KABARBURSA.COM – Pergerakan harga emas menjelang Lebaran tahun ini bergerak di luar pola yang biasa terlihat pada periode musiman. Logam mulia justru mengalami penurunan tajam, baik di pasar global maupun domestik.
Di Pegadaian, harga emas dari tiga produk utama, yaitu Antam, UBS, dan Galeri24, serempak terkoreksi pada perdagangan Jumat, 20 Maret 2026. Emas Antam turun Rp50 ribu ke level Rp2.893.000 per gram, sementara emas UBS dan Galeri24 masing-masing terkoreksi Rp54 ribu ke posisi Rp2.972.000 dan Rp2.958.000 per gram.
Penurunan ini terlihat merata di seluruh ukuran. Pada emas Antam, harga 0,5 gram berada di Rp1.496.500 dan 10 gram di Rp28.564.000, sementara untuk ukuran 100 gram mencapai Rp283.512.000.
Di sisi lain, emas UBS untuk ukuran 10 gram diperdagangkan di Rp28.991.000 dan 100 gram di Rp288.623.000, sedangkan Galeri24 untuk ukuran yang sama masing-masing berada di Rp28.925.000 dan Rp287.325.000.
Struktur harga tersebut memperlihatkan bahwa penurunan terjadi secara konsisten di seluruh lini produk tanpa adanya pergeseran signifikan pada premium antar merek. Selisih harga antara UBS, Galeri24, dan Antam tetap berada dalam rentang yang relatif stabil, mencerminkan bahwa tekanan yang terjadi bersumber dari pergerakan harga dasar emas itu sendiri.
Emas Spot Anjlok 4,3 Persen
Di belakang pergerakan domestik tersebut, tekanan yang lebih besar datang dari pasar global. Harga emas spot tercatat turun 4,3 persen menjadi USD4.612,21 per ons, menyentuh level terendah sejak awal Februari.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup melemah lebih dalam, yakni 5,9 persen ke USD4.605,70 per ons.
Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan selama tujuh hari berturut-turut, sebuah fase yang jarang terjadi dalam tren harga emas yang sebelumnya bergerak menguat sepanjang 2025. Dalam periode tersebut, emas menjadi salah satu aset yang banyak dikoleksi investor institusi sebagai lindung nilai terhadap pelemahan mata uang.
Namun dalam beberapa hari terakhir, arah tersebut mulai berubah. Penguatan dolar AS dan kenaikan ekspektasi suku bunga menjadi faktor yang langsung memengaruhi pergerakan harga. Dalam kondisi suku bunga tinggi, instrumen yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik dibandingkan aset berbasis yield.
Pada saat yang sama, lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah justru mendorong kekhawatiran inflasi yang lebih luas. Harga minyak Brent melonjak hingga menembus USD110 per barel setelah serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral utama akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Dalam situasi tersebut, aliran dana mulai bergeser. Sejumlah pelaku pasar tercatat melakukan aksi ambil untung setelah reli panjang emas sepanjang tahun sebelumnya. Selain itu, kebutuhan likuiditas untuk memenuhi margin di tengah volatilitas pasar juga ikut mendorong pelepasan posisi di logam mulia.
Harga Logam Mulia Lain Terkoreksi
Tekanan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak turun 5,3 persen ke USD71,39 per ons, platinum melemah 3,7 persen ke USD1.949,20, dan paladium turun 2,4 persen menjadi USD1.440,29. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelemahan terjadi secara luas di seluruh kompleks logam mulia.
Kondisi global tersebut kemudian tercermin langsung pada harga domestik, termasuk di Pegadaian. Pola pergerakan yang biasanya menguat menjelang periode Lebaran kali ini justru bergerak sebaliknya, mengikuti tekanan yang datang dari pasar internasional serta perubahan arah aliran dana global.
Di tengah dinamika tersebut, harga emas domestik dan global kini bergerak dalam satu garis yang sama, dengan penurunan yang terjadi secara simultan di berbagai pasar dalam waktu yang berdekatan.(* )