KABARBURSA.COM – Kinerja raksasa chip Nvidia meredakan sebagian kekhawatiran pasar atas euforia kecerdasan buatan yang selama setahun terakhir membayangi valuasi saham teknologi. Sentimen itu mendorong mayoritas bursa Asia bergerak di zona hijau pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, sementara kontrak berjangka Amerika Serikat justru melemah.
Dilansir dari AP, indeks Nikkei 225 Tokyo sempat menembus level psikologis 59.000 untuk pertama kalinya sebelum memangkas penguatan dan ditutup naik 0,2 persen ke posisi 58.715,33. Saham SoftBank Group yang memiliki eksposur besar pada teknologi kecerdasan buatan melonjak 3,5 persen. Di sisi lain, produsen peralatan chip Tokyo Electron terkoreksi 2,8 persen.
Penguatan pasar Jepang juga dipicu keputusan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menunjuk dua ekonom dengan pandangan suku bunga rendah ke dalam dewan bank sentral. Kebijakan ini dibaca pelaku pasar sebagai sinyal bahwa likuiditas akan tetap longgar dalam waktu dekat.
Di Korea Selatan, indeks Kospi melesat 2,3 persen ke 6.222,29. Penguatan saham teknologi menjadi motor utama, sekaligus membawa indeks melanjutkan reli setelah sehari sebelumnya menembus level 6.000 untuk pertama kalinya. Sepanjang tahun berjalan, Kospi sudah menguat sekitar 44 persen, pulih dari gejolak politik yang berakhir dengan vonis penjara seumur hidup terhadap mantan Presiden Yoon Suk Yeol.
Saham Samsung Electronics melonjak 5,5 persen, sedangkan produsen chip SK Hynix naik 2,5 persen. Di kawasan lain, indeks S&P/ASX 200 Australia bertambah 0,5 persen ke 9.174,50. Taiwan menguat 0,2 persen dan India naik 0,3 persen.
Namun tidak semua pasar bergerak searah. Hang Seng Hong Kong turun 0,4 persen ke 26.656,29, sementara Shanghai Composite melemah tipis 0,1 persen ke 4.144,08.
Laba Nvidia Redakan Keraguan Soal AI
Laporan keuangan Nvidia menjadi pusat perhatian pasar global. Perusahaan berbasis di California itu mencatatkan pendapatan kuartalan USD68 miliar atau sekitar Rp1.145 triliun, melonjak 73 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk kuartal berjalan, Nvidia memproyeksikan pendapatan mencapai USD78 miliar atau setara Rp1.314 triliun, melampaui ekspektasi analis.
CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan permintaan terhadap chip kecerdasan buatan masih sangat kuat..“Kecerdasan buatan sudah ada dan tidak akan mundur,” kata Huang dalam paparan kinerja perusahaan.
Setelah pengumuman tersebut, saham Nvidia naik tipis 0,2 persen dalam perdagangan setelah penutupan bursa. Kinerja yang solid membantu meredakan kekhawatiran bahwa investasi besar pada teknologi AI tidak akan menghasilkan keuntungan yang sepadan.
Meski demikian, sebagian investor masih memilih berhati-hati. Kepala riset pasar Asia Pasifik Capital Economics Thomas Mathews menilai pertumbuhan laba perusahaan, termasuk Nvidia, menjadi alasan kuat untuk optimistis terhadap Wall Street tahun depan.
“Pertumbuhan laba yang kuat, seperti yang terlihat dari laporan keuangan terbaru, menjadi alasan utama untuk memperkirakan S&P 500 akan berkinerja baik pada 2026,” tulisnya. Ia memproyeksikan indeks S&P 500 berpotensi mencapai 8.000 pada akhir tahun.
Pada perdagangan Kamis, S&P 500 menguat 0,8 persen ke 6.946,13. Dow Jones naik 0,6 persen ke 49.482,15 dan Nasdaq melesat 1,3 persen ke 23.152,08.
Komoditas dan Mata Uang Bergerak Terbatas
Di pasar komoditas, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat naik tipis USD0,16 ke USD65,58 per barel atau sekitar Rp1,10 juta. Minyak Brent menguat USD0,21 ke USD71,90 per barel atau setara Rp1,21 juta.
Sebaliknya, emas turun 0,3 persen dan perak merosot 2 persen. Pelemahan juga terjadi pada dolar Amerika Serikat yang turun ke 155,89 yen dari sebelumnya 156,39 yen. Euro diperdagangkan di level USD1,1817, sedikit lebih tinggi dibanding posisi sebelumnya.
Pergerakan yang tidak seragam di berbagai kelas aset mencerminkan kondisi pasar yang masih berada dalam fase menimbang arah. Kinerja Nvidia memang memberi napas bagi saham teknologi global, tetapi kehati-hatian investor menunjukkan euforia kecerdasan buatan belum sepenuhnya menghapus keraguan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.