KABARBURSA.COM - Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) bergerak kontras dengan arus dana asing pada perdagangan 10 Februari 2026. Di tengah tekanan foreign net sell sebesar Rp37,11 miliar dari total nilai transaksi Rp267,05 miliar, harga justru ditutup menguat 7,56 persen ke level 1.210 atau naik 85 poin.
Secara proporsi, tekanan jual asing setara 13,9 persen dari total transaksi. Namun, tingginya tekanan jual belum mampu membalikkan arah pergerakan harga ke zona merah.
Sepanjang sesi, CDIA dibuka di 1.140 dan sempat menyentuh level tertinggi 1.245 sebelum akhirnya bertahan di 1.210. Rata-rata transaksi tercatat di 1.182 dengan volume mencapai 320,4 juta saham dan frekuensi 5.549 kali.
Kenaikan harga ini terjadi meski terdapat distribusi cukup besar dari pelaku pasar tertentu, yang menandakan adanya penyerapan agresif di sisi pembeli.
Dari struktur orderbook, tekanan jual memang terlihat tebal di atas harga penutupan. Pada level 1.215 terdapat antrean 4.662 lot, di 1.220 sebanyak 2.512 lot, dan meningkat signifikan di 1.235 hingga 45.984 lot. Bahkan di 1.250 terdapat 36.091 lot, mencerminkan suplai besar yang menunggu di atas harga pasar.
Namun di sisi bid, lapisan permintaan juga tidak tipis, dengan total antrean 413.431 lot dibandingkan 301.399 lot di sisi offer. Ketimpangan total lot ini menunjukkan bahwa secara agregat, permintaan masih lebih besar daripada suplai dalam antrian reguler.
Ini Broker yang Menahan
Broker summary memperlihatkan siapa yang berperan sebagai penahan tekanan jual tersebut. Di sisi pembeli, Semesta Indovest (MG) mencatat pembelian Rp7,8 miliar dengan 69,4 ribu lot pada harga rata-rata 1.114. Maybank Sekuritas (ZP) membukukan beli Rp4,9 miliar dengan 45,1 ribu lot di harga rata-rata 1.098.
Sementara di sisi penjual, Trimegah Sekuritas (LG) melepas Rp4 miliar dengan 36,9 ribu lot di harga rata-rata 1.094 dan Phillip Sekuritas (KK) menjual Rp3,2 miliar dengan 28,9 ribu lot di harga rata-rata 1.099.
Meski asing tercatat net sell secara agregat, distribusi broker menunjukkan bahwa pembelian domestik—khususnya dari sekuritas non-asing—cukup agresif di bawah harga penutupan. Rata-rata harga beli broker utama berada di kisaran 1.098–1.114, lebih rendah dari harga penutupan 1.210, sehingga posisi mark-to-market mereka berada dalam kondisi positif. Ini mengindikasikan adanya akumulasi yang mampu menyerap tekanan distribusi asing.
Fakta bahwa harga tetap bertahan di zona hijau bahkan mendekati high intraday menunjukkan bahwa permintaan domestik, baik dari investor ritel maupun institusi lokal, berperan sebagai penopang utama. Struktur bid yang lebih tebal serta dominasi total lot di sisi beli memperkuat indikasi bahwa tekanan jual asing tidak berdiri sendiri tanpa lawan.
Dengan demikian, pergerakan CDIA pada sesi ini mencerminkan duel antara distribusi asing dan akumulasi domestik. Arus keluar asing sebesar Rp37,11 miliar memang signifikan, tetapi belum cukup kuat untuk menekan harga selama likuiditas dan daya serap dari pelaku domestik tetap terjaga.
Selama permintaan mampu mempertahankan dominasi di orderbook, saham ini masih memiliki ruang untuk bertahan di zona hijau meskipun tekanan jual eksternal berlanjut.(*)