Logo
>

Enam Saham Menguat Terbatas di Tengah IHSG yang Terseret Sentimen Global

Tekanan saham big caps dan gejolak geopolitik dorong IHSG turun di sesi pertama, saat bursa Asia bergerak bervariasi dan rupiah ikut melemah.

Ditulis oleh Yunila Wati
Enam Saham Menguat Terbatas di Tengah IHSG yang Terseret Sentimen Global
Gerak IHSG kembali melemah seiring ketidakpastian situasi keamanan global. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – IHSG membuka perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, dengan langkah yang tidak sepenuhnya mulus, seiring tekanan eksternal yang kembali membayangi pergerakan pasar. Di tengah ketidakpastian arah geopolitik global, indeks bergerak melemah sejak awal sesi dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama.

Pada perdagangan sesi I, IHSG turun 63 poin atau 0,88 persen ke level 7.101. Tekanan tampak cukup merata, dengan indeks gagal mempertahankan momentum penguatan yang sempat terbentuk pada hari sebelumnya. Aktivitas pasar tetap tinggi, dengan volume transaksi mencapai 106,0 juta lot dan nilai transaksi sebesar Rp57,15 triliun.

Dari sisi pergerakan saham, tekanan terlihat dominan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham-saham seperti AMRT, BREN, MBMA, ASII, AADI, BBTN, dan ITMG masuk dalam jajaran top losers LQ45.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi juga menyasar saham-saham dengan bobot besar di indeks. Di sisi lain, penguatan terbatas masih muncul pada saham seperti ANTM, CPIN, ADMR, AKRA, PGEO, dan AMMN.

Secara sektoral, hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,39 persen. Sementara itu, sektor perindustrian menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,53 persen. 

Saham-saham seperti INDS yang turun 9,68 persen, ASII 2,80 persen, hingga UNTR dan SMSM masing-masing melemah 1,22 persen, memperlihatkan tekanan yang cukup dalam di sektor ini.

Bursa Asia Bergerak Bervariasi

Arah pergerakan IHSG juga tidak terlepas dari dinamika global yang masih bergejolak. Bursa saham Asia pada hari yang sama bergerak bervariasi, mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan terbaru di Timur Tengah. 

Ketidakpastian terkait prospek gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang tenggat waktu potensi serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari hingga 6 April. Langkah ini disebut sebagai bagian dari ruang negosiasi yang diminta oleh Iran, di tengah laporan bahwa sejumlah kapal tanker minyak telah melintasi Selat Hormuz. 

Namun, pernyataan yang saling bertolak belakang antara kedua pihak membuat arah negosiasi masih belum jelas.

Di kawasan Asia, pergerakan indeks utama menunjukkan pola yang tidak seragam. Indeks Shanghai naik 0,26 persen dan Shenzhen Composite menguat 0,93 persen, sementara Hang Seng bertambah 0,54 persen. 

Sebaliknya, tekanan terlihat pada Kospi yang turun 1,66 persen dan Taiex melemah 1,27 persen, menunjukkan bahwa sebagian pasar masih merespons risiko global secara lebih defensif.

Tekanan dari global juga tercermin dari kinerja Wall Street yang sebelumnya ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun 1,7 persen, menjadi penurunan harian terbesar sejak awal tahun 2026. Nasdaq Composite turun lebih dalam sebesar 2,4 persen hingga masuk ke wilayah koreksi, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 1,01 persen.

Rupiah Melemah, Yen Menguat Tipis

Pergerakan mata uang di kawasan Asia turut mencerminkan kondisi yang serupa. Rupiah tercatat melemah 0,28 persen ke level 16.952 per dolar AS, sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang regional seperti rupee dan ringgit. 

Di sisi lain, yen justru menguat tipis, menunjukkan adanya pergeseran sebagian aliran dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Kombinasi antara tekanan global, pergerakan bursa regional yang bervariasi, serta pelemahan pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat IHSG bergerak dalam tekanan pada sesi pertama perdagangan hari ini. 

Dinamika ini memperlihatkan bahwa arah pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, terutama yang berkaitan dengan geopolitik dan pergerakan pasar global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79