Logo
>

Dejavu 2022: Menguji Nyali IHSG di Tengah Kobaran Api Timur Tengah

Lonjakan harga minyak akibat konflik AS–Iran kembali mengguncang pasar. Bagaimana dampaknya ke IHSG dibanding krisis energi 2022?

Ditulis oleh Syahrianto
Dejavu 2022: Menguji Nyali IHSG di Tengah Kobaran Api Timur Tengah
Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah kembali memicu volatilitas pasar dan menguji ketahanan IHSG seperti pada krisis energi 2022. (Foto: Dok. PxHere)

KABARBURSA.COM – Lonjakan harga minyak dunia kembali mengguncang pasar keuangan global setelah konflik Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi dunia. Pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, harga minyak Brent sempat menembus level psikologis US$100 per barel, memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi global serta arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai eskalasi konflik di Timur Tengah langsung meningkatkan kewaspadaan pasar energi global. Ancaman terhadap Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, dinilai berpotensi memicu gangguan distribusi energi global.

“Ancaman terhadap Selat Hormuz langsung memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi energi global,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam laporan Market Update pada 4 Maret 2026.

Menurut Kiwoom, kondisi tersebut memiliki implikasi langsung bagi Indonesia yang masih berstatus net oil importer. Setiap kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan tekanan fiskal negara.

“Setiap kenaikan US$1 harga minyak diperkirakan menambah beban APBN sekitar Rp10,3 triliun, sementara tambahan penerimaan negara hanya sekitar Rp3,6 triliun,” tulis laporan tersebut.

Pergeseran Ekspektasi Suku Bunga

Lonjakan harga energi juga mulai memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global. Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini memperkirakan peluang lebih besar bagi The Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni 2026.

Senior Reporter sekaligus analis ekonomi Jim Tyson menyebut perubahan ekspektasi tersebut terjadi karena lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi.

“Probabilitas The Fed menahan suku bunga di level 3,5 persen hingga 3,75 persen pada pertemuan Juni kini melonjak menjadi 62,4 persen, naik dari sebelumnya 54,1 persen sebelum konflik pecah,” kata Tyson pada Selasa, 10 Maret 2026.

Menurut Tyson, kenaikan harga energi juga mulai tercermin dalam harga bahan bakar di Amerika Serikat.

“Ketakutan terhadap stagflasi meningkat setelah harga bensin melonjak sekitar 16 persen dalam sepekan,” ujarnya.

Perubahan ekspektasi tersebut menjadi perhatian pasar karena suku bunga global yang bertahan tinggi biasanya memicu tekanan terhadap pasar saham negara berkembang.

Playbook 2022

Peristiwa yang terjadi saat ini mengingatkan pasar pada episode serupa pada 2022 ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan tajam harga energi dunia.

Setelah Rusia melancarkan invasi pada 24 Februari 2022, harga minyak dunia melonjak dalam waktu singkat. Pada 7 Maret 2022, harga minyak Brent sempat menyentuh US$139 per barel, level tertinggi sejak krisis keuangan global.

Meski sempat berfluktuasi setelah mencapai puncaknya, harga minyak tetap bertahan pada level tinggi di kisaran US$100 hingga US$120 per barel selama beberapa bulan sebelum mulai menurun pada paruh kedua tahun tersebut.

Pada fase awal lonjakan harga energi tersebut, pasar saham Indonesia justru sempat menguat karena kenaikan harga komoditas ekspor utama.

Harga batu bara Newcastle saat itu melonjak hingga melampaui US$400 per ton, sementara harga crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia mencapai sekitar RM7.000 per ton.

Namun penguatan tersebut tidak berlangsung lama. Seiring kenaikan suku bunga global dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan, IHSG akhirnya terkoreksi dari puncaknya.

Dari level sekitar 7.049 pada Maret 2022, indeks saham Indonesia turun menuju kisaran 6.509 pada Mei 2022, mencatat koreksi sekitar 7 persen.

Lonjakan Baru di 2026

Situasi yang terjadi pada Maret 2026 menunjukkan pola yang memiliki kemiripan dengan episode tersebut.

Lonjakan harga minyak kali ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur distribusi energi global, terutama di kawasan Selat Hormuz.

Ketika harga minyak menembus US$100 per barel pada 9 Maret, pasar saham global merespons dengan volatilitas yang meningkat.

Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam. Indeks sempat turun dari kisaran 7.900 menuju 7.374 dalam waktu kurang dari dua pekan perdagangan.

Tekanan tersebut juga terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS sebelum kembali bergerak di sekitar Rp16.800 per dolar AS.

Namun sentimen pasar mulai berubah setelah muncul sinyal de-eskalasi konflik. Pada Senin malam waktu Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran berpotensi berakhir dalam waktu dekat.

Pernyataan tersebut direspons oleh pasar energi. Harga minyak Brent tercatat turun sekitar 7,2 persen pada Selasa, 10 Maret menuju level US$91,8 per barel.

Perubahan sentimen tersebut juga tercermin pada pergerakan IHSG yang menguat sekitar 1,41 persen pada perdagangan yang sama.

Perbedaan penting antara kondisi 2022 dan 2026 terlihat pada pergerakan komoditas yang menjadi penopang pasar saham Indonesia.

Pada 2022, lonjakan harga energi terjadi bersamaan dengan kenaikan tajam harga batu bara dan CPO yang menjadi sumber pendapatan utama sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia.

Pada 2026, pergerakan komoditas tidak menunjukkan kenaikan setajam periode tersebut. Harga batu bara Newcastle berada di kisaran US$140 per ton, jauh di bawah puncaknya pada 2022.

Harga CPO juga bergerak di kisaran RM4.000 hingga RM4.500 per ton, lebih rendah dibandingkan periode krisis energi sebelumnya.

Kondisi ini membuat bantalan terhadap pasar saham domestik tidak sekuat yang terjadi pada periode 2022.

Sektor Saham yang Terpengaruh

Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai kenaikan harga energi global dapat memberikan dampak berbeda bagi sektor saham di Indonesia.

Sektor energi seperti perusahaan migas dan batu bara dinilai berpotensi mendapat sentimen positif jika harga energi global meningkat.

Beberapa emiten yang disebut antara lain PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) serta perusahaan batu bara seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Sebaliknya, sejumlah sektor lain berpotensi menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi.

Sektor transportasi dan logistik dinilai rentan karena biaya bahan bakar merupakan komponen utama dalam struktur operasional. Sektor manufaktur juga menghadapi risiko kenaikan biaya produksi, sementara sektor konsumer berpotensi terdampak jika inflasi energi menekan daya beli masyarakat. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.