Logo
>

Reli Emas Menguat, Sejumlah Saham Tambang Diproyeksikan Ikut Terangkat

Lonjakan harga emas dunia ke level tertinggi sepanjang masa membuka peluang sentimen positif bagi emiten tambang emas di pasar saham domestik.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Reli Emas Menguat, Sejumlah Saham Tambang Diproyeksikan Ikut Terangkat
Harga emas dunia terus menguat ke rekor baru. Reli ini berpotensi mendorong kinerja saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok. Jaringan Advokasi Tambang

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Harga emas dunia kembali menulis rekor baru. Logam mulia itu menembus level psikologis USD5.500 per ons dan mencetak all–time high di tengah meningkatnya kegelisahan pasar global terhadap arah geopolitik dan independensi bank sentral Amerika Serikat.

    Berdasarkan data pasar, harga emas spot melonjak 4,6 persen dan ditutup di kisaran USD5.417,2 per ons pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Penguatan belum berhenti. Pada Kamis pagi, 29 Januari 2026, harga emas kembali menanjak hingga menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di USD5.588,7 per ons, atau setara sekitar Rp94,2 juta per ons dengan kurs Rp16.850.

    Lonjakan harga emas ini mencerminkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Bloomberg melaporkan, reli emas didorong oleh apa yang disebut sebagai debasement trade, yakni pergeseran investor ke aset keras akibat kekhawatiran terhadap stabilitas geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

    Situasi tersebut terjadi bersamaan dengan keputusan Federal Reserve yang menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,5–3,75 persen. Meski tidak ada pemangkasan dalam rapat terbaru, pasar justru membaca sinyal berbeda. Spekulasi mengenai arah kebijakan The Fed ke depan kian menguat, terutama setelah mencuatnya nama eksekutif BlackRock, Rick Rieder, sebagai kandidat potensial ketua The Fed berikutnya.

    Rieder dikenal sebagai pendukung kebijakan suku bunga yang lebih longgar. Ekspektasi inilah yang ikut mendorong sentimen positif pada emas, yang secara historis cenderung menguat ketika pasar melihat peluang pelonggaran moneter dan pelemahan dolar AS.

    Analis Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin, menilai reli emas ini berpotensi membawa efek lanjutan ke pasar saham, khususnya emiten yang bergerak di sektor emas. “Kenaikan harga emas berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten di sektor emas,” tulis Theodorus dalam catatan hariannya, Kamis, 29 Januari 2026.

    Menurutnya, lonjakan harga emas dapat berdampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan tambang emas melalui peningkatan harga jual rata-rata atau average selling price serta peluang kenaikan volume transaksi. Emiten yang berpotensi terdorong antara lain BRMS, ARCI, EMAS, MDKA, PSAB, ANTM, hingga HRTA.

    Meski demikian, reli emas di level tertinggi ini juga menempatkan pasar pada fase yang lebih sensitif. Di satu sisi, emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset perlindungan nilai utama ketika ketidakpastian meningkat. Di sisi lain, volatilitas berpotensi membesar jika ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga AS tidak terealisasi secepat yang dibayangkan.

    Kenapa Emas Terus Diburu?

    Reli emas yang terjadi belakangan ini bukan sekadar lonjakan teknikal. Ada arus besar yang mendorongnya dari belakang layar pasar global. Permintaan investor dunia mengalir deras ke emas, bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga lewat produk ETF emas yang mencatat arus dana masuk di level tertinggi. Kondisi ini mencerminkan kebutuhan investor untuk melindungi portofolio dari risiko pasar yang kian sulit ditebak.

    Di tengah ketidakpastian global, emas kembali diposisikan sebagai jangkar. Investor memanfaatkannya sebagai alat lindung nilai ketika volatilitas meningkat dan kepercayaan terhadap aset keuangan lain mulai goyah. Pola ini terlihat dari diversifikasi portofolio yang semakin agresif, dengan emas menjadi pilihan utama di luar saham dan obligasi.

    Faktor lain yang tak kalah penting adalah melemahnya dolar Amerika Serikat. Dolar yang tertekan membuat emas dalam denominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor non-AS, sehingga permintaan global pun ikut terdorong. Pelemahan mata uang ini sekaligus memperkuat narasi emas sebagai aset lindung nilai terhadap risiko nilai tukar.

    Di sisi kebijakan, ketidakpastian arah moneter The Fed ikut memperpanjang napas reli emas. Meski suku bunga belum dipangkas, pasar membaca adanya peluang pelonggaran ke depan. Ekspektasi inilah yang membuat investor memilih bertahan di aset riil seperti emas, sambil menunggu kepastian arah kebijakan.

    Sementara itu, respons pasar global menunjukkan pola yang konsisten. Di tengah valuasi saham yang sudah tinggi dan imbal hasil obligasi yang relatif datar, emas kembali menjadi alternatif yang dianggap paling rasional. Dalam lanskap seperti ini, emas bukan sekadar komoditas, melainkan simbol kehati-hatian pasar dunia.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).