KABARBURSA.COM — Apakah reli perak belakangan ini hanya euforia sesaat atau justru awal dari babak baru di pasar logam mulia? Di tengah lonjakan harga yang kian agresif dan minat investor yang kembali menghangat, satu suara lama kembali menggema dengan nada yang jauh lebih berani.
Penulis Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, memprediksi harga perak berpotensi melonjak tajam dalam waktu sangat singkat. Dalam unggahan terbarunya di platform X (dulu Twitter), Kiyosaki menyebut harga perak bisa melesat hingga USD107 per ons, bahkan “secepat hari Senin”.
Ia menilai, pengetatan pasokan perak global berpotensi memicu lonjakan harga secara tiba-tiba dari level saat ini, bahkan hanya dalam satu sesi perdagangan. Dalam unggahan yang sama, Kiyosaki juga menyinggung sisi permintaan industri.
“Tesla sedang kesulitan mendapatkan perak dalam jumlah yang cukup,” tulisnya sebagaimana, dikutip dari The Economic Times, Rabu, 21 Januari 2026.
Unggahan tersebut ditutup dengan seruan singkat, “Yay”, dan muncul di saat antusiasme terhadap perak sedang meningkat, baik di kalangan investor ritel maupun institusi. Logam mulia ini baru saja menembus sejumlah level harga penting.
Hal ini memperkuat sentimen bahwa reli perak belum sepenuhnya kehabisan tenaga. Dalam beberapa pekan terakhir, Kiyosaki juga berulang kali menyoroti perak. Ia optimismistis terhadap masa depan komoditas ini.
Optimisme Kiyosaki terhadap perak bukan cerita baru. Ia telah lama memposisikan perak bukan sekadar komoditas industri, melainkan juga alat lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang fiat. Pada 14 Januari, ia merayakan momen ketika harga perak menembus USD90 per ons.
“YAY: Perak di atas USD90 per ons. Apakah kamu ikut merayakannya?,” ujarnya.
Namun, dua hari sebelumnya, nada Kiyosaki sempat lebih berhati-hati. Ia menyebut harga perak mungkin sedang mendekati puncak jangka pendek, sembari tetap menegaskan strategi belinya.
“Saya akan membeli perak hingga USD100 dan menunggu… Para penjual akan menjatuhkan pasar perak… Saya berencana menukar perak saya dengan emas,” tegasnya.
Meski mengakui volatilitas, Kiyosaki menegaskan komitmennya pada nilai jangka panjang perak. Ia juga mengingatkan bahaya spekulasi berlebihan dan mengejar keuntungan jangka pendek. “Babi jadi gemuk… tapi celeng disembelih,” ujarnya.
USD70–USD200, Skenario Ekstrem 2026
Dalam catatan yang lebih panjang tertanggal 12 Januari, Kiyosaki menilai perak menembus USD80 per ons bukan alasan untuk mundur. “Apakah sudah terlambat membeli perak? Jawaban saya: tidak. Saya akan membeli perak hingga USD100… lalu menunggu dan melihat,” katanya.
Dalam unggahan lain yang lebih ambisius, ia bahkan menyebut skenario harga yang jauh lebih tinggi. “Saya percaya perak baru saja mulai bergerak, dan saya percaya perak di kisaran USD70–USD200 bisa menjadi kenyataan ekstrem pada 2026,” kata Kiyosaki.
Dalam pesan yang sama, Kiyosaki menekankan pentingnya berpikir independen dan berinvestasi jangka panjang. Ia mendorong para pengikutnya untuk melakukan riset sendiri dan memulai dari skala kecil, alih-alih terbawa euforia.
Komentar Kiyosaki terus menyedot perhatian, terutama ketika harga perak memang sedang reli di tengah ketidakseimbangan pasokan dan permintaan global. Kebutuhan industri—mulai dari energi terbarukan hingga kendaraan listrik—bertemu dengan minat investor yang kembali mencari aset lindung nilai.
Apakah harga perak benar-benar akan melonjak hingga USD107 per ons dalam waktu dekat, masih harus diuji oleh pasar. Namun satu hal jelas: narasi konsisten Kiyosaki soal perak kembali menghidupkan diskusi, memancing spekulasi, dan memperkuat posisi logam ini sebagai salah satu komoditas yang paling diperhatikan investor global saat ini.
Di tengah reli yang kian panas, pasar kini dihadapkan pada dilema lama: ikut merayakan kenaikan, atau bersiap menghadapi volatilitas yang datang bersamanya.
Diketahui, harga perak dunia memasuki awal 2026 dengan reli tajam dan bertahan di level tinggi. Di pasar global, perak diperdagangkan di kisaran USD94–95 per ons, mendekati rekor tertingginya, setelah melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan setahun lalu. Kenaikan ini didorong kombinasi permintaan investasi yang menguat dan pasokan global yang semakin ketat, membuat perak kembali mencuri perhatian sebagai aset lindung nilai alternatif selain emas.
Tren penguatan tersebut juga ditopang derasnya aliran dana investor ke instrumen berbasis perak, termasuk exchange-traded fund (ETF), di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain faktor safe haven, permintaan industri—mulai dari energi terbarukan hingga kendaraan listrik—ikut memperkuat fundamental perak. Di tengah reli inilah, sejumlah tokoh pasar mulai melontarkan proyeksi agresif, bahwa perak masih menyimpan ruang kenaikan lebih lanjut sepanjang 2026.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.