KABARBURSA.COM – Euforia pasar saham global yang sempat membuat investor terlena mendadak buyar. Setelah sembilan hari berturut-turut mencetak penguatan, indeks S&P 500 akhirnya tumbang dan menyeret mayoritas bursa Asia ke zona merah pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.
Sentimen yang memicu perubahan arah pasar datang dari dua sumber sekaligus. Di satu sisi, harga minyak kembali bergejolak akibat memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran. Di sisi lain, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran baru mengenai biaya pinjaman yang semakin mahal bagi dunia usaha.
Bursa Asia menjadi korban pertama dari perubahan sentimen tersebut. Dilansir dari AP, Kamis, 4 Juni 2026, indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 1,9 persen ke level 67.101,83. Aksi ambil untung menghantam saham-saham teknologi yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar.
Saham SoftBank Group terperosok 10,4 persen, sementara Shin-Etsu Chemical turun 3,8 persen. Tekanan juga merembet ke kawasan lain. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,3 persen menjadi 25.299,29. Indeks Shanghai Composite China terkoreksi 0,4 persen ke level 4.067,46.
Di Korea Selatan, indeks Kospi jatuh 1,7 persen menjadi 8.651,87. Bursa Australia juga tak luput dari tekanan setelah indeks S&P/ASX 200 terkoreksi 1,5 persen ke level 8.657,40. Di Indonesia, IHSG merosot 288,30 poin atau 4,85 persen ke level 5.652,76, memperpanjang tren pelemahan tajam yang telah terjadi sejak perdagangan sebelumnya.
Pelemahan tersebut terjadi setelah Wall Street kehilangan tenaga pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 turun 0,7 persen ke level 7.553,68. Penurunan ini menjadi koreksi pertama setelah sembilan sesi perdagangan berturut-turut ditutup menguat.
Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 1,2 persen dan berakhir di posisi 50.687,07. Sementara Nasdaq Composite melemah 0,9 persen ke level 26.853,98.
Salah satu saham yang membebani pasar adalah Palo Alto Networks. Emiten keamanan siber itu turun 5,6 persen meskipun berhasil membukukan laba yang melampaui ekspektasi analis. Namun, masalah utama pasar saat ini bukan semata soal laporan keuangan perusahaan.
Investor mulai khawatir dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang bergerak seiring lonjakan harga minyak.
Yield Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,49 persen dari sebelumnya 4,46 persen. Sebagai perbandingan, sebelum perang Iran pecah, yield obligasi tersebut masih berada di level 3,97 persen.
Kenaikan yield menjadi perhatian serius karena dapat memperlambat aktivitas ekonomi global. Pinjaman menjadi lebih mahal, investasi baru berpotensi tertunda, dan konsumsi masyarakat dapat melemah.
Dampaknya bahkan sudah mulai terasa di sektor perumahan Amerika Serikat. Suku bunga kredit pemilikan rumah jangka panjang kini berada pada level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir.
Biaya pendanaan yang lebih mahal juga berpotensi mengganggu ekspansi pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang selama ini menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Perusahaan-perusahaan kecil menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi situasi tersebut.
Banyak dari mereka mengandalkan pinjaman untuk memperluas bisnis. Akibatnya, indeks Russell 2000 yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil turun 1,3 persen, lebih dalam dibandingkan pelemahan indeks utama lainnya.
Data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis pada Rabu sebenarnya memberikan gambaran yang bercampur.
Laporan Institute for Supply Management menunjukkan sektor jasa seperti konstruksi dan pertanian tumbuh lebih cepat dibandingkan perkiraan ekonom pada bulan lalu.
Namun survei yang sama juga memperlihatkan dunia usaha mulai merasakan tekanan akibat tarif perdagangan dan kenaikan harga minyak. Meski begitu, pasar saham global sejauh ini masih bertahan relatif kuat.
Indeks-indeks utama masih bergerak dekat level tertinggi sepanjang masa meskipun inflasi dan ketegangan geopolitik terus membayangi perekonomian dunia. Harapan investor kini bertumpu pada perkembangan terbaru di Timur Tengah.
Pelaku pasar berharap Amerika Serikat dan Iran pada akhirnya dapat membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker minyak. Jika jalur tersebut kembali normal, pasokan minyak dunia berpotensi mengalir lebih lancar sehingga tekanan harga energi dapat mereda.
Di pasar komoditas, harga minyak justru bergerak turun setelah reli tajam sehari sebelumnya. Minyak Brent turun USD1,17 per barel atau sekitar Rp21.060 menjadi USD96,64 per barel (Rp1,74 juta per barel).
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah USD1,08 menjadi USD94,94 per barel (Rp1,71 juta per barel). Pada perdagangan saham individual, GameStop melonjak 6 persen setelah perusahaan melaporkan pertumbuhan pendapatan 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perusahaan penjual gim video itu juga mengumumkan program pembelian kembali saham senilai hingga USD2 miliar (sekitar Rp36 triliun).
Saham Macy’s turut menguat 0,6 persen. Peritel tersebut berhasil mencatatkan laba yang melampaui perkiraan analis setelah melakukan pembenahan produk dan peningkatan layanan pelanggan.
Di pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat melemah tipis terhadap yen Jepang menjadi 159,90 yen dari sebelumnya 160,08 yen. Sementara euro menguat ke level USD1,1610 dari posisi USD1,1600 sehari sebelumnya.
Di tengah berbagai gejolak tersebut, pesan pasar sebenarnya cukup jelas. Setelah berbulan-bulan menikmati reli yang nyaris tanpa hambatan, investor kembali diingatkan bahwa perang, harga minyak, dan biaya utang tetap menjadi tiga faktor yang mampu menghentikan pesta kapan saja.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.