KABARBURSA.COM - Harga emas bergerak nyaris tanpa arah pada perdagangan Kamis. Pelaku pasar memilih bersikap vigil, menahan manuver sembari mencermati perkembangan terbaru dari putaran ketiga perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa.
Emas spot tercatat di level USD5.168,72 per ons pada pukul 01.37 WIB. Di saat yang sama, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup melemah 0,6 persen ke posisi USD5.194,20 per ons. Informasi tersebut dilaporkan oleh Reuters dari Bengaluru, Jumat 27 Februari dini hari WIB.
Analis FOREX.com, Razan Hilal, menuturkan bahwa emas dan perak kini tengah berupaya menembus area resistance masing-masing di USD5.200 dan USD90. Namun dorongan itu belum cukup kukuh untuk dipertahankan. Situasi tersebut membuka celah koreksi apabila dalam waktu dekat tercapai kompromi geopolitik yang signifikan, ujarnya.
Sorotan investor kini terkonsentrasi pada negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran. Seorang pejabat senior Iran menyampaikan bahwa peluang tercapainya kerangka kesepakatan tetap terbuka, dengan prasyarat Amerika Serikat memisahkan isu nuklir dari agenda non-nuklir. Sebuah dikotomi yang sensitif. Dan sarat implikasi.
Meski demikian, ia mengakui masih ada disparitas pandangan yang harus dijembatani dalam putaran ketiga dialog di Jenewa. Prosesnya belum konklusif. Dinamikanya masih cair.
Vice President Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pasar menaruh ekspektasi besar terhadap hasil perundingan tersebut. Banyak mata tertuju pada bagaimana babak ketiga ini akan berakhir. Namun terlepas dari itu, lanskap global tetap dibayangi ketidakpastian yang persisten, kata Grant.
Logam mulia kerap dipersepsikan sebagai instrumen lindung nilai—safe haven—ketika turbulensi geopolitik dan ekonomi meningkat. Dalam atmosfer yang gamang, emas menjadi jangkar psikologis bagi investor.
Grant menambahkan, sekalipun terbuka ruang koreksi jangka pendek, proyeksi jangka menengah masih konstruktif. Harga emas dinilai berpotensi menanjak menuju kisaran USD5.340,72 hingga USD5.400 per ons.
Di luar isu geopolitik, pasar juga memonitor kebijakan dagang Amerika Serikat. Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan tarif impor bagi sejumlah negara akan dinaikkan menjadi 15 persen atau lebih, dari sebelumnya 10 persen. Namun negara-negara yang terdampak belum diungkapkan secara spesifik.
Dari ranah domestik, klaim pengangguran di AS naik tipis pada pekan lalu. Meski demikian, tingkat pengangguran Februari diproyeksikan tetap stabil—merefleksikan pasar tenaga kerja yang masih resilien.
Pelaku pasar juga masih mengantisipasi langkah Federal Reserve yang diperkirakan memangkas suku bunga dua kali sepanjang 2026. Ekspektasi itu membentuk horizon kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Tak hanya emas, logam mulia lainnya turut tertekan. Harga perak spot merosot 2,5 persen menjadi USD87,14 per ons. Platinum terkoreksi 2,2 persen ke level USD2.236,37 per ons, sementara paladium menyusut 1,9 persen menjadi USD1.761,05 per ons. Sebuah koreksi serentak. Pasar masih menimbang arah.(*)