Logo
>

CLEO Catat Penjualan Rp2,82 Triliun, tapi Saham Masih Lesu

Penjualan CLEO naik 5 persen ke Rp2,82 triliun. Ekspansi pabrik berlanjut, namun saham masih tertekan dan isu free float jadi sorotan.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
CLEO Catat Penjualan Rp2,82 Triliun, tapi Saham Masih Lesu
Capaian penjualan bersih PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) meningkat. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) mengumumkan penjualan bersih sebesar Rp2,82 triliun. Capaian ini meningkat dari Rp2,70 triliun pada tahun sebelumnya.

Secara tahunan, penjualan CLEO tumbuh sekitar 5 persen, sejalan dengan rata-rata pertumbuhan industri AMDK nasional. Kinerja ini mencerminkan daya tahan permintaan pasar serta strategi distribusi yang tetap terjaga di berbagai wilayah.

Kontribusi terbesar terhadap penjualan berasal dari segmen botol yang mencapai Rp1,57 triliun. Sementara itu, segmen non botol menyumbang Rp1,20 triliun.

Kedua segmen tersebut mencatatkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 5 persen dan 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

CEO CLEO, Melisa Patricia, menyebut capaian ini menunjukkan ketahanan bisnis perseroan di tengah dinamika pasar yang semakin ketat.

“Di tengah pasar AMDK yang semakin kompetitif, kami bersyukur CLEO masih menunjukkan ketangguhan dengan menorehkan capaian penjualan yang positif, didukung produk yang variatif dan jaringan distribusi yang dekat dengan pasar untuk memenuhi kebutuhan air minum yang aman bagi pelanggan,” ujar Melisa dalam pernyataan tertulisnya pada Rabu, 1 April 2026.

Dari sisi operasional, kinerja CLEO ditopang oleh jaringan produksi yang luas dengan 32 pabrik yang telah beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, distribusi produk juga diperkuat oleh lebih dari 10.000 mitra, sehingga ketersediaan produk di pasar tetap terjaga.

Perseroan juga terus mendorong pertumbuhan melalui inovasi produk. Sepanjang 2025, CLEO meluncurkan dua varian baru, yakni Cleo 1 liter bottled on-the-go yang menyasar kebutuhan kemasan praktis, serta Cleo Lite 500 ml dengan desain botol ultra tipis yang lebih ramah lingkungan sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan.

Untuk memperkuat posisi di pasar sekaligus menjaga pertumbuhan jangka panjang, CLEO berencana mengoperasikan pabrik baru di Palu pada kuartal II 2026. Dengan tambahan tersebut, jumlah fasilitas produksi akan mencapai 33 pabrik pada semester I tahun ini.

Tidak hanya itu, perseroan juga tengah menyiapkan ekspansi lanjutan melalui pembangunan dua pabrik baru di Pekanbaru dan Pontianak yang saat ini masih dalam tahap perizinan.

“Kami meyakini bahwa kedekatan fasilitas produksi dengan konsumen menjadi kunci efisiensi distribusi dalam menjaga ketersediaan produk, sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan ke depan,” tambah Melisa.

Manajemen juga optimistis kinerja penjualan pada kuartal I 2026 dapat tumbuh double digit. Optimisme ini didukung oleh momentum Ramadan dan Lebaran yang secara historis mendorong peningkatan konsumsi, seiring naiknya mobilitas masyarakat.

Selain faktor musiman, ekspansi pabrik serta penguatan jaringan distribusi dinilai menjadi katalis utama yang dapat menopang pertumbuhan CLEO pada awal tahun ini. Dengan strategi tersebut, perseroan berupaya menjaga momentum kinerja di tengah kompetisi industri yang semakin dinamis.

Menilik data perdagangannya harga saham CLEO saat ini 398 per lembarnya pada penutupan perdagangan Selasa, 31 Maret 2026. Jika dilihat data 3 bulan terakhir saham ini mengalami tren bearish setelah sebelumnya berada di 472 per lembarnya.

Selain itu freefloat atau saham beredar perusahaan ini masih hanya sekitar 12,36 persen. Padahal Bursa Efek Indonesia dalam waktu dekat akan segera memberlakukan aturan freefloat perusahaan tercatat wajib minimal 15 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".