KABARBURSA.COM – Pergerakan Bitcoin hingga Jumat pagi, 3 April 2026, tidak menunjukkan tekanan besar secara ekstrem, tetapi memperlihatkan fase pelemahan yang terukur di tengah lanskap global yang masih dibayangi ketidakpastian.
Harga BTC bertahan di kisaran USD66.800, turun sekitar 0,82 persen, dengan struktur pergerakan yang cenderung melemah namun belum menunjukkan kepanikan.
Dalam konteks intraday, Bitcoin sempat bergerak di rentang USD65.696 hingga USD67.450. Di sini, volatilitas tetap terjaga meski arah dominan masih condong ke bawah.
Level ini menjadi penting karena memperlihatkan bahwa tekanan jual muncul secara bertahap, bukan dalam bentuk distribusi agresif yang biasanya ditandai dengan penurunan tajam dalam waktu singkat.
Sentimen global menjadi latar utama pergerakan ini. Penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, serta eskalasi konflik Timur Tengah membentuk kombinasi yang kurang ramah bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Dalam kondisi seperti ini, aliran dana cenderung bergerak ke aset yang lebih defensif, sehingga Bitcoin kehilangan sebagian daya tariknya dalam jangka pendek.
Analisis Teknikal Bitcoin
Namun jika ditarik ke sisi teknikal, gambaran yang muncul jauh lebih tegas. Indikator moving average menunjukkan sinyal “sangat jual”, dengan harga saat ini berada di bawah seluruh rata-rata utama, mulai dari MA5 hingga MA200.
Ini menandakan bahwa tekanan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga sudah menembus struktur tren yang lebih panjang.
MA5 berada di kisaran 67.360, sementara MA10 di 67.569 dan MA20 di 69.359, seluruhnya berada di atas harga saat ini. Bahkan MA50 dan MA100 yang masing-masing berada di 68.686 dan 77.043 semakin memperlebar jarak dengan harga.
Catatan ini memperkuat indikasi bahwa momentum naik sebelumnya telah terputus. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa setiap upaya kenaikan saat masih berhadapan dengan lapisan resistance berjenjang.
Struktur pivot juga memberikan gambaran yang cukup jelas terhadap area pergerakan berikutnya. Pivot point berada di sekitar 67.103, sedikit di atas harga saat ini, menandakan bahwa Bitcoin masih bergerak di bawah titik keseimbangan harian.
Selama harga belum mampu kembali menembus area ini, tekanan cenderung tetap dominan.
Di sisi bawah, area support terdekat berada di kisaran 65.568 hingga 64.237. Level ini menjadi zona yang saat ini sedang diuji oleh pasar. Jika tekanan berlanjut dan support ini ditembus, ruang penurunan dapat terbuka lebih lebar menuju area 62.700 sebagai batas support berikutnya.
Sebaliknya, untuk mengubah arah jangka pendek, Bitcoin perlu kembali menembus resistance di kisaran 68.400 hingga 69.900. Area ini tidak hanya menjadi batas teknikal, tetapi juga beririsan dengan beberapa level moving average, sehingga menjadi zona krusial untuk menguji apakah pasar masih memiliki tenaga untuk rebound.
Sementara itu, volume transaksi yang berada di kisaran 7.640 menunjukkan aktivitas yang tidak terlalu tinggi, mengindikasikan bahwa pergerakan saat ini lebih banyak didorong oleh penyesuaian posisi daripada masuknya arus dana baru secara besar-besaran.
Dalam kondisi seperti ini, harga cenderung bergerak mengikuti sentimen eksternal dibandingkan katalis internal dari pasar kripto itu sendiri.
Dengan seluruh data tersebut, pergerakan Bitcoin saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan bias melemah. Tekanan memang belum berubah menjadi aksi jual besar, tetapi struktur teknikal yang terbentuk menunjukkan bahwa pasar masih mencari keseimbangan baru di tengah perubahan arus global.
