KABARBURSA.COM – Pergerakan bursa Asia hari ini didorong kombinasi tekanan energi global dan perubahan ekspektasi suku bunga. Lonjakan harga minyak serta kenaikan imbal hasil obligasi AS membentuk sikap hati-hati investor.
Sejumlah indeks utama kawasan tetap menguat, namun bergerak dalam bayang-bayang sentimen global yang belum stabil. Di Tokyo, Nikkei 225 ditutup di level 52.252,28, naik 736,79 poin atau 1,43 persen.
Penguatan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang masih dipengaruhi lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS, yang biasanya menjadi faktor penekan bagi pasar saham Asia. Tekanan global tersebut tercermin dari arus dana yang mulai keluar dari kawasan.
“Arus keluar dari pasar emerging Asia didorong sentimen risk-off yang meluas akibat konflik Timur Tengah, karena sebagian besar ekonomi emerging Asia merupakan importir bersih produk energi,” kata Jason Lui, head of APAC equity and derivative strategy, BNP Paribas, dikutip dari Reuters, 24 Maret 2026.
Di Korea Selatan, Kospi mencatat penguatan lebih tajam, naik 148,17 poin atau 2,74 persen ke level 5.553,92. Kenaikan ini mencerminkan minat beli yang masih bertahan, meskipun sektor teknologi tetap berada dalam tekanan akibat aksi ambil untung investor asing.
Tekanan Global Masih Membayangi
Di Hong Kong, Hang Seng melonjak 681,24 poin atau 2,79 persen menjadi 25.063,71, menunjukkan adanya ruang rebound setelah tekanan pada sesi sebelumnya. Sementara itu, indeks SSE Composite di China naik 68,00 poin atau 1,78 persen ke posisi 3.881,28.
Meski mayoritas indeks menguat, pelaku pasar tetap mencermati risiko global yang belum mereda, terutama terkait konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
“Masih banyak kebingungan dan kurang kejelasan soal Iran, berapa lama operasi militer akan berlangsung, dan apa konsekuensinya bagi minyak serta perdagangan global. Itu penggerak utamanya,” kata Oliver Pursche, senior vice president and advisor, Wealthspire Advisors, dikutip dari Reuters, 24 Maret 2026.
Dalam sepekan terakhir, pergerakan bursa Asia cenderung berada dalam tekanan akibat lonjakan harga minyak yang sempat menembus USD100 per barel dan mendorong kekhawatiran inflasi global.
Kondisi ini juga memicu kenaikan yield obligasi AS dan mempersempit ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter, sehingga menekan valuasi saham di kawasan.
Selain itu, aksi jual pada saham teknologi—khususnya di Korea Selatan dan Taiwan—menjadi faktor tambahan yang membebani sentimen, seiring investor melakukan rotasi keluar dari saham berbasis pertumbuhan yang sebelumnya mencatat reli kuat.
Pergerakan hari ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi penguatan indeks, arah pasar Asia masih sangat dipengaruhi faktor global, dengan investor tetap bersikap defensif sambil menunggu kejelasan terkait harga energi dan kebijakan suku bunga global.(*)