KABARBURSA.COM – IHSG membuka perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, dengan langkah yang tidak sepenuhnya mulus, seiring tekanan eksternal yang kembali membayangi pergerakan pasar. Di tengah ketidakpastian arah geopolitik global, indeks bergerak melemah sejak awal sesi dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama.
Pada perdagangan sesi I, IHSG turun 63 poin atau 0,88 persen ke level 7.101. Tekanan tampak cukup merata, dengan indeks gagal mempertahankan momentum penguatan yang sempat terbentuk pada hari sebelumnya. Aktivitas pasar tetap tinggi, dengan volume transaksi mencapai 106,0 juta lot dan nilai transaksi sebesar Rp57,15 triliun.
Dari sisi pergerakan saham, tekanan terlihat dominan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham-saham seperti AMRT, BREN, MBMA, ASII, AADI, BBTN, dan ITMG masuk dalam jajaran top losers LQ45.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi juga menyasar saham-saham dengan bobot besar di indeks. Di sisi lain, penguatan terbatas masih muncul pada saham seperti ANTM, CPIN, ADMR, AKRA, PGEO, dan AMMN.
Secara sektoral, hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,39 persen. Sementara itu, sektor perindustrian menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,53 persen.
Saham-saham seperti INDS yang turun 9,68 persen, ASII 2,80 persen, hingga UNTR dan SMSM masing-masing melemah 1,22 persen, memperlihatkan tekanan yang cukup dalam di sektor ini.
Bursa Asia Bergerak Bervariasi
Arah pergerakan IHSG juga tidak terlepas dari dinamika global yang masih bergejolak. Bursa saham Asia pada hari yang sama bergerak bervariasi, mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan terbaru di Timur Tengah.
Ketidakpastian terkait prospek gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang tenggat waktu potensi serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari hingga 6 April. Langkah ini disebut sebagai bagian dari ruang negosiasi yang diminta oleh Iran, di tengah laporan bahwa sejumlah kapal tanker minyak telah melintasi Selat Hormuz.
Namun, pernyataan yang saling bertolak belakang antara kedua pihak membuat arah negosiasi masih belum jelas.
Di kawasan Asia, pergerakan indeks utama menunjukkan pola yang tidak seragam. Indeks Shanghai naik 0,26 persen dan Shenzhen Composite menguat 0,93 persen, sementara Hang Seng bertambah 0,54 persen.
Sebaliknya, tekanan terlihat pada Kospi yang turun 1,66 persen dan Taiex melemah 1,27 persen, menunjukkan bahwa sebagian pasar masih merespons risiko global secara lebih defensif.
Tekanan dari global juga tercermin dari kinerja Wall Street yang sebelumnya ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun 1,7 persen, menjadi penurunan harian terbesar sejak awal tahun 2026. Nasdaq Composite turun lebih dalam sebesar 2,4 persen hingga masuk ke wilayah koreksi, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 1,01 persen.
Rupiah Melemah, Yen Menguat Tipis
Pergerakan mata uang di kawasan Asia turut mencerminkan kondisi yang serupa. Rupiah tercatat melemah 0,28 persen ke level 16.952 per dolar AS, sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang regional seperti rupee dan ringgit.
Di sisi lain, yen justru menguat tipis, menunjukkan adanya pergeseran sebagian aliran dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Kombinasi antara tekanan global, pergerakan bursa regional yang bervariasi, serta pelemahan pada saham-saham berkapitalisasi besar membuat IHSG bergerak dalam tekanan pada sesi pertama perdagangan hari ini.
Dinamika ini memperlihatkan bahwa arah pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, terutama yang berkaitan dengan geopolitik dan pergerakan pasar global.(*)