KABARBURSA.COM - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) resmi menjadi badan usaha milik negara. Perubahan status ini menandai titik balik struktural dalam peta industri perbankan nasional, khususnya di segmen syariah.
Keputusan ini ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 22 Desember 2025 dan secara formal mengakhiri posisi BSI sebagai anak usaha bank-bank Himbara, dan menempatkannya sejajar secara kelembagaan dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), serta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Secara regulasi, perubahan ini lahir dari penyesuaian anggaran dasar sesuai Undang-Undang BUMN, terutama terkait kepemilikan Saham Seri A Dwiwarna oleh Negara Republik Indonesia. Dengan masuknya hak istimewa negara tersebut, BSI secara otomatis dikategorikan sebagai Persero dan wajib tunduk pada seluruh ketentuan tata kelola BUMN.
Perubahan nama menjadi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. menjadi simbol legal sekaligus institusional bahwa bank syariah ini tidak lagi berada di lapis kedua dalam struktur kepemilikan negara.
Dari perspektif industri, langkah ini mengubah posisi BSI dari entitas konsolidasi hasil penggabungan unit usaha syariah menjadi institusi strategis negara. Selama lima tahun terakhir, BSI tumbuh dari gabungan entitas syariah relatif kecil milik Mandiri, BNI, dan BRI menjadi bank syariah terbesar di Indonesia.
Namun, status sebagai anak usaha membuat ruang manuver strategisnya masih berada di bawah payung induk. Dengan status BUMN, BSI kini memiliki kedudukan yang setara dalam pengambilan kebijakan makro, akses program strategis pemerintah, serta persepsi pasar.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo, menggambarkan posisi BSI yang kini berada di “lintasan yang sama” dengan bank-bank Himbara lain. Analogi ini memperlihatkan bahwa tantangan utama pasca-perubahan status bukan lagi soal legitimasi kelembagaan, melainkan kesiapan sumber daya manusia, sistem, dan budaya kerja untuk bersaing secara langsung dengan bank-bank besar nasional yang selama ini menjadi rujukan.
Status BUMN membawa konsekuensi peningkatan ekspektasi dari pemegang saham negara dan masyarakat. Sebagai Persero, BSI tidak hanya dituntut mencetak pertumbuhan, tetapi juga menjaga peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, inklusi keuangan syariah, dan stabilitas sistem keuangan.
Dalam konteks ini, tuntutan kinerja menjadi lebih tinggi dibandingkan saat BSI masih berstatus anak usaha, karena pencapaian BSI kini akan dibaca sebagai cerminan langsung kinerja BUMN sektor perbankan syariah.
Target yang dipasang manajemen, yakni menembus jajaran lima besar bank syariah global pada 2030, menjadi indikator bagaimana perubahan status ini diterjemahkan ke dalam ambisi jangka panjang. Target tersebut menunjukkan bahwa BSI tidak lagi memposisikan diri hanya sebagai pemain domestik, melainkan sebagai institusi yang ingin mengambil peran di level global.
Dengan dukungan status BUMN, BSI berpotensi memperoleh leverage reputasi, akses pendanaan, dan peluang kerja sama internasional yang lebih luas, terutama di pasar keuangan syariah global.
Namun, status sejajar dengan Himbara juga berarti BSI akan dinilai dengan standar yang sama. Perbandingan kinerja, efisiensi, tata kelola, dan kualitas layanan dengan Mandiri, BRI, BNI, dan BTN menjadi tidak terhindarkan.
Dalam konteks ini, narasi “bersaing dengan guru” yang disampaikan Anggoro mencerminkan fase transisi dari dependensi menuju kompetisi sehat antarbank milik negara.
Transaksi Relatif Ramai, Asing Banyak Masuk
Perdagangan saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) pada Senin, 2 Februari 2026, berlangsung dalam tekanan ringan meski aktivitas transaksi relatif ramai dan akumulasi domestik masih terbaca.
Saham BRIS ditutup melemah 30 poin atau 1,33 persen ke level 2.220 dari penutupan sebelumnya di 2.250. Sepanjang sesi, harga bergerak di rentang 2.160 hingga 2.280, dengan pembukaan di 2.250.
Dari sisi likuiditas, total transaksi tercatat 67.706 lot dengan nilai sekitar Rp54,2 miliar dan frekuensi mencapai 3.184 kali. Rata-rata harga transaksi berada di kisaran 2.224. Aktivitas di papan reguler memperlihatkan antrean jual yang lebih tebal di area atas, sementara minat beli bertahan di area bawah, membentuk struktur orderbook yang relatif seimbang namun cenderung menahan laju pemulihan harga.
Data ringkasan broker domestik menunjukkan pola akumulasi bersih. Tercatat 11 broker berada di sisi beli dan 39 broker di sisi jual, dengan selisih broker minus 28, namun secara volume bersih masih mencatatkan net buy sebesar 210.710 lot dengan nilai bersih sekitar Rp47 miliar.
Rata-rata harga akumulasi domestik berada di kisaran 2.232. Indikator Acc/Dist menempatkan perdagangan hari itu dalam kategori akumulasi, dengan klasifikasi Big Acc pada kelompok Top 1, Top 3, dan Top 5 broker, yang mengindikasikan kontribusi signifikan dari beberapa pelaku besar di sisi pembelian.
Pada sisi buyer, aktivitas terbesar datang dari UBS Sekuritas Indonesia (AK) dengan nilai beli sekitar Rp22,5 miliar atau 101,1 ribu lot pada harga rata-rata 2.230. Diikuti Verdhana Sekuritas (BB) senilai Rp14,1 miliar atau 63,5 ribu lot pada harga rata-rata 2.227, serta Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dengan nilai Rp5,8 miliar atau 26,1 ribu lot pada harga rata-rata 2.226.
Pola pembelian ketiganya terkonsentrasi di rentang harga yang berdekatan, dan mencerminkan strategi akumulasi di area konsolidasi.
Di sisi penjualan, tekanan terbesar berasal dari Mandiri Sekuritas (CC) dengan nilai jual sekitar Rp6,8 miliar atau 30,8 ribu lot pada harga rata-rata 2.214. Tekanan serupa datang dari BNI Sekuritas (NI) senilai Rp6,6 miliar atau 29,6 ribu lot pada harga rata-rata 2.216, serta BRI Danareksa Sekuritas (OD) sebesar Rp5,4 miliar atau 24,2 ribu lot pada harga rata-rata 2.221.
Distribusi dari beberapa broker besar ini menjelaskan mengapa harga tidak mampu bertahan di atas area pembukaan meski terdapat akumulasi bersih secara keseluruhan.
Struktur orderbook sepanjang sesi memperlihatkan lapisan penawaran yang cukup rapat di kisaran 2.230 hingga 2.300, sementara permintaan relatif konsisten di area 2.140 hingga 2.200.
Kondisi ini membentuk pola tarik-menarik antara pembeli yang menunggu di bawah dan penjual yang aktif melepas di area atas, sehingga pergerakan harga cenderung tertahan dan berakhir di zona merah tipis.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.