joint financing dari level saat ini sekitar 11 persen.

Strategi ini juga dipandang dapat membantu BFIN mengurangi ketergantungan pada pinjaman sindikasi berdenominasi dolar Amerika Serikat dari bank offshore yang umumnya memiliki biaya dana lebih tinggi. 

Dengan struktur pembiayaan yang lebih efisien, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk mengelola margin dan pertumbuhan portofolio.

Target Pertumbuhan Pembiayaan

Untuk 2026, manajemen menargetkan pertumbuhan pembiayaan di kisaran low-teens. Namun, sebagian besar pertumbuhan tersebut diperkirakan baru akan terlihat pada paruh kedua tahun ini. Hal ini berkaitan dengan banyaknya hari libur pada paruh pertama tahun yang berpotensi mempengaruhi aktivitas origination pembiayaan.

Hingga akhir 2025, sebagian besar origination pembiayaan BFIN masih berasal dari channel agency yang menyumbang sekitar 48 persen untuk segmen non-dealer financing. Meski demikian, perseroan mulai meningkatkan fokus pada penguatan kanal digital sebagai bagian dari strategi ekspansi ke depan.

Saat ini, BFIN telah menjalin kerja sama dengan GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan beberapa mitra digital lainnya yang masih dalam tahap pengembangan. Perseroan juga berencana meluncurkan dua produk digital baru paling cepat pada paruh kedua 2026, yaitu produk cicilan emas serta produk pembiayaan yang menyasar segmen kendaraan bermotor.

Langkah masuk ke produk cicilan emas menjadi salah satu inisiatif baru BFIN dalam memperluas sumber pertumbuhan pembiayaan. Produk tersebut diharapkan dapat membuka akses pembiayaan baru bagi nasabah yang ingin membeli emas secara cicilan melalui platform digital.

Buyback dan Dividen

Di sisi pasar modal, BFIN juga tengah melanjutkan program pembelian kembali saham atau buyback yang sebelumnya diumumkan kepada publik. Hingga saat ini, perseroan telah merealisasikan buyback saham sekitar Rp54 miliar dari total anggaran Rp100 miliar. Manajemen menyatakan bahwa program tersebut berpotensi selesai sebelum batas akhir pelaksanaan pada 23 Mei 2026.

Sementara itu, untuk pembagian dividen tahun buku 2025, manajemen belum memberikan panduan resmi mengenai besaran dividend payout. Namun demikian, ruang peningkatan dividen masih terbuka mengingat rasio Debt-to-Equity (DER) perusahaan yang relatif rendah.

Per Desember 2025, DER BFIN tercatat sekitar 1,28 kali, jauh di bawah rata-rata industri perusahaan pembiayaan yang berada di kisaran 3 kali. Manajemen menyatakan masih merasa nyaman untuk meningkatkan DER hingga level sekitar 2 kali apabila diperlukan untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.

Dengan kualitas pembiayaan yang relatif terjaga, ekspansi joint financing, serta rencana pengembangan produk digital baru, BFIN memposisikan 2026 sebagai fase penguatan pertumbuhan pembiayaan sekaligus diversifikasi model bisnis di tengah perubahan lanskap industri pembiayaan konsumen.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79