KABARBURSA.COM – Penguatan indeks utama Asia hari ini dipimpin kenaikan pasar Jepang dan Hong Kong. Kenaikan terjadi seiring ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat yang kembali mendorong minat investor terhadap aset berisiko, sementara pelaku pasar tetap menunggu arah data ekonomi global berikutnya.
Di Tokyo, indeks Nikkei 225 ditutup menguat 667,78 poin atau 1,18 persen ke posisi 57.234,27. Kenaikan ini terjadi seiring aksi beli lanjutan pada saham-saham unggulan Jepang, meskipun pelaku pasar masih menahan posisi besar menjelang rilis data ekonomi utama Amerika Serikat.
Sentimen pasar global turut dipengaruhi oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS. “Pasar mulai ‘menggoda’ kemungkinan mem-price-in pemangkasan suku bunga ketiga,” kata Kyle Rodda, analis senior di Capital.com, dikutip Reuters, 16 Februari 2026.
Pernyataan ini mencerminkan harapan bahwa pelonggaran suku bunga dapat menopang minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham Asia.
Di Seoul, indeks Kospi turun 15,26 poin atau 0,28 persen ke level 5.507,01. Pelemahan tipis tersebut mencerminkan aksi ambil untung investor setelah penguatan sebelumnya, sambil menunggu arah sentimen global berikutnya.
Sementara itu di Hong Kong, indeks Hang Seng naik 138,82 poin atau 0,52 persen menjadi 26.705,94, mencerminkan minat beli selektif pada saham-saham berkapitalisasi besar di tengah perdagangan yang masih berhati-hati.
Di pasar Tiongkok daratan, indeks SSE Composite di Shanghai melemah 51,95 poin atau 1,26 persen ke posisi 4.082,07, menunjukkan investor masih menimbang prospek pertumbuhan ekonomi kawasan.
Fokus investor Asia juga tertuju pada perkembangan ekonomi Amerika Serikat yang dinilai dapat memengaruhi selera risiko global. “Ekonom kami memperkirakan pertumbuhan PDB riil AS melambat ke 2,5 persen pada kuartal IV, turun bermakna dari 4,4 persen pada kuartal sebelumnya,” ujar Jim Reid, analis strategi di Deutsche Bank, juga dikutip Reuters.
Pergerakan bursa Asia hari ini menunjukkan investor masih menimbang peluang kenaikan lanjutan pasar saham kawasan sembari mencermati perkembangan kebijakan moneter dan data ekonomi global selanjutnya.(*)