KABARBURSA.COM — Pasar saham Asia mencoba bangkit setelah guncangan perang Iran mengguncang sentimen global. Bursa-bursa utama di kawasan melonjak pada perdagangan Kamis pagi, mengikuti rebound Wall Street. Namun optimisme itu belum sepenuhnya kokoh karena harga minyak kembali menanjak dan kontrak berjangka saham Amerika justru melemah.
Dilansir dari AP, Kamis, 5 Maret 2026, lonjakan paling mencolok terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi melesat 10,1 persen ke level 5.607,71 setelah sehari sebelumnya mengalami kejatuhan terbesar dalam sejarahnya. Pemerintah Korea Selatan bahkan langsung mengumumkan langkah darurat ekonomi untuk menenangkan pasar.
Penurunan tajam sehari sebelumnya dipicu aksi ambil untung para investor. Dalam beberapa bulan terakhir indeks Kospi sebenarnya sudah melesat ke rekor tertinggi. Ketika perang Iran meletus, banyak pelaku pasar memilih mengunci keuntungan sebelum risiko geopolitik membesar.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga bergerak naik meski sempat kehilangan sebagian penguatan awal. Indeks tersebut masih mampu bertambah 2,8 persen ke posisi 55.793,74.
Sentimen positif juga terlihat di kawasan lain. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,1 persen ke 8.913,10. Bursa Selandia Baru menguat 0,5 persen. Sementara indeks utama Taiwan bertambah 2,2 persen.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 148,02 poin atau 1,95 persen ke level 7.725,08. Total volume transaksi tercatat mencapai 123,85 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp6,45 triliun dari 761,04 ribu transaksi.
Meski pasar saham mencoba pulih, ketidakpastian perang di Timur Tengah tetap membayangi. Dalam beberapa hari terakhir, arah pasar global sangat dipengaruhi pergerakan harga minyak. Saham-saham di Wall Street juga sempat bangkit setelah harga minyak berhenti melonjak dan laporan ekonomi AS menunjukkan sinyal positif.
Indeks S&P 500 naik 0,8 persen ke 6.869,50 dan berhasil menghapus sebagian besar kerugian sejak konflik Iran dimulai. Dow Jones Industrial Average bertambah 0,5 persen ke 48.739,41. Sementara Nasdaq melonjak 1,3 persen ke 22.807,48. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Harga minyak kembali merangkak naik pada awal perdagangan Kamis.
Minyak Brent yang menjadi acuan global naik 2,6 persen menjadi USD83,51 per barel atau sekitar Rp1.407.144. Sementara minyak mentah acuan Amerika melonjak 3,2 persen ke USD77,01 per barel atau sekitar Rp1.297.619.
Kenaikan harga energi inilah yang membuat investor kembali waspada. Lonjakan minyak berpotensi memicu inflasi baru sekaligus menekan laba perusahaan global.
Ekonomi AS Masih Menunjukkan Tenaga
Di tengah ketegangan geopolitik, sejumlah data ekonomi Amerika justru memberi kabar baik bagi pasar. Salah satu laporan menunjukkan aktivitas bisnis di sektor jasa seperti real estate dan keuangan tumbuh pada bulan lalu dengan laju tercepat sejak musim panas 2022. Laporan tersebut juga mencatat kenaikan harga di sektor jasa mulai melambat sebelum konflik Iran pecah.
Laporan lain menyebut perusahaan-perusahaan swasta di luar sektor pemerintah meningkatkan perekrutan tenaga kerja bulan lalu. Data itu memberi harapan terhadap laporan resmi pasar tenaga kerja Amerika yang akan dirilis pemerintah pada Jumat.
Bagi Federal Reserve, kabar tersebut menjadi sinyal positif. Bank sentral Amerika memiliki tugas menjaga pasar tenaga kerja tetap kuat sekaligus menekan inflasi. Namun lonjakan harga minyak akibat perang membuat pekerjaan itu semakin sulit.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.