Logo
>

The Fed Tahan Suku Bunga di 3,6 Persen, Inflasi Masih Jadi Ganjalan

Bank sentral AS memilih menahan suku bunga acuan sambil menunggu inflasi benar-benar melandai, di tengah tekanan politik dan tarif dagang.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
The Fed Tahan Suku Bunga di 3,6 Persen, Inflasi Masih Jadi Ganjalan
The Fed menahan suku bunga di 3,6 persen karena inflasi AS belum turun ke target, meski ekonomi tumbuh kuat dan tekanan politik meningkat. Foto: Dok. KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Bank sentral Amerika Serikat memilih menahan napas. Setelah tiga kali memangkas suku bunga tahun lalu, Federal Reserve pada Kamis, 29 Januari 2026, memutuskan untuk tidak melanjutkan pemotongan, menjaga suku bunga acuannya tetap di kisaran 3,6 persen. Keputusan ini datang di tengah gambaran ekonomi yang dinilai mulai menemukan pijakan, meski tekanan politik dan bayang-bayang inflasi belum sepenuhnya sirna.

    Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan prospek ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perbaikan yang jelas sejak pertemuan terakhir pada Desember. Perkembangan itu, menurut dia, akan memberi dorongan bertahap pada penyerapan tenaga kerja. Bank sentral juga menilai ada tanda-tanda pasar kerja mulai stabil, sebuah sinyal yang selama ini ditunggu pelaku pasar.

    Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga dan tingkat pengangguran yang terlihat mendatar, pejabat The Fed menilai tidak ada urgensi untuk terburu-buru memangkas suku bunga lagi. Sebagian besar pembuat kebijakan memang masih membuka kemungkinan penurunan suku bunga lanjutan tahun ini. Namun, mereka ingin lebih dulu melihat bukti bahwa inflasi yang bandel benar-benar bergerak mendekati target bank sentral di level 2 persen. Berdasarkan indikator inflasi pilihan The Fed, laju harga tercatat 2,8 persen pada November, sedikit lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya.

    Michael Gapen, kepala ekonom Amerika Serikat di Morgan Stanley, menilai Powell masih menjaga ruang bagi pemangkasan suku bunga lanjutan. “Ketika mereka mendapatkan cukup bukti bahwa inflasi benar-benar melambat,” kata Gapen, mengutip sikap Powell. Dalam pernyataannya, Powell juga menyinggung dampak tarif impor yang selama ini mendorong kenaikan harga barang seperti furnitur, peralatan rumah tangga, hingga mainan. Ia memperkirakan efek tarif tersebut akan mencapai puncaknya pada pertengahan tahun ini sebelum inflasi kembali menurun.

    Situasi The Fed kali ini tidak biasa. Pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump, Powell harus menjawab pertanyaan yang melampaui kebijakan moneter, namun berpotensi memengaruhi cara bank sentral menjalankan mandatnya ke depan. Dua pejabat The Fed tercatat menyampaikan perbedaan pendapat dalam keputusan Kamis tersebut. Gubernur Stephen Miran dan Christopher Waller memilih pemangkasan suku bunga seperempat poin.

    Miran, yang ditunjuk Trump pada September lalu, sebelumnya juga beberapa kali mendorong pemotongan lebih agresif. Sementara Waller disebut-sebut tengah dipertimbangkan Gedung Putih untuk menggantikan Powell, yang masa jabatannya berakhir pada Mei.

    Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga hampir pasti memantik kritik lanjutan dari Trump, yang kerap menyerang Powell karena dianggap kurang agresif menurunkan suku bunga jangka pendek. Padahal, penurunan suku bunga acuan biasanya ikut menurunkan biaya kredit, mulai dari kredit pemilikan rumah, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan usaha, meski suku bunga pasar tetap dipengaruhi faktor lain.

    Pertanyaan besar kini adalah berapa lama The Fed akan bertahan di posisi menunggu. Di internal bank sentral, terdapat perbedaan pandangan antara kelompok yang ingin menahan suku bunga sampai inflasi benar-benar turun dan mereka yang mendorong pelonggaran lebih lanjut demi mendukung penciptaan lapangan kerja.

    Powell memberi sinyal bahwa ruang pemangkasan ke depan mungkin tidak terlalu besar. Ia menunjuk pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 4,4 persen pada kuartal Juli hingga September sebagai bukti bahwa suku bunga saat ini belum cukup tinggi untuk menghambat laju ekonomi.

