KABARBURSA.COM – Sejumlah pengamat menilai, penguatan indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) dinilai belum terlalu besar. Kendati demikian, rupiah justru tertekan dan melemah jik dibanding sejumlah mata uang lain.
Analis Komoditas dan Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pergerakan DXY menuju level psikologis 100 saat ini masih tergolong moderat karena sebelumnya indeks dolar sempat turun cukup dalam sepanjang tahun lalu.
“Jadi saya kira DXY bergerak ke 100 juga bukan sesuatu yang luar biasa. Mengingat DXY sudah turun sangat besar selama tahun lalu. Jadi ibaratnya setahun yang lalu DXY itu sudah 110. Jadi turun hingga 95, lalu sekarang kembali ke 100, jadi sebenarnya masih cukup rendah,” ujar Lukman kepada KabarBursa.com, Kamis, 28 Mei 2026.
Menurut Lukman, penguatan dolar AS belakangan ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi geopolitik global.
“Perkembangan belakangan ini, walaupun dihadapkan pada harga minyak naik dan US Dollar menguat, sebenarnya penguatan dolar belum terlalu signifikan. Cuma memang pengaruhnya ke beberapa negara seperti Indonesia, Filipina, India, mungkin Korea dan Jepang, itu ada karena ketergantungan pada minyak dari Iran,” katanya.
Ia menilai dampak kenaikan dolar dan harga minyak terhadap Indonesia cukup besar karena berkaitan dengan subsidi energi dan APBN.
“Untuk Indonesia, kita bicara soal subsidi dan APBN, jadi memang sangat berdampak pada ekonomi Indonesia. Selain itu, faktor domestik Indonesia juga lebih mempengaruhi pelemahan rupiah saat ini,” ujar Lukman.
Menurut dia, kenaikan harga minyak dan eskalasi geopolitik membuat pasar mulai memperhitungkan kembali prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Kenaikan DXY yang terjadi belakangan ini, kata dia, turut menekan mata uang negara lain karena pasar khawatir harga minyak akan tetap tinggi akibat eskalasi geopolitik. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan prospek suku bunga AS dibanding negara ekonomi utama lain di dunia selain China.
Lukman mengatakan Amerika Serikat berada dalam posisi yang relatif lebih siap menghadapi kenaikan harga energi dibanding negara berkembang karena memiliki produksi minyak yang besar serta pertumbuhan ekonomi yang masih kuat.
“AS lebih siap menghadapi kondisi ini karena mereka juga memproduksi minyak dalam jumlah besar, mereka punya ruang untuk menaikkan suku bunga, pertumbuhan ekonominya cukup solid dan sebagainya. Jadi itulah yang menyebabkan DXY naik ketika ada krisis yang berkaitan dengan lonjakan harga minyak,” ujarnya.
Faktor Domestik Tekan Rupiah
Ia juga menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu penguatan dolar AS, melainkan dipengaruhi faktor domestik.
Lukman mengatakan penguatan dolar sejak Maret telah mendorong kenaikan ekspektasi suku bunga dan menekan hampir seluruh mata uang, termasuk rupiah. Namun, menurut dia, pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik seperti outflow di IHSG, isu MSCI, kekhawatiran investor terhadap independensi, hingga masalah defisit anggaran.
Menurut dia, tekanan domestik membuat rupiah melemah lebih besar dibanding dampak kenaikan dolar AS itu sendiri. “Jadi faktor domestik membuat rupiah melemah lebih besar dibanding kalau hanya karena faktor dolar semata. Jadi memang saling terkait. Namun intinya, pelemahan rupiah atau penguatan USD menyebabkan investor keluar dari obligasi maupun ekuitas,” ujarnya.
Sementara itu, Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, menilai pasar global saat ini sedang menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS.
“Ketika indeks dolar AS (DXY) merangkak naik mendekati level psikologis 100 bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah, pasar global sebenarnya sedang melakukan kalkulasi ulang terhadap risiko inflasi baru dan pengetatan likuiditas,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Kamis, 28 Mei 2026.
Menurut dia, eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan lonjakan harga energi membuat pasar mulai memperhitungkan kembali arah kebijakan Federal Reserve.
“Konflik geopolitik ini secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah Brent mendekati area 95–100 dolar AS per barel,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memperkuat daya tarik aset berbasis dolar.
Menurut Wahyu, kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun dan 10 tahun terjadi karena investor memperkirakan suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer. Kondisi tersebut sekaligus membuat dolar AS semakin menarik karena dipandang sebagai aset aman di tengah kecemasan geopolitik dan menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif.
Menurut Wahyu, tekanan ke Indonesia masuk melalui jalur arus modal dan perdagangan. “Investor global yang menilai risiko di emerging market kini menjadi kurang sepadan dengan imbal hasilnya, mulai menarik modal mereka keluar (capital outflow),” katanya.
Ia mengatakan aksi jual investor asing di pasar saham dan obligasi domestik ikut menekan rupiah. Menurut Wahyu, aksi jual SBN dan saham di Bursa Efek Indonesia (IHSG) oleh investor asing menciptakan tekanan besar terhadap rupiah karena dana investasi kembali dikonversi ke dolar AS.
Ia juga menilai kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar meningkatkan risiko imported inflation bagi Indonesia karena biaya impor bahan baku dan energi menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah.
Meski demikian, Lukman menilai inflasi saat ini belum akan setinggi periode pasca pandemi COVID-19. “Waktu itu terjadi supply shock besar sehingga inflasi melonjak tinggi seperti di Inggris yang sempat mencapai sekitar 8 persen. Saya kira sekarang tidak akan sampai seperti itu,” ujarnya.(*)