KABARBURSA.COM – Bursa saham Indonesia kembali bergairah pada perdagangan sesi pertama Rabu, 10 Juni 2026. Setelah sehari sebelumnya mencatat rebound spektakuler, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih melanjutkan tren positif dengan menguat 134,58 poin atau 2,34 persen ke level 5.881,23.
Grafik intraday memperlihatkan IHSG sempat bergerak agresif hingga menyentuh level tertinggi 5.939,35, sebelum mengalami profit taking ringan dan bergerak stabil di kisaran 5.880 hingga penutupan sesi pertama.
Sepanjang sesi, indeks dibuka di level 5.744,06 dan sempat menyentuh titik terendah 5.677,97, jauh di atas posisi penutupan sebelumnya di 5.746,65.
Aktivitas transaksi juga mencerminkan antusiasme investor yang cukup tinggi. Volume perdagangan mencapai 316,81 juta lot dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,04 juta kali dan menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp19,94 triliun.
Pada pasar reguler sendiri tercatat volume 306,85 juta lot dengan nilai transaksi Rp18,75 triliun dan frekuensi yang sama, yakni 2,04 juta kali.
Reli IHSG kali ini ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar dan sektor teknologi yang tampil sebagai pemimpin kenaikan. Sektor teknologi melonjak 4,30 persen dengan saham-saham seperti KIOS, DIVA, DCII, BUKA, dan EMTK menjadi motor penggerak utama.
Di kelompok LQ45, saham DEWA, BRPT, BBNI, BBCA, MDKA, INKP, dan MBMA berhasil masuk daftar top gainers dan ikut menjaga momentum penguatan indeks.
Namun, tidak semua saham menikmati pesta hijau. PT Astra International Tbk (ASII), justru bergerak berlawanan arah dan masuk dalam daftar top losers LQ45 bersama SCMA, JPFA, MEDC, CPIN, ICBP, dan HRTA.
ASII Anjlok 1,93 Persen
Pada perdagangan sesi pertama, ASII ditutup di level 4.580 atau turun 90 poin atau 1,93 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 4.670. Saham ini dibuka di level 4.650, sempat bergerak naik mengikuti sentimen positif pasar, tetapi tekanan jual membuat harga kembali melemah hingga berada di bawah level pembukaan.
Jika melihat perjalanan beberapa hari terakhir, pergerakan ASII memang masih didominasi tekanan jual. Dalam periode 20 Mei hingga 10 Juni 2026, saham ini lebih sering ditutup di zona merah dibandingkan zona hijau.
Pada 20 Mei, ASII berada di level 5.975 dan hanya naik tipis 25 poin atau 0,42 persen. Sehari sebelumnya, 19 Mei, saham ini turun 50 poin atau 0,83 persen ke level 5.950.
Tekanan semakin besar pada 21 Mei ketika harga anjlok 375 poin atau 6,28 persen menjadi 5.600. Penurunan berlanjut pada 22 Mei sebesar 200 poin atau 3,57 persen ke level 5.400, sebelum sempat rebound pada 25 Mei dengan kenaikan 200 poin atau 3,70 persen menjadi 5.600.
Sayangnya, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Pada 26 Mei ASII kembali terkoreksi tajam 475 poin atau 8,48 persen ke level 5.125. Setelah itu pelemahan masih berlanjut pada 29 Mei menjadi 5.000 atau turun 125 poin atau 2,44 persen, kemudian turun lagi pada 2 Juni ke level 4.900 atau minus 2 persen.
Tekanan jual terus berlanjut pada 3 Juni ketika saham turun menjadi 4.840, kemudian pada 4 Juni turun lagi ke 4.630 dengan pelemahan 4,34 persen. Pada 5 Juni harga kembali melemah ke 4.570 sebelum akhirnya memperoleh napas baru pada 8 Juni dengan kenaikan 210 poin atau 4,60 persen ke level 4.360.
Momentum positif semakin terlihat pada 9 Juni ketika ASII melonjak 310 poin atau 7,11 persen ke level 4.670. Namun, kenaikan tersebut ternyata lebih banyak dimanfaatkan investor sebagai momentum profit taking sehingga pada 10 Juni saham kembali turun 90 poin atau 1,93 persen ke level 4.580.
Aktivitas Jual Asing Tinggi
Dari sisi aktivitas investor asing, tekanan jual juga masih cukup terasa. Pada perdagangan 9 Juni, nilai foreign buy tercatat sebesar Rp276,39 miliar, sedangkan foreign sell mencapai Rp313,82 miliar sehingga terjadi net foreign sell sekitar Rp37,43 miliar.
Sebelumnya, pada 8 Juni justru terjadi net foreign buy Rp10,78 miliar dengan foreign buy Rp314,07 miliar dan foreign sell Rp303,30 miliar. Namun aliran dana asing itu tidak mampu bertahan karena pada 5 Juni kembali terjadi net foreign sell Rp34,43 miliar.
Tekanan yang lebih besar bahkan terlihat pada 4 Juni dengan net foreign sell mencapai Rp119,72 miliar, kemudian 3 Juni sebesar Rp136,63 miliar dan 2 Juni sebesar Rp228,68 miliar.
Meski pada 29 Mei sempat terjadi net foreign buy Rp136,83 miliar, sentimen tersebut kembali berubah menjadi negatif pada 26 Mei dengan net foreign sell Rp28,14 miliar, 25 Mei sebesar Rp47,69 miliar, 22 Mei Rp54,05 miliar, 21 Mei Rp103,50 miliar, dan 20 Mei Rp100,70 miliar.
Analisis Teknikal ASII: Bagaimana di Sesi Dua?
Secara teknikal, kondisi ASII masih belum menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat. Ringkasan indikator memberikan status "Sangat Jual" dengan komposisi beli 0, netral 0, dan jual 9.
RSI(14) berada di level 32,084 yang mengindikasikan saham mulai mendekati area oversold. STOCH(9,6) berada di level 16,9 dengan status jual berlebih, sementara STOCHRSI(14) di level 35,664 masih memberikan sinyal jual.
MACD(12,26) berada di level minus 401,484 yang menunjukkan momentum bearish masih dominan. ADX(14) berada di level 45,944 yang menandakan tren yang sedang berlangsung masih cukup kuat.
Sementara itu, Williams %R berada di minus 86,857, CCI(14) di minus 84,8633, ATR(14) sebesar 270,3571 yang menunjukkan volatilitas tinggi, dan indikator Highs/Lows(14) berada di minus 407,5, semuanya masih mengarah pada kecenderungan tekanan jual.
Dari sisi pivot point, level 4.570 menjadi area yang sangat penting karena menjadi pivot klasik sekaligus pivot Fibonacci dan Camarilla. Apabila level ini mampu dipertahankan, peluang technical rebound menuju resistance 4.780, kemudian 4.890 hingga 5.100 masih terbuka.
Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan harga turun di bawah 4.570, maka support berikutnya berada di level 4.460, kemudian 4.250 dan 4.140.
Dengan dominasi sinyal teknikal yang masih negatif serta arus dana asing yang belum sepenuhnya berbalik masuk, ASII berpotensi bergerak volatil pada sesi berikutnya dengan kecenderungan melanjutkan fase konsolidasi di sekitar area pivot sambil menunggu munculnya katalis baru yang mampu mengubah sentimen pasar.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.