KABARBURSA.COM - Pergerakan saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pada perdagangan 25 Maret 2026 menunjukkan lonjakan yang cukup signifikan. Hal ini terjadi seiring dengan rilis kinerja keuangan yang memperlihatkan perubahan tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Saham CDIA ditutup di level 840 atau naik 7,69 persen dalam satu hari, bergerak dari pembukaan di 785 hingga sempat menyentuh level tertinggi di 855. Kenaikan ini terjadi di tengah posisi harga yang dalam beberapa bulan terakhir masih berada jauh di bawah level puncaknya.
Jika ditarik ke belakang, pergerakan harga CDIA dalam horizon yang lebih panjang masih menunjukkan tekanan yang cukup dalam. Dalam satu bulan terakhir, saham ini tercatat turun 23,64 persen, sementara dalam tiga bulan terkoreksi 49,09 persen dan dalam enam bulan mencapai 50,30 persen.
Secara year to date, penurunan juga masih berada di kisaran 49,70 persen, mencerminkan bahwa penguatan harian yang terjadi belum mengubah tren besar yang terbentuk sebelumnya.
Di tengah pergerakan harga tersebut, kinerja keuangan CDIA pada 2025 justru menunjukkan lonjakan yang signifikan. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp2,03 triliun, meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp497,8 miliar.
Kenaikan ini membuat laba per saham mencapai Rp16,27 per lembar, mencerminkan pertumbuhan yang cukup besar dalam satu tahun.
Namun, jika melihat lebih dalam ke struktur laporan keuangan, terdapat perbedaan antara pertumbuhan laba dan skala operasional. Pendapatan tercatat sebesar Rp2,48 triliun dengan laba operasi Rp374,3 miliar dan EBITDA Rp535,4 miliar.
Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar peningkatan laba bersih tidak sepenuhnya berasal dari ekspansi pendapatan, melainkan dari komponen lain di luar aktivitas operasional utama.
Dari sisi neraca, CDIA juga mencatat total aset sebesar Rp29,26 triliun dengan ekuitas Rp19,06 triliun. Struktur liabilitas terdiri dari utang jangka pendek Rp742 miliar dan utang jangka panjang Rp9,45 triliun, sehingga rasio debt to equity berada di level 0,54 kali.
Sementara itu, rasio debt terhadap EBITDA tercatat 19,06 kali dengan EBITDA terhadap beban bunga hanya 1,10 kali, menunjukkan bahwa beban pembiayaan masih cukup besar dibandingkan kemampuan operasional menghasilkan kas.
Di sisi valuasi, saham CDIA diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 51,94 kali dan price to book value (PBV) 5,53 kali. Kapitalisasi pasar tercatat sekitar Rp105,48 triliun dengan jumlah saham beredar mencapai 124,8 miliar lembar.
Rasio ini menempatkan valuasi CDIA pada level yang relatif tinggi dibandingkan ukuran pendapatan dan laba operasionalnya.
Kondisi tersebut tercermin pula dalam rasio profitabilitas, di mana return on assets (ROA) berada di 6,94 persen dan return on equity (ROE) sebesar 10,66 persen. Di sisi lain, efisiensi operasional terlihat dari margin laba yang masih terbatas jika dibandingkan dengan total aset dan struktur pembiayaan yang dimiliki perusahaan.
Dalam satu rangkaian, lonjakan laba bersih, struktur keuangan yang masih menanggung beban utang cukup besar, serta pergerakan harga saham yang sebelumnya terkoreksi dalam menjadi bagian dari dinamika yang membentuk posisi CDIA saat ini.
Kenaikan harga pada satu sesi perdagangan mencerminkan respons pasar terhadap data terbaru, sementara pergerakan historis dan struktur fundamental menunjukkan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi perusahaan secara keseluruhan.(*)