Logo
>

CTRA, ITMG, RAJA: Buy on Weakness Saat IHSG Dibayangi Profit Taking

Penguatan indeks mulai dibayangi aksi ambil untung, sementara sejumlah saham direkomendasikan buy on weakness hingga sell on strength berdasarkan struktur gelombang dan area teknikal kunci.

Ditulis oleh Yunila Wati
CTRA, ITMG, RAJA: Buy on Weakness Saat IHSG Dibayangi Profit Taking
Aksi profit taking membayangi pergerakan IHSG pada perdagangan esok hari. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan terakhir perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, memberikan sinyal yang tidak sepenuhnya satu arah. Indeks menguat 0,47 persen ke level 9.075, tetapi penguatan ini tidak datang dalam kondisi yang sepenuhnya solid karena disertai kemunculan tekanan jual. 

    Target teknikal di 9.100 yang sebelumnya menjadi acuan jangka pendek telah tercapai, sehingga fokus pasar kini bergeser pada keberlanjutan momentum sekaligus potensi koreksi teknikal.

    MNC Sekuritas dalam catatan teknikalnya menempatkan posisi IHSG masih berada di bagian dari wave (v) dari wave [iii]. Artinya, secara struktur gelombang, penguatan belum sepenuhnya selesai, namun ruang konsolidasi tetap terbuka.  Area yang perlu dicermati berada pada rentang koreksi 8.970–9.039, sementara area penguatan berikutnya dipetakan di 9.123–9.151. 

    Dari sisi level kunci, support berada di 8.956 dan 8.908, sedangkan resistance jangka pendek tercatat di 9.077 dan 9.012. Struktur ini menggambarkan bahwa meski indeks masih berada dalam fase naik, pasar mulai memasuki fase yang lebih sensitif terhadap aksi ambil untung.

    Di tengah dinamika IHSG tersebut, MNC Sekuritas juga merilis sejumlah rekomendasi saham berbasis analisis teknikal. Saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menjadi salah satu yang masuk dalam radar dengan strategi buy on weakness. 

    Pada perdagangan terakhir, CTRA ditutup menguat 3,87 persen ke level 940, dengan peningkatan volume pembelian yang menandakan adanya minat beli yang relatif aktif. Secara struktur gelombang, posisi CTRA diperkirakan berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii], yang umumnya identik dengan fase penguatan impulsif. 

    Area beli direkomendasikan pada kisaran 900–920, dengan target harga di 960 dan 975, serta batas risiko di bawah 880.

    Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga masuk dalam kategori buy on weakness. ITMG menguat 0,56 persen ke level 22.275 dan masih didominasi oleh volume pembelian, meski pergerakannya tertahan oleh garis rata-rata MA60. 

    MNC Sekuritas menilai ITMG berada di bagian akhir dari wave [i] dari wave 1, yang berarti secara teknikal masih berada pada fase awal siklus penguatan. Area beli dipetakan di rentang 22.175–22.275, dengan target harga di 22.475 dan 22.675, serta stoploss di bawah 22.125.

    Untuk saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), pendekatan yang digunakan adalah speculative buy. Saham ini terkoreksi 0,74 persen ke level 6.700 dan disertai tekanan jual. Namun selama harga masih bertahan di atas 6.525 sebagai batas risiko, RAJA diperkirakan berada pada bagian dari wave B dari wave (4). 

    Area spekulatif berada di kisaran 6.625–6.700, dengan target harga 6.975 dan 7.500. Level stoploss ditempatkan di bawah 6.525.

    Berbeda dengan tiga saham sebelumnya, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) justru ditempatkan dalam strategi sell on strength. KLBF terkoreksi 2,03 persen ke level 1.205 pada perdagangan sebelumnya dan menunjukkan tekanan jual, meski koreksinya masih tertahan oleh MA20. 

    MNC Sekuritas memperkirakan KLBF berada di awal wave [c] dari wave 2, yang secara teknikal sering kali identik dengan fase koreksi lanjutan. Saham ini dinilai masih rawan melanjutkan pelemahan ke area 1.095–1.165, sekaligus menutup gap yang ada. Area jual direkomendasikan pada rentang 1.215–1.230.

    Kombinasi antara penguatan IHSG yang mulai diiringi tekanan jual dan munculnya rekomendasi yang cenderung selektif menunjukkan bahwa pasar sedang memasuki fase yang lebih berhati-hati. Secara teknikal, ruang kenaikan masih terbuka, tetapi risiko koreksi jangka pendek juga meningkat. 

    Rekomendasi saham dari MNC Sekuritas memperlihatkan pola yang beragam, mulai dari buy on weakness pada saham-saham yang masih berada dalam struktur impulsif, speculative buy pada saham yang sedang dalam fase koreksi gelombang, hingga sell on strength pada saham yang dinilai rawan melanjutkan pelemahan.

    Dengan struktur seperti ini, fokus pelaku pasar pada perdagangan esok hari kemungkinan tidak lagi semata mengejar kenaikan indeks, melainkan lebih pada selektivitas saham dan respons terhadap area teknikal yang telah dipetakan.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79