KABARBURSA.COM - Pergerakan harga emas global kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, di tengah perubahan sentimen makro yang cukup cepat.
Harga emas spot melonjak sekitar 1,6 persen ke level USD4.545 per ons setelah sempat naik lebih dari 2 persen di awal sesi, sementara kontrak berjangka di Amerika Serikat bahkan menguat hingga 3,3 persen.
Penguatan ini terjadi seiring pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak yang mengurangi tekanan inflasi serta ekspektasi kenaikan suku bunga global.
Namun, arah yang terbentuk di pasar global tersebut tidak sepenuhnya tercermin pada pergerakan saham emiten emas di dalam negeri. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) justru ditutup melemah 3,20 persen ke level 3.630, bergerak dari pembukaan di 3.660 dan sempat menyentuh level tertinggi di 3.720 sebelum kembali tertekan hingga mendekati level terendah 3.580.
Pola yang sama terlihat pada PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang turun 10,26 persen ke level 8.525, serta PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang terkoreksi 4,38 persen ke level 1.530.
Pergerakan ini menunjukkan adanya perbedaan arah antara harga komoditas dan saham sektor terkait dalam satu sesi perdagangan. Emas global bergerak naik didorong faktor eksternal seperti pelemahan dolar dan perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga, sementara saham-saham emiten emas di dalam negeri justru mengalami tekanan jual.
Dalam intraday, ketiga saham tersebut sempat mencoba bergerak naik, namun tekanan yang muncul di paruh kedua perdagangan membuat harga kembali turun hingga penutupan.
Kondisi ini terbentuk di tengah dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kemajuan negosiasi dengan Iran sempat mendorong penurunan harga minyak, tetapi dibantah oleh pihak Iran, menciptakan sinyal yang saling bertentangan di pasar.
Di sisi lain, penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, yang tercermin dari probabilitas hanya sekitar 16 persen untuk kenaikan pada Desember, menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan emas.
Perbedaan respons antara harga emas dan saham emiten juga terlihat dari pergerakan dalam satu hari perdagangan. Saham ANTM, EMAS, dan ARCI menunjukkan pola fluktuatif dengan kecenderungan melemah menjelang penutupan, meskipun sempat bergerak di zona yang lebih tinggi di awal sesi.
Hal ini mencerminkan adanya tekanan jual yang muncul setelah fase pembukaan, di tengah aktivitas pasar yang masih aktif.
Dalam satu rangkaian, kenaikan harga emas global yang didorong faktor makro berjalan bersamaan dengan pelemahan saham emiten emas di dalam negeri. Pergerakan yang berlawanan arah ini memperlihatkan bagaimana respons pasar saham dapat bergerak berbeda dalam jangka pendek, meskipun berada dalam sektor yang sama dengan komoditas acuannya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.