KABARBURSA.COM – Andi Rizal Mallarangeng masih mengamankan posisinya sebagai Komisaris PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Kepastian ini diperoleh usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 memutuskan untuk tidak merombak posisinya di dewan pengawas.
Pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini telah mengawal tata kelola perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut sejak 19 Juni 2020.
Tokoh politik yang akrab disapa Celli ini tidak hanya dikenal sebagai petinggi perusahaan korporasi, tetapi juga pemikir yang peduli pada tingkat literasi bangsa.
"Sebuah bangsa tidak dihormati karena emasnya atau minyaknya, tetapi karena ilmu pengetahuan yang dikembangkannya," kata Rizal Mallarangeng saat memaparkan visinya di kantor Perpustakaan Umum Freedom Institute dikutip dari laman resminya, Rabu, 10 Juni 2026.
Ia meyakini pusat informasi publik harus terus dihidupkan secara konsisten demi kemajuan negara.
Pengalamannya menimba ilmu di luar negeri menjadi salah satu titik balik paling berharga dalam jalan hidupnya. "Perubahan yang paling fundamental bagi saya, Fulbright menanamkan cinta pada informasi dan pendidikan untuk masyarakat luas," tegasnya.
Ia menerapkan pelajaran berharga tersebut dengan mendirikan perpustakaan umum yang kini mengoleksi belasan ribu buku dan puluhan jurnal ilmiah.
Sangat Lekat dengan Dunia Akademik dan Aktivisme
Profil Rizal Mallarangeng memang sangat lekat dengan dunia akademik dan aktivisme sejak ia masih berusia muda. Ia lahir pada 29 Oktober 1964 dan merupakan keturunan langsung dari panglima perang terakhir Kerajaan Bone.
Rizal muda awalnya meniti jalan yang sangat berbeda dengan menjadi atlet tenis berprestasi di SMAN Ragunan Jakarta. Ia bahkan pernah meraih juara dua dalam turnamen tenis antarpelajar ASEAN di Bangkok pada tahun 1981.
Lulus dari sekolah atlet, ia membanting setir ke dunia akademik yang sarat dengan pergulatan pemikiran. Rizal melanjutkan pendidikan sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM).
Di kampus itulah insting politik dan kepekaan intelektualnya mulai terasah dengan sangat tajam. Ia aktif dalam kelompok diskusi kritis mahasiswa dan sesekali memimpin gerakan demonstrasi turun ke jalan.
Rasa haus akan ilmu membawanya terbang ke Amerika Serikat pada tahun 1992 silam. Rizal sukses mendapatkan beasiswa bergengsi Fulbright untuk meneruskan program magister dan doktoral.
Ia mendalami ilmu politik secara komprehensif di Ohio State University di bawah bimbingan langsung Profesor William Liddle. Ia kemudian berhasil menyelesaikan studi doktoralnya pada tahun 2000 dan kembali ke Tanah Air setahun kemudian.
Karier profesionalnya di Indonesia bermula sebagai staf peneliti utama di Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Ia juga sempat mengecap kerasnya dunia jurnalistik dengan menjadi redaktur khusus dan pembawa acara di stasiun televisi Metro TV.
Bersama beberapa tokoh intelektual terkemuka, ia mendirikan wadah bernama Freedom Institute pada tahun 2001. Lembaga independen ini menjadi pusat kajian bagi para cendekiawan muda beraliran liberal dan pendukung ekonomi berhaluan kanan.
Kepiawaiannya merangkai kata membawa Rizal masuk ke lingkaran dalam istana negara. Ia pernah dipercaya secara khusus sebagai penulis naskah pidato untuk Presiden Megawati Soekarnoputri. Karier politiknya makin mentereng saat ia diangkat menjadi staf khusus Aburizal Bakrie.
Saat itu, Aburizal tengah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan kemudian bergeser menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.
Rizal sempat mencuri perhatian publik secara luas pada pertengahan tahun 2008. Ia dengan percaya diri mendeklarasikan diri sebagai calon presiden independen untuk Pemilihan Umum 2009 dengan slogan khas "RM09".
Berbagai kampanye udara melalui iklan televisi dilakukan secara masif dan terstruktur. Namun, ia secara realistis memilih mundur pada November 2008 karena tingkat elektabilitasnya belum mampu menyaingi tokoh-tokoh senior.
Kegagalan maju sebagai calon presiden tidak menyurutkan langkah politiknya di panggung nasional.
Rizal memutuskan bergabung dengan Partai Golkar dan langsung menempati posisi strategis di tingkat pusat. Ia diangkat menjadi Ketua Bidang Pemikiran dan Kajian Kebijakan pada era kepemimpinan Aburizal Bakrie.
Kiprahnya berlanjut pada masa Airlangga Hartarto dengan menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta.
Menjelang kontestasi Pilpres 2019, Rizal Mallarangeng menunjukkan manuver politik yang lincah dan taktis. Ia didaulat menjadi Koordinator Nasional Relawan Golkar Jokowi (Gojo). Upaya penggalangan massanya tersebut turut mengantarkan pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin memenangkan tampuk kepemimpinan.
Di sela-sela kesibukan berpolitik, ia tetap produktif menulis buku seperti karya berjudul Dari Langit dan Dari Jokowi ke Harari.
Pandangan geopolitik global Rizal juga terbilang cukup luas dan selalu tajam. Ia baru-baru ini menyoroti pendirian Board of Peace (BoP) di Washington DC, Amerika Serikat. Ia menilai tatanan geopolitik lama telah terbukti gagal meredam konflik ratusan tahun antara Palestina dan Israel. BoP dianggapnya sebagai terobosan berani untuk membangun perdamaian yang langgeng sekaligus memulihkan kondisi negara Palestina.
Kini, pemikiran analitis dan dedikasi Rizal disumbangkan sepenuhnya untuk mengawasi tata kelola kinerja Telkom Indonesia.
Berdasarkan data kepemilikan saham jajaran direksi dan dewan komisaris, Rizal tercatat memegang sebanyak 3,24 juta lembar saham Telkom.
Angka ini menjadikannya salah satu individu di jajaran dewan pengawas dengan porsi kepemilikan saham pribadi yang tercatat paling menonjol.
Selain mengawasi jalannya bisnis di Telkom, Rizal juga menjabat pos penting di beberapa perusahaan besar lainnya. Ia dipercaya duduk sebagai Komisaris PT Energi Mega Persada sejak tahun 2021.
Ia juga sempat menjabat sebagai Komisaris PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk pada periode 2024 hingga 2025.
Pengalamannya yang membentang lintas sektor ini membuatnya menjadi figur senior yang sangat diperhitungkan di kancah korporasi nasional.(*)
Tabel Susunan Dewan Komisaris PT Telkom Indonesia (RUPST 2025)
| Jabatan | Nama Pejabat |
|---|---|
| Komisaris Utama | Angga Raka Prabowo |
| Komisaris | Rizal Mallarangeng |
| Komisaris | Ossy Darmawan |
| Komisaris | Edwin Hidayat Abdullah |
| Komisaris Independen | Deswhandy Agusman |
| Komisaris Independen | Ira Noviarti |
| Komisaris Independen | Rofikoh Rokhim |
| Komisaris Independen | Anthony Leong |
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.