Selama tekanan dari dolar dan sentimen risiko global belum mereda, ruang pergerakan Bitcoin masih akan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan menguji sisi bawah terlebih dahulu.
Bitcoin dalam Rupiah
Setelah bergerak dalam tekanan moderat di pasar global, pergerakan Bitcoin dalam denominasi rupiah hingga Jumat pagi memperlihatkan pola yang relatif serupa, yakni melemah tipis namun masih bertahan dalam rentang konsolidasi.
Harga BTC tercatat di kisaran Rp1,13 miliar, turun sekitar 0,13 persen, dengan pergerakan intraday yang cenderung mendatar setelah sempat mengalami fluktuasi pada awal sesi.
Jika ditarik dari pola sebelumnya, pelemahan ini bukanlah lanjutan dari tekanan agresif, melainkan lebih mencerminkan fase penyesuaian harga di tengah belum masuknya katalis baru.
Pergerakan grafik menunjukkan bahwa Bitcoin sempat menguji area yang lebih tinggi di atas Rp1,136 miliar, sebelum akhirnya bergerak turun dan stabil di kisaran Rp1,133 miliar. Pola ini menggambarkan adanya tekanan jual ringan yang muncul setiap kali harga mencoba naik.
Kondisi tersebut mempertegas gambaran sebelumnya bahwa Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Belum terlihat adanya dorongan volume yang cukup kuat untuk membawa harga keluar dari rentang sempit ini.
Dengan kata lain, pasar masih bergerak hati-hati, menunggu arah yang lebih jelas dari sentimen global.
Pergerakan Koin Lainnya
Di tengah pergerakan Bitcoin yang relatif tertahan, dinamika altcoin menunjukkan variasi yang lebih beragam. Ether bergerak turun tipis ke kisaran Rp34,85 juta, mencerminkan tekanan yang masih sejalan dengan Bitcoin sebagai aset utama di pasar kripto.
Litecoin juga mengalami pelemahan ringan ke sekitar Rp889 ribu, memperlihatkan bahwa tekanan masih merata di sebagian besar koin besar.
Namun tidak semua aset bergerak searah. Dogecoin dan Cardano justru mencatat penguatan tipis, masing-masing naik sekitar 0,05 persen dan 0,18 persen.
Kenaikan ini memang masih terbatas, tetapi menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melakukan rotasi ke koin dengan volatilitas lebih tinggi, meskipun dalam skala kecil.
Perbedaan arah ini mengindikasikan bahwa pasar kripto saat ini tidak sepenuhnya bergerak seragam, melainkan mulai terfragmentasi berdasarkan karakter masing-masing aset. Bitcoin tetap menjadi acuan utama, tetapi pergerakan altcoin mulai menunjukkan respons yang lebih selektif terhadap kondisi pasar.
Dari sisi nilai tukar, stabilitas Bitcoin dalam rupiah juga dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS yang masih relatif kuat. Ketika dolar menguat, tekanan terhadap aset berisiko cenderung meningkat, namun dalam denominasi rupiah, pelemahan harga kripto bisa terlihat lebih terbatas karena faktor kurs yang ikut berperan.
Dengan struktur pergerakan seperti ini, Bitcoin dalam rupiah saat ini berada dalam fase menunggu arah, dengan tekanan yang belum cukup besar untuk memicu penurunan lanjutan secara agresif. Di sisi lain, belum ada pula dorongan kuat yang mampu mengangkat harga kembali ke tren naik sebelumnya.
Pergerakan altcoin yang mulai menunjukkan variasi kecil menjadi sinyal bahwa likuiditas masih ada di pasar, meskipun belum terkonsentrasi pada aset utama. Selama kondisi global belum stabil dan arus dana masih cenderung defensif, pergerakan Bitcoin dan koin lainnya akan tetap bergerak dalam rentang terbatas dengan pola naik-turun yang cenderung pendek dan cepat.(*)