KABARBURSA.COM – PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) menegaskan langkah strategis perusahaan dalam memperbaiki profitabilitas melalui optimalisasi portofolio aset, termasuk penjualan dua properti bekas Giant dan rencana divestasi delapan aset tambahan pada tahun mendatang.
Penegasan tersebut disampaikan manajemen dalam paparan kinerja kuartal III 2025, di tengah kondisi konsumsi rumah tangga Indonesia yang masih tumbuh di bawah 5 persen.
Direktur Utama DFI Retail Nusantara Tbk, Hadrianus Wahyu Trikusumo menjelaskan, penjualan properti merupakan langkah efisiensi yang sudah direncanakan sejak lama, mengingat aset tersebut tidak lagi digunakan pasca penutupan operasional Giant.
“Aset yang kami jual adalah tanah dan bangunan bekas operasional Giant. Karena tidak digunakan dan tetap menimbulkan biaya pemeliharaan, kami putuskan untuk melepasnya secara bertahap sesuai harga pasar,” kata Hadrianus di Tangerang dikutip Kamis, 11 Desember 2025.
Dua properti yang telah terjual masing-masing bernilai sekitar Rp30 miliar dan Rp90 miliar, ia mengatakan harga itu sesuai kisaran market price.
Perusahaan kini menyiapkan delapan properti tambahan untuk dijual pada 2026, seluruhnya juga merupakan aset bekas Giant.
“Nilainya saya tidak ingat satu per satu, tetapi keseluruhannya kami pastikan dijual pada harga pasar. Tantangannya mencari pembeli, karena aset besar di kondisi ekonomi saat ini perlu kecocokan dengan rencana bisnis mereka,” ujar Hadrianus.
Kontribusi IKEA dan Guardian Sama-Sama Membaik
Perusahaan menegaskan bahwa kedua lini bisnis yakni Guardian dan IKEA mencatatkan peningkatan kinerja operasional dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski manajemen tidak mengungkap komposisi kontribusi laba masing-masing segmen, keduanya disebut menyumbang perbaikan signifikan terhadap profit perusahaan.
Direktur Keuangan, Paulus Raharja menambahkan bahwa kerugian yang dicatatkan perusahaan pada periode ini terutama dipengaruhi faktor one-off dari aset properti.
“Jika elemen one-off properti dikeluarkan, bisnis operasional IKEA dan Guardian menghasilkan laba Rp35 miliar, meningkat 46 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” ungkap Paulus.
Ia menegaskan bahwa restrukturisasi portofolio aset, efisiensi biaya, serta peningkatan efektivitas supply chain telah membantu memperbaiki keuntungan operasional, terutama di IKEA yang sebelumnya mencatat kerugian lebih besar.
“Kerugian IKEA sudah turun lebih dari setengah dibanding tahun lalu. Upaya efisiensi dan peningkatan jangkauan penjualan mulai terlihat hasilnya,” ujar Paulus.
Ia menegaskan pertumbuhan berlanjut setelah IKEA kini memperluas akses melalui Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop untuk menjangkau lebih banyak daerah yang belum memiliki toko fisik.
Sementara, Guardian juga mencatat pertumbuhan positif, didorong oleh permintaan produk kesehatan dan kecantikan serta pembaruan berkelanjutan atas ragam produknya. Brand tersebut mencatat pertumbuhan like-for-like sebesar 9 persen sepanjang 9 bulan pertama 2025.(*)