KABARBURSA.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menyentuh level 10.000 pada tahun 2026. Namun, target ini perlu dukungan katalis dari pasar global.
BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa pemerintah melihat peluang pertumbuhan pasar saham lebih besar di tahun mendatang.
BRI Danareksa membeberkan optimisme tersebut tentu bukan tanpa alasan, tetapi juga membuka ruang diskusi di kalangan investor.
"Apakah target ini mencerminkan keyakinan terhadap fundamental ekonomi yang semakin kuat, atau lebih sebagai sinyal kepercayaan kebijakan jangka menengah? Di sinilah pentingnya memahami konteks di balik pernyataan tersebut, bukan sekadar fokus pada angkanya saja," tulis BRI Danareksa dalam keterangannya.
Meskipun optimisme domestik tinggi, BRI Danareksa memandang arah pasar global seperti kebijakan suku bunga The Fed, volatilitas dolar, dan kondisi makro negara maju tetap berpotensi memengaruhi IHSG.
"Target 10.000 akan lebih mudah dicapai jika sentimen global mendukung, termasuk harapan pelonggaran suku bunga dan stabilnya pertumbuhan ekonomi dunia," tulis BRI Danareksa.
BRI Danareksa mencatat, sepanjang 2025, IHSG memang menunjukkan tren naik yang solid, tetapi tidak mampu menembus level psikologis 9.000 yang sempat diproyeksikan banyak analis.
Walaupun bergerak dalam tren positif, indeks tertahan oleh sentimen global yang belum sepenuhnya stabil dan dinamika ekonomi dunia yang fluktuatif.
"Kondisi ini menjadi pelajaran bahwa momentum pasar tidak selalu sejalan dengan target awal," tulis BRI Danareksa.
Adapun sikap optimisme tersebut disampaikan Purbaya setelah menanggapi pertanyaan mengenai potensi IHSG menembus level psikologis 10.000.
Purbaya menilai target tersebut bukan sesuatu yang mustahil dicapai dalam kondisi ekonomi yang terus membaik.
“Itu (10.000) bukan angka yang mustahil dicapai. Bahkan bisa lebih,” ucapnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Jumat, 2 Desember 2025. (*)