Logo
>

Emas Bangkit di Tengah Tarif Trump dan Memanasnya Timur Tengah

Ketidakpastian tarif impor AS dan risiko Iran dorong harga emas bertahan di atas USD5000 per ons, perak ikut melonjak.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Emas Bangkit di Tengah Tarif Trump dan Memanasnya Timur Tengah
Harga emas menguat didorong ketidakpastian tarif AS dan ketegangan Timur Tengah, bertahan di atas USD5000 per ons. Foto: Xinhua

KABARBURSA.COM — Harga emas kembali menemukan pijakan setelah terpukul pada awal bulan, ditopang ketidakpastian arah kebijakan dagang Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Logam mulia itu naik hingga 1,4 persen pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, dan memulihkan sebagian kerugian dari sesi sebelumnya. Pada saat yang sama, perak melesat dan menembus USD90 per ons atau sekitar Rp1,52 juta per ons.

Penguatan emas terjadi ketika pelaku pasar mencoba membaca arah kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang belum sepenuhnya jelas. Pemerintahan Presiden Donald Trump mulai memberlakukan tarif impor umum 10 persen, tetapi rencana kenaikan menjadi 15 persen masih sebatas wacana. Di sisi lain, Washington juga menyiapkan serangkaian investigasi keamanan nasional terhadap sejumlah produk impor seperti baterai dan bahan kimia industri, langkah yang membuka ruang bagi tarif tambahan.

Kondisi tersebut menambah ketidakpastian di pasar keuangan global. Kekhawatiran terhadap dampak kebijakan ini terhadap defisit anggaran Amerika Serikat, nilai tukar dolar, dan pasar obligasi pemerintah mendorong investor kembali mencari aset lindung nilai.

“Ini akan memiliki implikasi dramatis terhadap defisit anggaran AS, dolar AS, dan obligasi pemerintah,” kata Direktur Strategi Komoditas BNP Paribas David Wilson, dikutip dari Yahoo Finance, Kamis, 26 Februari 2026.

Di saat yang sama, ketegangan geopolitik ikut menjadi penopang harga. Peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat menjelang putaran baru perundingan nuklir dengan Iran memicu permintaan terhadap aset aman. Emas kini bertahan di atas USD5000 per ons atau sekitar Rp84,25 juta per ons, setelah berhasil memulihkan lebih dari separuh koreksi tajam yang terjadi dalam dua hari perdagangan pada pergantian bulan. Level tersebut menjadi sinyal bahwa tren naik jangka panjang belum sepenuhnya patah.

Kepala Strategi Makro Asia JP Morgan Private Bank Yuxuan Tang melihat peluang penguatan lanjutan masih terbuka. “Sepertinya penembusan ke atas sedang terbentuk,” ujarnya. Ketidakpastian tarif dan risiko Iran dinilai bisa menjadi katalis bagi perubahan arah yang lebih berkelanjutan.

Selain faktor geopolitik dan kebijakan dagang, kekhawatiran terhadap meningkatnya utang pemerintah juga mendorong apa yang dikenal sebagai debasement trade. Dalam situasi ini, investor beralih ke aset keras seperti emas karena khawatir terhadap inflasi atau pelemahan mata uang dolar. Faktor tersebut menjadi pendorong utama reli emas dalam beberapa tahun terakhir sebelum sempat terkoreksi pada akhir Januari.

Namun laju kenaikan emas masih dibayangi kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga cenderung kurang menarik ketika suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins mengatakan suku bunga kemungkinan tetap tidak berubah untuk beberapa waktu karena data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih kuat.

Risalah rapat kebijakan bank sentral Amerika Serikat pada Januari juga menunjukkan para pejabat masih berhati-hati untuk memangkas biaya pinjaman. Sikap tersebut menjadi pengingat bahwa arah emas tidak hanya ditentukan oleh ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif, tetapi juga oleh jalur suku bunga yang akan ditempuh bank sentral.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).