    Pada Desember lalu, hanya 12 dari 19 peserta rapat The Fed yang mendukung setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Mayoritas ekonom memproyeksikan pemangkasan akan terjadi dua kali, kemungkinan mulai Juni atau setelahnya.

    Di atas semua itu, kebijakan dagang pemerintah Amerika Serikat tetap menjadi bayang-bayang dalam pengambilan keputusan The Fed. Saat ditanya apakah dampak tarif sudah sepenuhnya tercermin dalam inflasi, Powell menjawab sebagian besar sudah.

    Ia menilai pajak impor cenderung berdampak satu kali pada kenaikan harga. “Ekspektasinya, kita akan melihat efek tarif mengalir melalui harga barang, mencapai puncak, lalu mulai turun, dengan asumsi tidak ada kenaikan tarif besar yang baru,” kata Powell, dikutip dari AP, Kamis, 29 Januari 2026.

    Tekanan terhadap The Fed tidak berhenti di soal kebijakan suku bunga. Pekan ini, Powell mengungkapkan bahwa bank sentral menerima panggilan paksa dari Departemen Kehakiman terkait penyelidikan pidana atas kesaksiannya di Kongres mengenai proyek renovasi gedung senilai USD2,5 miliar atau sekitar Rp42,1 triliun.

    Dalam pernyataan video yang jarang dilakukan, Powell menyebut panggilan tersebut sebagai dalih untuk menghukum The Fed karena tidak memangkas suku bunga lebih cepat. Pada Rabu, ia memilih tidak menambahkan komentar lebih lanjut.

    Sementara itu, Mahkamah Agung Amerika Serikat pekan lalu juga mulai menangani upaya Trump untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook atas tuduhan penipuan kredit perumahan, yang dibantah Cook. Sepanjang 112 tahun sejarah The Fed, belum pernah ada presiden yang memecat seorang gubernur.

    Dalam sidang awal, para hakim tampak condong membiarkan Cook tetap menjabat hingga perkara selesai. Ditanya alasan menghadiri sidang tersebut, Powell mengatakan kasus ini mungkin yang paling penting dalam sejarah hukum The Fed dan sulit baginya untuk tidak hadir.

    Ketika ditanya apakah ia yakin The Fed bisa mempertahankan independensinya, Powell menjawab singkat namun tegas. “Ya,” katanya. “Saya sangat berkomitmen pada itu dan begitu juga rekan-rekan saya.”

    Trump sendiri memberi sinyal akan segera menunjuk ketua The Fed yang baru untuk menggantikan Powell setelah Mei. Pengumuman itu bisa datang kapan saja, meski sebelumnya beberapa kali tertunda. Sejumlah ekonom menilai tekanan Trump justru berbalik arah, karena senator Partai Republik menyatakan dukungan kepada Powell dan mengancam akan menghambat calon pengganti pilihan presiden.

    Powell masih memiliki opsi bertahan sebagai gubernur The Fed setelah masa jabatannya berakhir, namun ia mengaku belum mengambil keputusan. Saat diminta memberi nasihat kepada penerusnya, Powell menjawab lugas. “Jangan terlibat dalam politik elektoral. Jangan lakukan itu,” ujarnya.

    Dari sisi pasar, Wall Street sejak awal memperkirakan The Fed akan bertahan setidaknya hingga Juni. Dari 19 anggota komite penentu suku bunga, 12 memiliki hak suara, termasuk tujuh gubernur, Presiden The Fed New York, serta empat presiden bank regional yang bergilir.

    Tahun ini, Beth Hammack dari Cleveland, Neel Kashkari dari Minneapolis, Lorie Logan dari Dallas, dan Anna Paulson dari Philadelphia termasuk dalam jajaran pemilik suara. Semuanya belakangan menunjukkan sikap skeptis terhadap kebutuhan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

    Di luar gedung bank sentral, suasana hati konsumen Amerika Serikat masih suram. Indeks kepercayaan konsumen versi Conference Board turun ke level terendah dalam 11 tahun pada Januari. Namun Powell mencatat paradoks yang menarik. Meski pesimistis dalam survei, konsumen tetap berbelanja dengan laju yang cukup sehat dan ikut menopang ekonomi.

    “Ekonomi sekali lagi mengejutkan kita dengan kekuatannya,” kata Powell. “Belanja konsumen memang tidak merata antar kelompok pendapatan, tetapi secara keseluruhan angkanya masih baik.”(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).