KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka Dow Jones turun pada Minggu, 29 Maret 2026 malam, diikuti oleh futures S&P 500 dan Nasdaq.
Itu terjadi ketika Pentagon dilaporkan tengah menyiapkan operasi darat berkepanjangan di Iran, sementara kelompok Houthi di Yaman telah ikut terlibat dalam konflik. Di sisi lain, pengiriman Tesla dilaporkan lebih baik dari perkiraan.
Seperti dilansir Investor's Business Daily, pasar saham mencatat penurunan pada indeks utama untuk pekan kelima berturut-turut, dengan level indeks jatuh ke titik terendah dalam enam bulan.
Saham sektor memori seperti Sandisk dan Micron Technology mengalami tekanan jual akibat kekhawatiran terhadap permintaan jangka panjang, meski sempat rebound pada Jumat. Secara keseluruhan, saham semikonduktor mencatat penurunan signifikan sepanjang pekan.
Sebaliknya, saham Dow seperti Caterpillar, peritel diskon TJX Cos., serta perusahaan tambang batu bara Peabody Energy menunjukkan kinerja relatif kuat.
Dow Jones futures turun 0,5 persen dibandingkan nilai wajarnya. S&P 500 futures juga turun 0,5 persen, sementara Nasdaq 100 futures melemah 0,5 persen.
Perlu dicatat bahwa pergerakan futures pada malam hari tidak selalu mencerminkan arah perdagangan pada sesi reguler berikutnya.
AS Siapkan Operasi Darat di Iran
Departemen Pertahanan Amerika Serikat tengah menyiapkan rencana operasi darat yang dapat berlangsung selama beberapa minggu, menurut laporan The Washington Post yang mengutip pejabat AS. Ribuan tentara dan marinir Amerika juga mulai dikerahkan ke kawasan tersebut.
Operasi yang direncanakan diperkirakan lebih menyerupai serangan skala besar dibandingkan invasi penuh. Perencanaan militer mencakup berbagai skenario, namun belum jelas apakah Presiden Donald Trump akan menyetujui seluruh atau sebagian rencana tersebut.
Trump juga menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Namun, Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal tanpa persetujuan Teheran.
Kapal tanker minyak dan LNG terakhir dari Teluk Persia diperkirakan tiba di tujuan dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini menandakan potensi kekurangan pasokan di negara konsumen, dimulai dari Asia, kemudian Afrika, Eropa, dan dalam skala lebih kecil di Amerika Serikat.
Pelepasan cadangan global diperkirakan hanya memberikan dampak sementara terhadap harga minyak. Sementara itu, peningkatan penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara dapat menutupi sebagian kekurangan LNG.
Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran turut masuk ke konflik dengan meluncurkan rudal balistik ke Israel. Risiko berikutnya adalah potensi gangguan terhadap jalur tanker di Laut Merah, yang dapat mengancam upaya Arab Saudi untuk menghindari Selat Hormuz melalui jalur pipa barat.
Pergerakan Pasar Pekan Lalu
Pasar saham sempat dibuka menguat di awal pekan, seiring turunnya harga minyak setelah Presiden Trump menyebut pembicaraan damai sebagai “produktif”. Namun, Iran menolak rencana tersebut dan Selat Hormuz tetap ditutup.
Meskipun Trump kembali memperpanjang tenggat negosiasi hingga 6 April, tekanan jual meningkat menjelang akhir pekan, sementara harga minyak justru mencetak level tertinggi baru.
Indeks utama jatuh ke level terendah dalam enam bulan dan menghentikan upaya pemulihan yang sebelumnya sempat terjadi.
Indeks Dow Jones turun 0,9 persen sepanjang pekan. S&P 500 melemah 2,1 persen, sementara Nasdaq anjlok 3,2 persen. Indeks saham kecil Russell 2000 naik 0,5 persen, namun turun dari level tertinggi pertengahan pekan dan berada dekat garis rata-rata 200 hari.
Saham semikonduktor menjadi salah satu sektor dengan penurunan terbesar, diikuti pelemahan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Secara umum, penurunan terjadi secara luas, terutama di luar sektor energi. ETF Invesco S&P 500 Equal Weight turun 1,1 persen dan bergerak di bawah rata-rata 200 hari serta level terendah sebelumnya.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5 basis poin menjadi 4,44 persen, meski sempat menyentuh 4,48 persen pada Jumat. Dalam empat pekan terakhir, imbal hasil ini telah naik total 48 basis poin.
Harga minyak mentah AS naik 1,4 persen menjadi USD99,64 per barel sepanjang pekan, setelah sempat turun ke kisaran USD88 pada awal pekan. Penutupan Jumat menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022.
Pasar mulai merespons lebih hati-hati pernyataan optimistis Trump terkait konflik Iran. Seiring berlanjutnya konflik dan meningkatnya potensi gangguan pasokan energi, tekanan terhadap pasar dinilai semakin nyata.(*)